Studium Generale PID ke 23: Instruktur sebagai Jawaban atas Tantangan Perkaderan IMM Hari Ini

calendar_today 22 Jul 2026 schedule 3 Menit visibility 7 thumb_up share 0

Pada hari Rabu tanggal 15 Juli 2026, bertempat di Hall Baroroh Baried Universitas Aisyiyah Yogyakarta, telah diselenggarakan agenda pembukaan Studium Generale Pelatihan Instruktur Dasar (PID) yang dilaksanakan secara resmi oleh Korps Instruktur Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) AR Fakhruddin Kota Yogyakarta. Agenda ini berlangsung mulai pukul 19.30 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB dengan mengangkat sebuah tema, yakni “Penguatan Peran dan Fungsi Instruktur sebagai Upaya Transformasi Perkaderan”. Acara diawali dengan penyampaian laporan sekaligus sambutan resmi dari Ketua Korps Instruktur PC IMM AR Fakhruddin, Immawati Ardinnaila Hafizhati Keisha Yumna. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan rincian administratif mengenai proses seleksi ketat yang telah dilalui oleh seluruh calon peserta sebelum berhak mengikuti pelatihan. Setelah melalui proses administratif serta tahapan wawancara yang dilakukan secara objektif oleh korps instruktur, dinyatakan ada 26 calon peserta yang berhasil lolos melanjutkan perjuangan hingga tahapan Pelatihan Instruktur Dasar ini. Immawati Ardin menegaskan harapan besarnya agar ke-26 peserta terpilih ini memiliki keteguhan komitmen untuk menuntaskan seluruh rangkaian proses perkaderan ini hingga akhir tanpa ada yang hilang di tengah jalan.

Pada sesi berikutnya, sambutan Pimpinan Cabang AR Fakhruddin oleh Aji Setyo Nugroho selaku Ketua Bidang Kader. Beliau memberikan penegasan mengenai urgensi bagi seluruh elemen instruktur untuk senantiasa meluruskan niat dalam berjuang. Menjadi seorang instruktur bukanlah momentum untuk membawa, menonjolkan, ataupun menaikkan reputasi pribadi di hadapan kader, melainkan sebuah amanah ideologis yang menuntut pembuktian nyata sebagai motor penggerak transformasi perkaderan. Beliau juga menyoroti realitas yang tengah terjadi per hari ini, di mana banyak kader tingkat komisariat yang melayangkan autokritik tajam terhadap sistem perkaderan AR Fakhruddin, namun tidak memiliki landasan argumen yang ilmiah.

Memasuki materi inti Studium Generale, pemaparan materi mengenai pilar-pilar teoretis dan operasional yang wajib dimiliki oleh seorang instruktur. Materi disampaikan oleh Sobar M. Johari, M.Sc., Ph.D. selaku Instruktur Paripurna pada masanya. Beliau menyampaikan bahwa seorang kader yang memutuskan naik ke level pada tingkat instruktur wajib menempatkan kapasitas intelektual serta integritas pribadinya pada tingkatan yang lebih tinggi (leader or driver level) seiring dengan jenjang kaderisasi yang diikutinya. Pemikiran ini berasal dari konsep Cendekiawan berdasarkan pemikiran filosofis Ali Syariati, yang mendefinisikan cendekiawan sebagai individu yang telah mendapatkan pencerahan dan memancarkan masyarakat di sekelilingnya. Tugas instruktur adalah menjadi figur sentral yang memiliki sikap proaktif serta inisiatif tinggi dalam memimpin arah perkaderan sekaligus memimpin integritas dirinya sendiri.

Untuk mempermudah pemahaman peserta, materi dijabarkan melalui sebuah analogi profesi. Apabila seorang kader IMM menempuh latar belakang pendidikan sebagai seorang Dokter Gigi, maka ketika ia menyandang status sebagai kader dan instruktur IMM, ia dituntut untuk memiliki lompatan berpikir yang visioner. Sebagai contoh, ia harus mampu merumuskan konsep jaminan layanan kedokteran gigi gratis berbasis kemaslahatan umat, serta konsisten menghidupkan syiar pergerakan, seperti mendirikan dan mengoptimalkan wadah gerakan IMM yang lebih progresif setiap hari Jumat. Landasan moralitas sosial ini juga diperkuat oleh rekam jejak ketokohan Din Syamsuddin yang diakui kredibilitasnya oleh kalangan profesor internasional di Australia. Keteladanan tersebut menjadi refleksi penting bagi kader agar tidak pernah menutup mata terhadap degradasi moral maupun kesenjangan sosial yang terjadi di tengah realitas masyarakat luas.

Penghujung acara, dilakukan pembahasan kritis mengenai indikator keberhasilan seorang instruktur. Forum menyepakati bahwa keberhasilan sejati dari seorang instruktur tidak diukur berdasarkan materi yang dikuasai, melainkan diukur secara kualitatif ketika ia merasa bangga melihat semakin banyak kader bimbingannya yang tumbuh menjadi figur yang sukses dan bermanfaat. Kesuksesan tersebut merupakan buah dari keikhlasan instruktur dalam mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, serta ego pribadinya demi keberlangsungan kaderisasi.

Bagaimana menurut Anda artikel ini?

Tautan berhasil disalin!

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

menu_book

Daftar Isi

    0%