Mengungkap Permasalahan Pariwisata dan Sampah di Pantai Bantul

Oleh: Indah Synindia Kliwangsa

Sektor pariwisata di Indonesia berkembang pesat dari tahun ketahun. Dapat dilihat dari penambahan devisa yang terus bertambah. Berdasarkan laporan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif target nilai devisa wisata yang awalnya US$1,71 miliar naik tiga kali lipat menjadi US$4,26 miliar pada November 2022. Selain itu, sektor pariwisata juga menjadi sektor unggulan selain sektor migas dan nonmigas. Pemerintah memperhitungankan sektor tersebut jika terjadi kehabisan seperti cadangan minyak bumi yang selalu menjadi andalan pemasukan devisa negara.

Pariwisata yang berkembang juga berdampak pada ekonomi dan lingkungan. Dengan adanya pariwisata maka dapat membuka lapangan kerja baru sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, pariwisata juga berefek terhadap lingkungan seperti alih fungsi lahan serta penumpukan sampah jika tidak dikelola dengan baik. Maka dari itu, perlunya pengelolaan pariwisata yang baik demi mewujudkan wisata yang berkelanjutan.

Berbicara mengenai tempat wisata, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah tujuan wisata kedua setelah Bali. Daya Tarik wisata di Yogyakarta seperti wisata sejarah, budaya, dan alam menjadikan datangnya wisatawan domestik maupun mancanegara. Obyek wisata yang lengkap mulai dari alam seperti pantai, gunung, goa, bahkan wisata budaya seperti keraton, candi, dan masih banyak wisata lainnya.

Salah satu yang menarik di Jogja adalah pantai yang terdapat di Bantul. Walaupun pasirnya hitam, namun pantai ini memiliki kisah histori dan keindahannya sendiri. Jumlah wisatawan yang berkunjung juga banyak. Menurut Statistik Kepariwisataan D.I.Yogyakarta Tahun 2019 mencapai 8 juta wisatawan, sekitar 2,7 juta diantaranya berkunjung ke Pantai Parangtritis dan 52 ribu diantaranya berkunjung ke Pantai Goa Cemara. Banyaknya pengunjung yang datang manjadikan sampah sebagai masalah baru yang belum terpecahkan sampai sekarang.

Bedasarkan kamus KBBI sampah merupakan barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi. Sampah dipesisir pantai Bantul didominasi oleh tempung kelapa namun juga terdapat sampah plastik seperti botol plastik. Karena terdapat sampah tanpa pengolahan yang baik, maka sering ditemui sampah bertebaran di sekitar pesisir pantai.

Tong sampah yang terdapat di sekitar pantai sangatlah minim. Sehingga wisatawan yang datang akan malas berjalan jauh untuk mencari tempat sampah dan membuat wisatawan membuang disembarang tempat. Tidak hanya minim tong sampah saja, namun tong sampah yang disediakan bercampur dari sampah organik dan sampah anorganik. Hal ini akan mempersulit TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dalam mengelola sampah. Maka dari itu, sampah hanya bisa dikumpulkan dan menumpuk tanpa bisa diolah kembali.

Kurangnya tenaga kebersihan dan sarana prasarana menjadi salah satu alasan mengapa di pantai-pantai tersebut sering ditemui sampah yang berserakan. Terkadang terdapat gotong royong antar warga sekitar untuk membersihkan pantai, namun tidak selalu. Maka dari itu pantai sering kotor dan mempengaruhi tingkat pengunjung yang datang. Selain tenaga kebersihan, alat yang digunakan untuk membersihkan juga masih tradisional. Sehingga akan memberatkan petugas kebersihan ditambah pekerja yang sedikit, maka akan memperlambat dalam usaha membersihkan sampah dipantai. Sarana untuk mengangkut sampah juga masih sangat kurang, akan berpengaruh terhadap sampah yang bisa dibawa ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara).

Menurut berita yang beredar dan wawancara yang pernah dilakukan oleh penulis, sampah banyak berserakan dipantai karena banjir. Sampah dari sungai tidak hanya mencemari laut, namun juga berserakan di muara pantai terutama yang dekat dengan hilir seperti pantai depok. Jadi bukan hanya sampah wisatawan yang datang, tetapi sampah dari sungai yeng terbawa sampai hilir. Berdasarkan penelitian sebelumnya, TPS yang berada di muara Sungai Opak tidak memiliki bangunan permanen. Hal ini menyebabkan sampah meluap dan jika terjadi banjir akan terbawa menuju laut dan pantai sekitar terutama Pantai Depok. Kurangnya Kerjasama dengan pemerintah sedakar warga membutuhkan lahan untuk membuang sampah menjadikan permasalahan ini.

Peran pemerintah dan masyarakat sangatlah diperlukan dalam menanggulangi permasalahan ini. Terutama Kementrian Pariwisata dan Lingkungan sekitar yang harus mempelopori dalam membuat wisata yang indah tanpa sampah. Jika ini tidak segera ditanggulangi, maka permasalahan sampah yang berserakan di pantai juga tidak akan pernah bisa terselesaikan.

Pembuatan sistem regulasi baru terhadap sampah ini harus segera dibuat. Penambahan tenaga kerja baru juga dapat dilakukan sehingga dapat mempercepat pembersihan pantai. Sarana dan prasarana seperti alat yang digunakan untuk membersihkan pantai diusahakan lebih modern. Perlu adanya sosialisasi ke warga setempat untuk memisahkan sampah organik dan anorganik serta menyediakan tong sampah tersebut. TPS juga dapat dikelola dengan baik oleh warga sekitar. Jika perlu dibuat bank sampah yang dapat ditukar dengan uang jika sampah tersebut sesuai kriteria. Sehingga menarik warga untuk memisahkan sampah dan sampah yang dapat didaur ulang bisa terolah dengan baik. Selain itu yang tidak kalah penting adalah membentuk kesadaran warga sekitar dan pengunjung untuk menjaga alam ini. Dapat dilakukan dengan membuat media persuasif untuk membangkitkan kesadaan warga. Dapat juga dilakukan dengan mengingatkan pengunjung menggunakan spiker.

Tempat wisata yang nyaman tanpa sampah menjadi dambaan oleh semua orang yang mengunjungi pantai. Permasalahan sampah tidak akan terselesaikan jika tidak ada kerjasama antara pemerintah, masyarakat sekitar, dan wisatawan. Harapannya permasalahan sampah ini cepat terselesaikan sehingga wisatawan yang datangpun dapat menikmati pantai tanpa terganggu dengan sampah.

Tagged with:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *