Warta Aksara: Menilik Beragam Tradisi Budaya Daerah Perayaan Idul Fitri

Bulan Ramadhan selalu dinanti oleh setiap orang, satu bulan lamanya setiap orang rela menahan lapar dan berusaha mengendalikan nafsu untuk tidak marah dan sebagainya.

Setelah itu yang juga paling dinanti adalah perayaan Idul Fitri masyarakat berbondong bondong mudik ke kampung halaman untuk membayar rindu kepada sanak saudara yang di cintai hanya dengan temu.

Mereka rela menghadapi kemecetan dijalan Berjam-jam bahkan mungkin bisa berhari-hari.

Namun tidak hanya budaya mudik saja, Ada yang menarik dari setiap daerah mengemas perayaan Idul Fitri dengan tradisi budaya daerah yang turun temurun dilakukan.

Bentuk lain dari silaturahmi yang sudah membudaya. Indonesia kaya akan budaya di setiap daerah, termasuk beragam tradisi merayakan hari raya Idul Fitri yang menjadi daya tarik dan kerinduan para perantau untuk pulang ke kampung halamannya.

Misalnya di Jawa tengah memiliki tradisi sungkeman. Sungkeman diawali dengan posisi orang yang lebih muda berjongkok sambil mengecup tangan orang yang lebih tua, kedua orang tua atau kakek nenek. Hal itu ditujukan untuk memuliakan orang yang lebih tua. Selain itu setelahnya tamu atau keluarga harus makan yang sudah dihidangkan hal tersebut merupakan etika dalam bertamu.

Di Riau memiliki upacara batobo, yaitu upacara sambutan khusus untuk para perantau yang kembali pulang kampung. Dengan sambutan yang meriah, rombongan perantau yang mudik juga diantarkan dengan diiringi pukulan rebana menuju masjid untuk buka puasa bersama di hari-hari terakhir Ramadhan.

Selain itu ada pula tradisi Baraan yaitu kegiatan mengunjungi tetangga yang dilakukan secara berama-ramai. Dalam perayaan Baraan, semua rumah di dusun pasti dapat giliran dikunjungi. Jika satu dusun terdapat 100 rumah, berarti rombongan akan mengunjungi keseratus rumah tersebut.

Di Sulawesi Utara ada tradisi Binarundak atau memasak nasi jaha, yaitu nasi yang terbuat dari bahan beras ketan, santan dan jahe yang dimasukan kedalam batang bambu dan dilapisi daun pisang lalu di isi adonan didalamnya. Kemudian batang bambu dibakar dengan serabut kelapa. Lalu dimakan bersama-sama. Tradisi Binarundak dengan memasak nasi dimaknai sebagai perayaan rasa syukur kepada Allah SWT.

Daerah Belitung juga memiliki tradisi Badulang, yaitu tradisi makan bersama dalam satu tampah yang sama untuk 4 orang, makan tersebut ditutup dengan tudung saji dan tidak boleh dibuka sebelum dimulai.

Di daerah Aceh memiliki tradisi meugang, tradisi meugang merupakan tradisi memasak daging sehari sebelum lebaran, dan dimasak bersama-sama dan dimakan bersama-sama dengan keluarga. Tradisi meugang merupakan warisan dari Sultan Iskandar muda yang pada awalnya ditujukan oleh sultan Iskandar untuk dibagikan kepada anak yatim dan duafa.

Di Yogyakarta sendiri memiliki tradisi grebeg syawal, Tradisi ini mengarak gunungan yang berisi hasil bumi yang merupakan simbol sedekah sultan kepada rakyatnya. Sesuai dengan namanya tradisi ini dilakukan setiap 1 Syawal.

Biasanya ada tujuh gunungan dan diantar ke tempat yang berbeda-beda, satu diantar ke pura Pakualaman, satu Kepatihan, dan sisanya diantar ke masjid Gede Kauman, setelahnya diarak ke alun-alun Utara untuk diperebutkan oleh masyarakat yang hadir.

Di Banten memiliki tradisi Ngadongkapkeun, merupakan tradisi yang dilakukan setelah sholat idul Fitri dengan cara ucapan persembahan doa yang dilakukan oleh tetua kampung atau pemimpin adat ( Olot atau kokolot) setelah itu dilanjutkan dengan sungkeman kepada orang yang lebih tua.

Bentuk budaya atau tradisi dalam merayakan idul Fitri sangat banyak, hal tersebut dapat dimaknai sebagai setiap orang menjalin hubungan dengan anugerah dari Tuhan yaitu Cinta. Menjalin silaturahim dan saling memaafkan merupakan bentuk dari cara setiap orang membagi hidup kepada orang lain, dengan cara seperti itu setiap orang merasakan kebahagiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *