DZULHIJJAH SEBAGAI BULAN PENEMPAAN IMAN & MENCARI KEBERKAHAN

Oleh: Rohmad Hidayat (Kabid TKK PC IMM AR Fakhruddin)

Bulan dzulhijjah menjadi salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT, dibulan yang mulia ini dapat menjadi bulan penempaan bagi umat islam dalam menempa kekuatan iman ketakwaan demi mencari ridho dan keberkahan yang dapat dilakukan. Bulan dzulhijjah adalah bulan yang menjadi tempat umat muslim menempa iman dan keketakwaannya dalam mencari keberkahan. Sebelum dan sesudah bulan dzulhijjah terasa sama saja dan tidak ada yang berbeda. Bulan dzulhijjah berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kenangan yang begitu berkesan didalamnya bagi beberapa orang yang tidak mengetahui beberapa keutamaannya.

Tau gak sih? ada beberapa amalan yang dapat anda lakukan pada bulan dzulhijjah, diantaranya adalah:

  1. Melaksanakan haji, tentu saja hal ini dapat dilakukan bagi yang mampu menunaikannya. Sementara bagi orang yang tidak mampu, dianjurkan memperbanyak amalan sunah lainnya seperti sedekah, shalat, dan puasa. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah bagi mereka yang mampu dan ingin melaksanakan haji masih tertunda karena wabah virus korona, hal ini menjadi dinamika pelik dalam permasalahan pelaksanaan ibadah haji bagi umat muslim yang ingin menunaikannya. Namun, hal tersebut bukan suatu masalah utama, karena keselamatan dan kesehatan kita lah yang menjadi prioritas utama agar terhindar dari segala mara bahaya. Selain itu, ibadah juga tidak hanya tentang perkara melaksanakan haji saja, namun masih banyak amalan yang dapat kita lakukan untuk menguatkan iman dan ketakwaan kita dalam mencari keberkahannya.
  2. Menunaikan perintah berkurban. Berkurban dapat menjadikan umat muslim lebih memilliki kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan dan kehidupan sosialnya. Ibadah kurban ini tidak luput dari nilai sejarah dan historisitas yang sangat tinggi dari nabi ibrahim dan nabi ismail. Ibadah kurban dilakukan sebagai bentuk pengorbanan umat islam akan kecintaannya kepada allah SWT. Dari kisah sejarah dan historisitas nabi ibrahim dan ismail kita belajar bahwa jangan mencintai dunia secara berlebihan karena hal tersebut hanya akan memberikanmu kebahagiaan yang fana dan tiada tandingannya dengan keberkahan yang diberikan Allah subhanahu wata’ala. Perintah untuk berkurban juga tertera dalam Qs. Al-kautsar ayat 2 yang artinya “Maka dirikanlah sholat karena tuhanmu, dan berkurbanlah.”
  3. Menjaga iman dan imun, tidak dapat dipungkiri memang saat ini kesehatan adalah yang utama agar kita senantiasa terus dapat menunaikan ibadah yang diperintahkannya. Sehingga selain menjaga iman untuk menempa ketakwaan kita juga menajaga imun agar terhindar dari mara bahaya dan penyakit yang bisa datang kapan saja.
  4. Berpuasa 9 hari di hari pertama bulan dzulhijjah,Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa pada 9 hari di bulan Dzulhijjah, hari Asyuro’ dan tiga hari pada setiap bulan” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai). Bila tidak mampu berpuasa 9 hari berturut turut, maka jangan sampai melewatkan puasa Arafah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya” (HR. Muslim). Beberapa penggalan hadist diatas menguraikan bahwa amalan ibadah puasa pada 9 hari pertama bulan dzulhijjah pernah diamalkan oleh rasulullah SAW. Hal ini tidak lepas dari sisi sejarah dan historisitas yang terjadi. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa melaksanakan puasa dibulan dzulhijjah pahalanya sama besar dengan orang yang meinggal dijalan allah dimedan perang atau mati syahid. Hal ini membuktikan bahwa rasululullah berusaha untuk menyampaikan pada umatnya betapa istimewa nya dan luar biasanya amalan ibadah puasa yang dilakukan pada 9 hari pertama pada bulan dzulhijjah.
  5. Bertakbir, bertahlil dan bertahmid. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya” (HR. Ahmad. Sanad hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir).

Imam Bukhari mengatakan, “Dahulu Umar –radhiallahu anhu– mengumandangkan takbir di dalam kemahnya di mina, maka penghuni masjid pun mendengarnya, lalu mereka bertakbir, orang-orang dipasarpun ikut bertakbir hingga mina dipenuhi gema takbir”.

Berikut ini beberapa bentuk lafdz takbir yang disunnahkan.

  1. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabiiran
  2. Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
  3. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

Sunnah memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid ini mulai dilalaikan banyak orang tidak hanya orang awam, bahkan orang-orang sholeh pun mulai meninggalkan sunnah ini, tentu ini sangat disayangkan karena banyak keutamaan dan keberkahan yang bisa kita dapatkan. Jadi sudah selayaknya kita menghidupkan kembali sunnah yang mulai dilalaikan banyak orang ini. Bagi yang belum mengetahui beberapa ketaatan diatas hendaklah seorang muslim menyambut musim ketaatan ini sebagai bentuk manifestasi awal kita sebagai hambanya untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kepadanya seterusnya, serta tidak hanya saat momentum ini saja. Kemudian bagi yang sudah mengetahuinya mari kita amalkan dengan keistiqomahan agar senantiasa mendapatkan keberkahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *