Hari Bumi

Oleh: Kamaludin Assuluxi (PK IMM FH UMY)

Hari ini, sebuah kebiasaan telah melekat dalam diri setiap orang di Indonesia bahkan dunia. Memperingati Hari Bumi. Ini menjadi momen yang pas untuk membicarakan apapun mengenai bumi baik dalam aspek ilmu pengetahuan alam praktis atau ilmu sosial. Dengan begitu banyak yang harus dibicarakan mengenai bumi tempat kaki kita berpijak.

            Tulisan ini sebagai referensi untuk bahan diskusi, dengan mengambil pembicaraan tentang bumi. Akan tetapi bukan membahas bagaimana bumi tercipta karena itu ranah yang berbeda, di sini kita membahas bagaimana menghidupkan sikap sosial yang baik antara manusia sebagai makhluk superior di planet bumi ataupun manusia dengan bumi ini.

            Mengenai mengapa kita harus membicarakan hal ini, baiknya emang banyak alasan yang bisa saya sampaikan di sini tapi saya akan menyampaikan satu alasan yang menurut saya paling enak dibahas. Bukanya dengan diskusi kita mendapatkan banyak pandangan tentang suatu hal sehingga menghasilkan solusi dan bahan intropeksi diri dan Bersama. Di sini saya akan menjabarkan pandangan saya mengenai Hari bumi :

  • Kaca-mata Agama, bagaimana agama memandang tentang bumi ini. Saya mengambil dari keyakinan saya yaitu Islam, yang di mana di bumi ini kita dijadikan khalifah atau “pemimpin” untuk kelangsungan hidup bumi. Dengan argument itu, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kita di sini memang sebagai penguasa dan dapat melakukan apa saja, tetapi bukan merusak. Baik agama manapun tidak ada yang memperbolehkan penganutnya untuk merusak apa yang menjadi rumahnya, apa pun itu yang ada di bumi ini. Boleh kita mengambil tapi bukan merusak, itu juga menjadi kebutuhan kita sebagai makhluk konsumen dari produk alam sebagai pemasok kehidupan manusia, tapi jika berlebihan itu sudah melanggar apa yang norma agama perintahkan. Sudah semestinya sebagai penganut agama terkhusus islam menjaga keberlangsungan lingkungan, sosial, dan kehidupan di Bumi ini. Itu semua tercantum dalam kitab suci kita, diantaranya surat al-‘araf ayat 56,

 وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. [al-A’râf/7:56]
Sudah menjadi dasar sifat manusia itu tidak bisa berdiam diri dengan apa yang mereka sudah miliki dan terus-menerus menggrogoti yang bukan miliknya dengan kata lain serakah. Agama pun sudah menjelaskannya bahwa ia adalah nasihat, tapi manusianya sajalah yang tidak mengambil nasihat itu.

Kaca-mata ilmu pengetahuan, sebagai peringatan Hari bumi seharusnya kita melihat Kembali bagaimana  bumi ini kita sikapi sebagai rumah. Rumah seharusnya dirawat dan dilindungi bukan? Saya menemukan satu permasalahan yang sangat krusal, yaitu keinginan manusia membangun rumah baru di planet lain. Memang tidak mengapa, tapi rumah yang masih kita singgahi ini harus terus dirawat, dengan sudah berkembangnya ilmu pengetahuan bukannya lebih mudah kita merawat bumi yang kita pijaki ini? Tapi memang itu juga sebagai wujud majunya peradaban manusia, itu juga masih harapan yang mengahabiskan sumber daya bumi. Baiknya kan begini, tujuan utama kita kan memperbanyak rumah bukannya meninggalkan rumah yang satu begitu saja bahkan rumah yang satu ini belum terjamah semuanya, dalamnya laut, luasnya hamparan, dan kehidupan dilapisan yang lain. Jadi what do u think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *