KAJIAN PENGEBOMAN BUNUH DIRI GEREJA KATEDRAL MAKASSAR 28/3/2021 (Oleh PC IMM AR FAKHRUDDIN KOTA YOGYAKARTA)

Bom bunuh diri yang dilakukan didepan gereja katedral makassar bukan kejadian yang pertama kali terjadi di indonesia. Dikutip dari CNN indonesia, public virtue research institute merilis bahwasannya aksi pengeboman bunuh diri telah terjadi sebanyak sembilan kasus sejak tahun 2000 lalu. Diantaranya adalah bom bali I (2002), bom JW Marriot (2003), Bom bali II (2005), Bom Ritz Carlton (2009), Bom Masjid Az-Dzikra Cirebon (2011), Bom Sarinah (2016), Bom Mapolresta Solo (2016), Bom Kampung Melayu (2017), serta Bom Surabaya dan Sidoarjo (2018).

Kejadian pengeboman bunuh diri yang terjadi di gereja katedral makassar ini dapat menimbulkan perpecahan kerukunan antar umat beragama, yang menganggap bahwasannya pengeboman yang dilakukan terjadi karena motif agama tertentu. Pada dasarnya seluruh agama menjunjung tinggi kemanusiaan termasuk agama islam, sehingga pengeboman bunuh diri yang terjadi ini merupakan aksi intoleransi dan radikalisme oleh kelompok tertentu.

Pengamat terorisme dari universitas malikussaleh, al chaidar menganalisis bahwasannya aksi pengeboman bunuh diri ini dilakukan oleh JAD (Jamaah ansharut Daulah yang berafiliasi ke ISIS. Kelompok ini memiliki ideologi transnasional wahabi tafikri, yaitu kelompok yang melakukan aksi kekerasan atau lebih sering dikenal dengan sebutan teroris. Kejadian pengeboman bunuh diri yang dilakukan pun di anggap sebagai amaliyah atau dapat juga dikatakan sebagai jihad di jalan allah.

Jihad merupakan doktrin agama yang berfungsi sebagai alat perjuangan agama dalam menjawab tantangan zaman. Perlu diketahui memahami jihad dalam Qs al-ankabut ayat 69 yang artinya “ Dan mereka yang berjuang dijalan kami, dan sesungguhnya tuhan bersama mereka yang berbuat kebaikan dan juga dalam Qs al-hajj ayat 78 yang artinya “dan berjuanglah untuk allah dengan sungguh-sungguh” serta dalam Qs al-baqarah ayat 190 yang artinya “dan perangilah di jalan allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. Dalam kandungan ayat diatas harus difahami secara historis. Karena jihad bukanlah produk individu atau otoritas organisasi tertentu, namun produk dari banyak individu dan kemudian otoritaslah yang menafsirkan dan menerapkan prinsip-prinsip teks-teks suci dalam konteks khusus secara historis dan politis. Berdasarkan isi kandungan ayat diatas dapat difahami bahwasannya jihad di dalam islam tidak lah bersifat kekerasan dan radikal.

Pada umumnya orang membagi jihad kepada dua bagian yaitu jihad besar dan jihad kecil. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah saw, ketika beliau baru saja kembali dari medan pertempuran: “Kita kembali dari jihad terkecil menuju jihad terbesar.” Jihad besar yang dimaksud adalah jihad melawan hawa nafsu. Perwujudan hawa nafsu, adalah perbuatan amoral, a-susila, rakus, egois, serakah, tamak, khianat, tak setia pada amanat, suka bertengkar, sombong, kikir, tak adil, dendam, dengki terhadap sesamanya. Sedangkan jihad kecil adalah jihad angkat senjata mempertahankan agama, umat Islam diizinkan untuk melakukan jihad ini jika diserang oleh orang kafir, dianiyah oleh orang kafir, diusir dari kampung halaman karena mengucapkan tiada Tuhan selain Allah, merajalelanya penindasan dan fitnah karena agama.

            Dari beberapa definisi diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwasannya jihad adalah sebuah usaha atau upaya dengan bersungguh-sungguh untuk melawan dan mencegah kesesatan, kemungkaran dan kezaliman yang dibuat musuh, baik musuh yang berwujud manusia ataupun setan yang menyesatkan maupun hawa nafsu. Dan tidak diwajibkan bagi kaum muslimin untuk melakukan perang dengan mengangkat senjata sebagaimana Qs. An-nisa ayat 77

Sumber: Al-quran

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210328150157-20-623072/daftar-kasus-ledakan-bom-di-indonesia-2-dekade-terakhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *