Kisah Pertama

oleh Muhammad Fauzi ( PK IMM FH UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)

Jadilah aku sebagai seorang santri di sebuah pondokpesantren tigapuluh ribu kaki dari tanah kelahiranku—maaf, untuk pengalaman ini akan kusebut sebagai zaman kebodohandan aku tak tertarik untuk menuliskannya untuk saat ini, bertahun kemudian mungkin—dan menjadi ‘orang lain’.

“Kau mesti merantau nak, jangan risaukan aku. Doakuselalu menaungi perjalananmu!” kata-kata perempuan yang begitu mencintaiku itu terngiang dalam hari-hariku.

Bertahun-tahun kemudian aku terbebas dari zamankebodohanku, dan aku kembali ke tanah kelahiranku. Keadaanmenjadi agak aneh. Bangunan tubuh seperti semak belukarmemenuhi setiap sudut kota. Dan tak ada sebuah perayaan yang meriah untuk kepulanganku ini. Perempuan yang kucintai ituberkata perlahan-lahan: “Oh, lihatlah anakku kini! Tampak diamenjadi seorang pandai!”

Aku hanya semringah, kemudian memeluknya.

Selama kepulanganku ke tanah kelahiran, hanya ada satupersoalan yang terjadi dalam keluargaku; hari esok menjadi apaaku. Aku hanya mendengarkan percakapan orangtuaku tanpatertarik untuk ikut-ikutan, hingga pada suatu waktu—itu hariMinggu yang panas—perempuan yang menjadi Tuhan dalamduniaku menghampiriku yang duduk di beranda rumah sembarimembaca sebuah buku. Dia berkata: “Apa yang kau pikirkantentang esok?”

Aku bergeming, menatapnya dalam.

“Semalam kami menyepakati bahwa kau mesti masuk kesebuah perguruan tinggi di pulau sebrang!”

“Yogyakarta? Bagaimana mungkin, ma?”

Aku memilih meninggalkan tanah kelahiranku, merantau. Itu keputusan yang agak berat dan menyengit hatiku, karenabagaimana pun perempuan paru baya itu melelehkan air matanya untukku, kali pertama. Dan tak lama setelah kami berdekapan, terdengar sebuah pengumuman: “Kereta yang terbuat dari besi dan baja akan segera berangkat!” Dan demikianlah, kami berpisah.

“Aku menjadi terpelajar yang lain daripada terpelajar di sini.”

“Tapi,”

“Pikirkan aku.”

Tak ada lagi pembicaraan. Aku mesti patuh padanya. Mesti.

Agustus yang beku dan menyengit hati. Lagi, akumeninggalkan tanah kelahiranku bersama burung besar dari besidan baja. Di dalam tubuh burung besar dari besi dan baja itu, aku duduk di sebelah seorang tua, lelaki, rapi dan agak jelek. Sepanjang perjalanan, si lelaki tua itu mengajakku omongtentang banyak hal. Namun, ada satu hal yang menarik sekaligusmenamparku. Begini:

“Kau tahu anak muda,” si lelaki tua berkata dengan nafasagak berat, “dunia ini sibuk dan membuat banyak orang hidupsedemikian sibuk dan kehilangan waktu untuk sekadarmemikirkan diri mereka sendiri. Dan, kau lihat, banyakterpelajar kehilangan keterpelajarannya. Coba kau lihat ke luarjendela! Lihatlah biru dan luasnya. Ada kehidupan seperti itu di sana? Terumbu karang… oh aku ingat betapa moleknya lumba-lumba itu berakrobatik ketika matahari ditelan langit bulatbulat.”

“Sekarang,” si lelaki tua melanjutkan, “kau akan merantauke tanah yang bukan tanahmu. Oh, Yogyakarta, aku hanyamembayangkan tempat itu sebagai pabrik terpelajar yang gagal. Sungguh. Sekarang, mestilah kau jaga baik-baik. Dan berlakulahsebagai manusia. Berlakulah sebagai manusia. Sungguh, itu semudahmencuci tangan sesudah makan. Dan sekarang aku terjebakdalam kehidupan yang sedemikian buruk dan menyedihkan. Selamat datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *