Ekologi Politik : Perspektif Malthus vs Karl Marx

Oleh : Muh. Taufiq Firdaus

Perspektif Malthus

Di era 70-an muncul pendekatan baru dalam melihat kerusakan ekologis yang dihasilkan akibat hubungan manusia dengan alam, Pendekatan ini memberikan arugmentasi utama yang menitikberatkan pada faktor eksternal diantara hubungan manusia dan alam yang dominan mengakibatkan kerusakan ekologis, sekaligus cara pandang ini mengkritik pendekatan sebelumnya yang mengatakan sebaliknya yaitu faktor internal alam dan manusia. Pendekatan sebelumnya ini lebih didominasi oleh para Malthusian, mereka mengatakan bahwa kerusakan ekologis ini dikarenakan adanya ketimpangan hubungan antara alam dengan entitas makhluk hidup lainnya. Malthus memberikan gambaran sederahana; apabila eskalasi populasi manusia meningkat lebih drastis dibandingkan dengan ketersediaan makanan maka akan menghasilkan persaingan antara manusia dalam perebutan makanan.

Akibat dari perebutan makanan ini menurut Malthus, akan membawa bencana kelaparan terhadap manusia dan dalam prosesnya, bencana kelaparan akan memberikan dorongan yang lebih terhadap manusia untuk melakukan ekspansi, dan eksploitas alam yang berlebihan untuk menghasilkan makanan. Secara gamblang Malthus mengatakan bahwa alam kehilangan daya dukung dan daya tampung untuk makhluk hidup. Artinya, tanah sebagai suatu komponen sudah tidak mampu lagi menyediakan hasil pertanian untuk mencukupi kebutuhan jumlah penduduk yang semakin banyak dan terus bertambah sehingga salah satu jawaban dari problematik hubungan alam dan manusia ini adalah menurunkan laju pertambahan populasi manusia.

Persepektif Karl Marx

Namun pendekatan Malthus kemudian dikritik oleh kaum marxian yang menjelaskan bahwa kerusakan ekologis yang terjadi bukan semata-mata hanya sebatas faktor internal, namun peran dominan yang menghancurkan tatanan alam justru berada pada faktor eksternal dari hubungan alam dan manusia yaitu faktor ekonomi dan politik. Bahwa proses kebijakan ekonomi liberal yang menitikberatkan pada pasar dan komoditas, memberikan legitimasi bahwa tanah –serta yang terkandung di dalamnya- yang dulunya menjadi sumber penghidupan buat manusia justru belakangan berubah menjadi objek komoditas pasar oleh sekelompok pemegang modal yang terus menerus melakukan ekspansi dan eksploitasi alam tanpa henti.

Demikian kaum Marxian secara sederhana mengatakan bahwa fakor dominan yang memberikan kerusakan terhadap alam karena laju dari sistem kapitalisme yang menghamba pada pasar sehingga sangat berpengaruh terhadap kerusakan alam. Kemudian, bagaimana faktor politik juga ikut andil dalam –proyek- kerusakan ekologi ini. Negara yang kemudian hadir sebagai pemegang otoritas kebijakan, justru seringkali memberikan legitimasi hukum kepada pemilik modal untuk melakukan eksploitasi alam. Hal ini sangat memungkinkan terjadi apabila, negara dengan para elitnya juga sudah didominasi oleh para pemodal yang sangat dekat dengan kepentingan pasar dan komoditas.

Seperti apa yang dikatakan oleh Dan Slater dalam teori kartel politiknya; bahwa kondisi tersebut menggambarkan peran elite ekonomi –oligarki bisnis- superkaya ikut mengitervensi kekuasaan politik untuk melindungi kekayaanya, Menurut Winters juga, politik oligarki adalah politik para konglomerat mempertahankan kekayaan. Maka demikian kaum Marxian menjelaskan hubungan erat kerusakan ekologis dengan sistem kapitalisme yang dibercorak produksi tanpa henti, mereka mengaskan bahwa persoalan utama dari kerusakan ini akibat kerakusan sekelompok pemodal yang melakukan akumulasi kekayaan dengan cara ekspansi dan eksploitasi alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *