Hitam Putih Gender dan Disabilitas

Oleh : Salmaa Firdausya

“Jangan biarkan siapapun mengatakan tentang apa yang bisa kau lakukan dan apa yang tidak bisa kau lakukan atau kau capai. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan jadilah sosok yang kau inginkan.”
-Emma Watson

Ketika kita mendengar sebuah kata ‘disabilitas’ hanya satu yang terpintas dipikiran kita, keterbatasan. Pemaknaan disabilitas menjadi makna yang klise atas stereotip serta asumsi yang terhegemoni. Seperti yang dikemukakan oleh John c Maxwell, “Penyandang disabilitas merupakan seseorang yang memiliki kelainan tertentu yang menyebabkan seseorang tersebut kesulitan dalam menjalankan aktivitas kesehariannya.” Selain itu juga menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa “Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.” Berdasarkan penafsiran makna tersebut bahwa penyandang disabilitas ialah seseorang yang memiliki keterbatasan. Baik laki-laki maupun perempuan seorang penyandang disabilitas memiliki pemaknaan yang tak ada pengkhususan tersendiri. Keterbatasan tersebut yang pada akhirnya menjadikan pemaknaan yang bergeser dan menyimpang dari makna yang sesungguhnya. Keterbatasan dalam hal ini ialah keterbatasan dalam hal fisik maupun ruang. Dimana dalam hal ini seorang penyandang disabilitas pada akhirnya mendapatkan ruang mobilitas yang lebih sempit dari yang lainnya. Hal ini yang pada akhirnya perempuan yang paling berdampak dan mempengaruhi konstruksi sosiokultural masyarakat. Stereotip rumpang dan belum tentu akan kebenarannya yang berkembang di masyarakat ini akhirnya ter-mindset dalam benak pemikiran dan menjadi standarisasi kenormalan pada umumnya. Yang seharusnya perempuan pada normalnya memiliki anak, berpenampilan menarik dan sebagainya. Bentuk stereotipe yang diterima perempuan penyandang disabilitas diantaranya tidak mandiri, lemah dan tidak berdaya, aneh, dan tidak menarik. Perempuan penyandang disabilitas dianggap lemah dan tidak mandiri serta tidak memiliki kebebasan dalam bertindak hanya karena keterbatasan yang dimilikinya. Hingga pada akhirnya perempuan penyandang disabilitas dianggap tidak mampu dalam mengurusi kebutuhan hidupnya secara mandiri dan sangat bergantung pada orang lain. Selain itu juga perempuan disabilitas dianggap aneh dan berbeda dari penampilan fisik wanita pada umumnya. Perempuan penyandang disabilitas dianggap minus dan berbeda dari wanita normal pada umumnya. Hal ini yang pada akhirnya menimbulkan kepincangan serta bias gender yang dialami oleh perempuan penyandang disabilitas dan menimbulkan asumsi serta stereotip lemah dan ketidakberdayaan. Bagaimana tidak pada akhirnya masyarakat memetakan kenormalan dan tanpa kita sadari membedakan satu sama lain. Baik penyandang disabilitas laki-laki maupun perempuan pun juga pada akhirnya mengalami diskriminasi hingga pada kekerasan berbasis gender, diantaranya :

Sulit mendapatkan ruang pekerjaan
Seorang penyandang disabilitas terkadang mengalami kesulitan dalam hal mendapatkan ruang pekerjaan. Hal ini terjadi karena asumsi dan stereotip yang di cap pada dirinya yang dianggap tidak mandiri baik dan sangat bergantung pada orang lain. Keterbatasan dalam hal pemenuhan pekerjaan maupun aktivitas fisik sehari-hari. Selain itu, standarisasi pekerjaan yang begitu tampak adanya pembedaan jenis pekerjaan dimana perempuan penyandang disabilitas ditempatkan pada pekerjaan kedua atau pekerjaan yang lebih rendah. Penyimpangan pekerjaan ini dikarenakan anggapan bahwa perempuan apalagi seorang penyandang disabilitas dinilai minus dari perempuan normal pada umumnya. Perempuan dengan penyandang disabilitas dianggap memiliki taraf kualitas hidup yang rendah karena ketidakmandiriannya dalam memenuhi kebutuhannya akan asumsi ataupun stereotip yang rumpang tersebut.

Mendapatkan ruang yang sempit dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan
Stereotip yang dialami perempuan penyandang disabilitas akan keterbatasan yang dialaminya baik secara penampilan fisik maupun dimensi dalam hal sosial dan juga secara individual menyebabkan banyak hal yang pada akhirnya mereka sedikit untuk mendapatkan kebebasan dalam berpartisipasi di kegiatan kemasyarakatan ataupun kegiatan publik. Padahal seharusnya siapa saja berhak untuk mendapatkan akses entah itu akses publik, sosial, dan sebagainya. Bahkan hal ini sudah ada dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial Bagi Penyandang Disabilitas yang didalamnya memuat perlindungan bagi penyandang disabilitas dalam pemenuhan secara pribadi dan sosial maupun dalam hal aksesibilitas publik.

Kesulitan dalam mendapatkan dan menempatkan ruang pendidikan formal
Pendidikan merupakan sebuah usaha terencana untuk menciptakan potensi yang dimiliki individu agar mempunyai kemampuan spiritual, pengendalian diri, keagamaan, kepribadian dan kecerdasan yang berguna bagi diri, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan sangat dibutuhkan dalam rangka peningkatan kualitas sumber Daya Manusia (SDM) agar manusia itu mampu menjadi individu yang tepat dalam mengambil keputusan, mampu merencanakan masa depan dengan baik, dapat berinteraksi dengan baik dengan lingkungan dan mampu menghadapi segala perubahan zaman. Melihat kedudukan dan peranan strategis dari seorang perempuan, sudah sewajarnya dalam proses pendidikan mereka mendapatkan tempat yang sewajarnya pula. Namun, Konsep baku pada umumnya wanita yang seharusnya lebih difokuskan dalam hal pekerjaan domestik atau lebih tepatnya mengurusi segala hal dalam hal kegiatan rumah tangga seperti mengurusi anak, dan sebagainya sementara laki-laki yang mencari nafkah. Konsep baku ini yang pada akhirnya menginternalisasi dan menjadikan wanita sebagai inferior dan sulit untuk mendapatkan apa yang sepantasnya mereka dapatkan. Jika, perempuan telah dianggap sebagai kaum yang tidak memerlukan pendidikan karena pada ujungnya akan mengurus urusan domestik, maka perempuan penyandang disabilitas yang memiliki hambatan dan dianggap tidak mampu melakukan segala sesuatu sendiri tentu menjadi sulit untuk mendapatkan bangku pendidikan, terutama pendidikan formal.

Kekerasan seksual dan bullying
Dalam kerangka teori hukum berperspektif perempuan (feminist legal theory) mengungkapkan cara perempuan diposisikan dan diberikan peran sangat ditentukan oleh sistem sosial yang mengatur hubungan antar individu maupun kelompok di masyarakat itu sendiri. Hal itu terlihat dari bagaimana pencitraan perempuan sebagai objektivitas bagi kaum laki-laki yang berimplikasi pada kehidupan perempuan yang sering menghadapi kekerasan, pemaksaan, dan penyiksaan fisik, psikis, dan bahkan sebagai korban kekerasan seksual. Tata nilai yang meletakkan wanita sebagai second class yang pada akhirnya menjadikan wanita sebagai kaum inferior, lemah dan tidak berdaya dan pada akhirnya menjadikan wanita sebagai objek di mata publik. Pun sama halnya dengan perempuan penyandang disabilitas dengan keterbatasan yang ada menyebabkan mereka sering dianggap lemah dan tidak berdaya sehingga memiliki kerentanan lebih untuk mendapatkan perlakuan tersebut. Tak hanya kekerasan seksual yang didapatkan, perempuan penyandang disabilitas juga kerap kali mendapatkan bullying dalam masyarakat. Tak jarang, perempuan penyandang disabilitas sering mendapatkan cemoohan dan dianggap remeh dalam masyarakat karena kekurangan yang dimilikinya. Perbedaan penampilan fisik yang dimiliki oleh perempuan penyandang disabilitas menjadikannya objektivikasi bahan bullying.

Masih banyak lagi hal yang sering dialami oleh perempuan penyandang disabilitas dalam masyarakat. Pada akhirnya hal tersebut ter-internalisasi dan menjadikan konsep tatanan nilai masyarakat yang rumpang. Melihat hal tersebut sudah seharusnya kita untuk saling melindungi satu sama lain. Bagaimana cara kita untuk memeluk satu sama lain tanpa membedakan kekurangan maupun kelemahan yang kita miliki. Sudah saatnya kita untuk membuka mata dan hati serta break a rules atas apa yang menyimpang dan bergeser. Satu pesan untuk seluruh wanita, be a sunshine! Semua atas apa yang kita miliki sudah seharusnya itu menjadi otoritas dan kewenangan kita. Be a woman with your own way, cheers!!

Sumber :
Maxwell.J.C. 1995. Developing The Leaders Around You: How to Help Other Reach Their Full Potential. USA: Sae International, Inc.
DOWD, Nancy E. Masculinities and feminist legal theory. Wis. JL Gender, & Soc’y, 2008, 23: 201.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *