Milad Muhammadiyah 108: Sedikit Bicara Banyak Bekerja

Oleh: Muhammad Zulfikar Yusuf
Sejak kasus pertama kali muncul di Indonesia pada awal Maret 2020, Covid-19 telah berhasil menghantam berbagai macam lini kehidupan, mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, politik, hingga persoalan keagamaan. Tercatat, hingga hari ini, Selasa (17/10), kasus virus corona di Indonesia telah mencapai angka 470.648, dengan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 395.443 orang dan 15.296 orang meninggal dunia. Angka tersebut tentu bukan angka yang kecil, mengingat sampai saat ini Covid-19 masih terus menjamur.
Selain masalah kesehatan, pandemi ini juga memberikan efek yang luar biasa pada sektor ekonomi. Pada kuartal III 2020, Indonesia resmi memasuki jurang resesi dengan pertumbuhan ekonomi berada pada angka -3.49% secara tahunan (year on year), dengan dampak terburuk adanya PHK massal.
Pada sektor pendidikan, Covid-19 juga mendatangkan permasalahan yang kompleks. Sebab dialihkannya proses pendidikan dari offline menjadi online, melahirkan persoalan pembelajaran yang beragam. Akses internet yang terbatas, sarana dan prasana yang kurang memadai, hingga kemampuan masyarakat terhadap penguasaan teknologi dan informasi menjadi kendala dalam menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Begitupula pada aspek sosial-budaya, menghadirkan tekanan mental, kecemasan dan ketakutan. Efeknya akan mengarahkan masyarakat pada disorganisasi sehingga situasi sosial menjadi tidak menentu dan berdampak pada tatanan sosial di masyarakat. Pun pada sektor politik juga persoalan keagamaan.
Dengan melihat berbagai dampak serius yang melahirkan krisis multidimensional, pemerintah dengan seluruh elemen masyarakat ikut andil dalam memotong arus persebaran Covid-19, termasuk Muhammadiyah. Sedari awal, Muhammadiyah telah berkomitmen dan berikhtiar semaksimal mungkin dalam memutus rantai persebaran wabah ini. Melalui pendekatan ilmiah dan amaliah, Muhammadiyah terus bergerak secara konsisten, mengakar, dan luas.
Sejak berdirinya Muhammadiyah seabad silam, persoalan kemanusiaan merupakan salah satu gagasan penting yang dibawa oleh Muhammadiyah melalui pemikiran KH. Ahmad Dahlan. Etika welas asih yang dibawa hingga hari ini, menggambarkan bahwa Muhammadiyah terbuka pada modernitas dan persoalan bangsa dengan menunjukkan keberpihakan pada kamu marginal dan mustadh ‘afin.
Muhammadiyah dan Pandemi
Pada masa awal munculnya wabah, Muhammadiyah begitu cepat dalam merespon persoalan ini dengan segera membentuk gugus tugas penanganan Covid-19, Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Aksi ini merupakan tindakan nyata sebagai wujud dari komitmen Muhammadiyah dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Hingga hari ini, data mencatat bahwa Muhammadiyah telah mengucurkan dana lebih dari 300 Milyar untuk membantu negara dalam penanganan Covid-19, termasuk layanan kesehatan melalui 82 Rumah Sakit Muhammadiyah Aisyiyah (RSMA).
Muhammadiyah juga bergerak cepat dalam merespon persoalan ekonomi. Dengan membentuk Lumbung Muhammadiyah (LumbungMu), Dapur Umum, Pasar Murah, dan berbagai macam gerakan ekonomi umat lainnya, Muhammadiyah menyiapkan bantuan kebutuhan pokok untuk masyarakat terdampak guna memperkuat ketahanan pangan. Termasuk Lazismu, yang ikut berperan aktif dalam menggalang dana, merumuskan dan menyalurkan program ketahanan pangan.
Selain itu, di sektor pendidikan, Muhammadiyah juga terus berupaya menciptakan lembaga pendidikan yang berpihak pada masyarakat akar rumput sebagai bagian dari misi kemanusiaan atas persoalan pandemi Covid-19. Muhammadiyah memberikan bantuan berupa beasiswa, keringanan biaya SPP, dan subsidi kuota. Termasuk ragam bentuk bantuan yang diberikan kepada guru dan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah.
Muhammadiyah juga terus meneguhkan gerakan keagamaan dengan menghadirkan narasi wasatiyyah. Karena itu, Muhammadiyah selalu berupaya menafsirkan keadaan dengan mempertautkan antara sains dan agama. Dengan salah salah satu identitasnya adalah gerakan tajdid, Muhammadiyah memandang bahwa melihat realitas sosial haruslah dengan pendekatan integratif: bayani, burhani, dan irfani.
Hingga hari ini, Muhammadiyah terus berupaya ikut andil dalam menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Atas dasar ta’awun untuk negeri, Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama mengerahkan segala daya dan upaya dalam menggelorakan semangat, pemikiran, dan tindakan nyata untuk saling merangkul dan menolong demi mewujudkan kemaslahatan negeri.
Kini, usia Muhammadiyah tidak lagi muda, 108 Tahun. Namun semangatnya akan terus menggelora demi kerja-kerja kemanusiaan. Terimakasih Muhammadiyah, semoga selalu mencerahkan peradaban dan terus memberikan kontribusi nyata untuk negeri melalui jihad kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *