PENGHIANATAN INTELEKTUAL: KRITIK TABIAT INTELEKTUAL INDONESIA

Muh. Akmal Ahsan (Kabid RPK PC IMM AR Fakhrudin 18/19)
Makna Intelektual
Barangkali hingga hingga kini definisi tentang intelektual dan intelektualisme masih bejibun di beranda discourse keilmuan kita. Tetapi memahaminya dari definisi memang penting adanya, ini terutama kali sebab makna telah banyak berpengaruh pada pembentukan sikap.
Ada yang melekatkan makna pada intelektual dengan ciri kercerdasan akademik, validitasnya adalah angka , semisal IPK. Ada yang memaknai intelektual sebagai seseorang yang tengah mengabdi dalam pengembangan keilmuan, semisal dosen, guru dan sebagainya. Tidak sedikit pula yang merekat-eratkan intelektual dengan aktivitas kemanusiaan, ilmu untuk kemanusiaan, bukan ilmu untuk ilmu. Untuk pendefinisian ini, penulis sepakat pada pendefinisian terakhir.
Ali Syariati (1993) memberi arti intelektual lebih dalam, baginya intelektual adalah seseorang yang mengetahui masyarakatnya, sadar akan masalahnya, dapat menentukan nasibnya, banyak mengetahui masalah lampaunya dan seseorang yang dapat mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.
Sementara, alih-alih sepakat dengan cara pandang lama yang menempatkan intelektual pada posisinya yang pasif, Antoni Gramsci memandang bahwa intelektual tradisional hanya berhenti pada aktivitas intrinsik belaka, Gramsci kemudian menghamparkan pendefinisian baru mengenai intelektual, ia menyebutnya intelektual organik, fungsi utamanya adalah mengadakan gerak perubahan sosial. Demi pemaknaan itu, ia menyatakan bahwa semua orang adalah intelektual, tetapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual.
Hampir senada dengan itu, Julian Benda (1927) mendefinisikan intelektual sebagai les clrecs, yakni mereka yang mencari kegirangan hidupnya dalam dunia dunia kesenian, ilmu pengetahuan, pula metafisika.
Hakikat Tugas Intelektual
Dalam catatan penulis di buku Meretas Batas Pemikiran (2020), dijelaskan bahwa sifat utama dari keberadaan intelektual adalah ketekunan untuk secara konsisten dan sistematis memproduksi gagasan yang kreatif, inovatif dan solutif untuk menyelesaikan persoalan kemasyarakatan. Melalui alas pikir yang utuh, para intelektual ini selalu menjadikan gagasan-gagasannya sebagai dasar dalam segala laku aktivisme keseharian. Intelektual yang sebetulnya adalah mereka yang terampil “menjual” idenya dan membangun jaringan, ide yang kemudian didambakan menjadi solusi atas problematika kemasyarakatan.
Dari pemaknaaan demikian dapat jua dipahami hakikat tugas intelektual: 1) tugas memproduksi wacana. Dalam kaitan itu, maka produksi sangat bergantung dengan kualitas “pabrik” nya, dan dalam dunia pemikiran intelektual, penguasaan metodologi adalah makna lain dari “pabrik” yang terawat, pula berkualitas, 2) tugas untuk “memasarkan” ide gagasanya di ruang publik. Hal ini perlu benderang, seorang intelektual adalah “penjual” gagasan, bukan menjual-menggadai dirinya, 3) tugas intelektual bukan produksi ilmu demi ilmu, tapi ilmu untuk rakyat. Apa artinya?, bahwa netralitas ilmu adalah gagasan siang bolong. Kita memang perlu memberikan demarkasi antara netralitas dan objektifitas, produk pemikiran intelektual yang sebenarnya adalah hasil dari dialektika dan pembacaan yang objektif, tetapi mengenai fungsinya, ia tidak pernah netral, sepenuhnya ia berpihak, dan kepada siapa lagi ia berpihak kecuali kepada kepentingan rakyat banyak, humanisme universal 4) tugas intelektualisme adalah tugas aktivisme. Tugas membaca realita sosial, mengorganisir, pula mengubah. Dan demikian maka modalitas individual-intelektual hanya mampu bermakna bila seabrek masalah sosial diselesaikan dengan baik.
Penghianatan Intelektual di Indonesia
Rentan sejarah pergerakan Indonesia tak pernah menegasikan posisi intelektual sebagai aktor utama perubahan sosial, semenjak usaha meraih kemerdekaan hingga kemerdekaan dilacurkan sendiri oleh para intelektual, seperti sekarang ini.
Apakah kita mengenang Soekarno sebagai sosok intelektual?, kita perlu berpikir ulang soal itu. Paling tidak demi mengurangi kultus berlebihan padanya. Saya adalah sosok yang kagum benar dengan Soekarno yang muda, tapi tidak dalam laku hidupnya di masa tua. Seperti digambarkan Soe Hok Gie, Soekarno sebetulnya tak begitu berbeda dari raja-raja Jawa sebelumnya; feodal, beristri banyak. Dan demi itu sering rakyat hanya pelarian belaka. Soekarno tua adalah penghianat pada dirinya yang muda; sesosok intelektual yang mendarah didalamnya semangat perubahan sosial.
Lepas Soekarno memimpin, dan Soeharto memegang kuasa tertinggi di republik ini, laku sebagian intelektual tak lebih sekadar seperti cap stempel tirani kekuasaan. Tentu kita tidak lupa dengan perlawanan intelektual dari sebagian yang lain. Ideologi pembangunanisme, pula modernisme nyata-nyata juga menyeret intelektual di pusaran kekuasaan, mereka turut terlibat untuk melegitimasi laku korup dan ceroboh dari kekuasaan.
Reformasi tak mengurangi tabir penghianatan intelektual, malah menunjukkan penghianatan lebih tragis. Setidaknya potret kemerosotan idealisme intelektual bisa tergambar di beberapa warsa belakangan. Penghianatan intelektual termanifestasi oleh goda yang tak tertahankan untuk menjilat kuasa. Mereka, para intelektual itu menggiring dirinya dalam megah istana, mulanya ingin merubah, tapi tragis, ia pula mabuk oleh minuman dalam istana. Lihat saja, mereka yang dahulu lantang menggertak, kini jinak oleh jabatan di kepartaian, posisi staf presiden, dan badan lembaga negara lainnya.
Sementara di kampus, yang esensinya menjadi pabrik intelektual paling produktif, objektif dan berpihak justru menunjukkan wajah yang abu atau acapkali bahkan hitam. Para intelektual yang bercokol didalam, diharapkan mampu menerjemahkan realita sosial, dan tentu, menyatakan keberpihakan. Alih-alih membicarakan kehidupan masyarakat yang miskin dan tertindas, mereka justru tak berbicara apapun, atau berbicara, bersikap, tapi justru sikapnya tak mencerminkan keberpihakan, hitam. Kita tidak boleh lupa dengan penghianatan intelektual dari kampus di 8 tahun terakhir. Semisal Amdal pembangunan pabrik semen yang justru memperoleh kajian akademisnya dari sebuah kampus, atau tentang penelitian akademisi kampus di Malang yang berbuah legitimasi pendirian hotel di Batu, tanpa timbangan tentang kelestarian sumber air yang ada dibawahnya.
Persoalan keberpihakan kampus bukan saja soal legitimasi penindasan seperti yang saya gambarkan pada kasus diatas. Bila benderang mata kita memandang, dan tak khianat ingatan kita, silang-sengkarut persoalan pemilihan rektor yang pernah terjadi tahun silam layaknya terang menjelaskan bahwa kampus sebetulnya telah kehilangan independensi dan kebebasannya. Belum lagi berbicara masalah lain, misal rektor yang tetiba duduk riang di bangku institusi semacam BPIP Pancasila.
Apakah kita berharap kepada para dosen di kampus? Perlu diketahui tak segala dari mereka-mereka itu benar-benar memahami realitas sosial. Karenanya, tidak boleh seserampangan itu pula kita berharap. Jangan jua terlalu terburu-buru membaptis mereka sebagai intelektual. Alih-alih mengembangankan ilmu demi rakyat, mereka justru lebih sering sibuk dengan kepentingan pribadi: mencari gelar, bertengkar posisi di fakultas-kampus, penelitian demi menunjang karir pula segala yang menjadikannya pasif dan tak berperan apapun dalam perubahan sosial di masyarakat. Kampus negeri atau swasta, umum atau islam, sama saja, mereka kalah oleh nafsu pribadinya masing-masing. Dalam bahasan itu, tentu kita tidak melupakan peran dari para dosen yang masih setia pada kepentingan rakyat banyak.
Mengapa Mereka Berkhianat?
Demi jawaban itu, sepertinya cengkeraman modal dan kuasa negara adalah akar yang paling patut disalahkan. Apa artinya? Para intelektual itu ditipu hasrat uang dan kedudukan, sampai tak sadar akan fungsi pula kewajibannya untuk menemani rakyat dan menejermahkan persoalannya. Negara melalui kebijakannya selalu berupaya menancapkan akar hegemoninya di kampus. Tak heran, intervensi pemihilihan rektor kian menguat, hal lain misalnya pelarangan aktivitas diskusi di dalam kampus.
Cengkeraman modal dan kekuasaan turut pula menggertak para senior aktivis yang dahulu garang. Akibatnya, keseriusan melahap makanan dari negara justru meninabobokkan akalnya untuk tetap berpikir tentang agenda reformasi yang belum jua usai. Pengkhianatan itu dimulai dari jenjang pilpres pula pilkada di negeri ini, persis kala mereka menempatkan dirinya sebagai cheer leaders, bertepuk sorai, bertengkar dukungan di pemilihan umum.
Tampaknya ini adalah tabiat buruk dari laku tindakan para intelektual di Indonesia: mulanya bersuara demi rakyat, meraih nama memperoleh legitimasi rakyat, kemudian di dalam, tabiatnya berubah, mereka berganti wujud lain, menjadi bulldozer baru di penggusuran hak-hak masyarakat.
Berharap Kepada Aktivis Mahasiswa (?)
Kini tabiat pengkhianat mulai tumbuh berkecambah di arena Mahasiswa. Wujudnya adalh pertengkaran eksistensi organisasi di kampus, kesibukan saling menggertak sering menghilangakan kewajiban utamanya sebagai kritikus di kehidupan publik yang sebenarnya. Hal lain menunjukkan tabiat sebagai aktivis Mahasiswa yang gila uang, mengejar keuntungan lewat pembagian proposal-proposal di ragam perusahaan, pula instansi lainnya. Saya pikir, sok berkuasa di kampus dan sikap culas itulah yang perlahan-lahan berkembang biak menjadi penghianatan intelektual ala aktivis mahasiswa.
Di tubuh organisasi, bibit pengkhianatan intelektual pula marak terjadi, bentuknya adalah pertengkaran posisi di pucuk kepemimpinan. Kini, sering musyawarah organisasi bak ajang pencarian bakat, atau acapkali semacam musyawarah partai politik, lempar-lemparan kursi. Tabiat yang buruk, pula dasar dari pengkhianatan intelektual.
Apakah anda kagum dengan demonstrasi di jalan?, jangan secepat itu, semoga tiada lupa kita dengan Fatur, Presiden UGM yang kini terkenal, jadi selebgram, pula promotor perusahaan. Ingatan itu mesti terus mendengung, biar kita selalu waspada, bahwa ancaman pengkhianatan intelektual selalu menjadi hantu didalam agenda aktivis Mahasiswa.
Reformasi beserta para aktivis Mahasiswa yang terlibat didalamnya patut menjadi evaluasi besar-besaran demi memandang harapan kita dewasa ini. Alih-alih berharap kepada mereka, langkah yang lebih pasti dapat kita lakukan dengan menjaga integritas sedini mungkin.
Semua bermula dari kesadaran yang utuh, bahwa seperti kata Edward Said, menyampaikan kebenaran dihadapan kekuasaan adalah tugas intelektual. Itulah fungsi kita dewasa ini, tetap menjaga amarah, tapi pula merawat sabar. Demi itu, kita mesti selalu terngiang ulasan Bung Hatta: “Berdiam diri melihat kesalahan dan keruntuhan masyarakat atau negara berarti mengkhianat kepada dasar kemanusiaan, yang seharusnya menjadi pedoman hidup bagi kaum intelegensia umumnya”.
Jujur saja, rasanya saya tak begitu simpati dengan gerakan kita (Mahasiswa) dewasa ini, tapi harapan harus terus menjulang. Integritas adalah modalitas individu paling mahal dalam diri aktivis Mahasiswa, jangan mudah kita terjual korporasi atau tergoda negara dan sedemikian banyak tipu dayanya.
Kini, dengan semangat yang terus menyala-nyala, Aktivis Mahasiswa mesti tetap terus melahirkan pendidikan alternatif ditengah rapuhnya sistem pendidikan kita. Dan apakah pendidikan alternatif itu selain organisasi. Maka demikian, jadikanlah organisasi itu sebagai sekolah yang terintegrasi dengan kehidupan sosial. Masuklah di jantung paling dalam dari masyarakat, tekunlah mengamati persoalannya, dan biasakan untuk setia menemaninya menyelesaikan persoalan. Lepas dari itu, tetaplah jua setia mengisi jalan-jalan, demonstrasi gaya baru, dan tentu jangan jadi penkhianat di jalanan.
Demi itu, maka kita semua berharap bahwa pengkhianatan intelektual dapat diputus mata rantainya, dan kita kembali pada tugas “kerasulan” kita yang sebenarnya: berilmu demi berpihak, berpihak untuk melawan, melawan demi perubahan.
Aku bersamamu aktivis Mahasiswa. Hati-hati di jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *