Ingatan

Pengelana tua datang mengetuk,
Wajahnya kusut, terbalut
Tajamnya malam,
Bersamanya singgah suatu masa,
Yang orang tak lagi,
Mengingatnya sebagai banjir darah,

Bibir merahnya melontarkan sumpah serapah,
Saat kukecup mesra,
Basah, merekah,
Ah…

Sorot matanya terkokang senjata,
Nyanyian parade tawa-luka,
Keras tangannya merengkuh tubuhku,
Layaknya tembok penjara, yang
Ditopang campuran peluh,

Jarinya menyibak untaian rambutku,
Pelan namun terasa,
Guratan keras yang menyembul,
Hasil terpaan, juga
Kekuasaan,

Kuajak kakinya melangkah,
Ke lorong berselimut duka,
Diterangi lampu redup,
Beberapa saja, yang
Menyala riuh-rendah,

Tubuhnya terlentang meregang,
Pagar-pagar di sekitarnya, ialah
Nisan-nisan tak bernama,
Lapuk termakan jerit tangis,
Yang hilang suaranya,

Saat kukecup bibir merahnya
Lagi,
Tersiar kabar aneh,
Orang-orang menjadi berang,
Saat kami meradang.

Yogya, November 2015.

Pengarang : Immawan Hilmy Dzulfadli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *