MEMPERINGATI HARI BUMI, MENCEGAH BENCANA EKOLOGI

MEMPERINGATI HARI BUMI, MENCEGAH BENCANA EKOLOGI
Oleh :Faiz Al Gifari
“Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili, La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah…”
Siapa yang tak kenal tembang di atas ? tembang yang lahir dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), yang menolak segala bentuk perusakan pegunungan karst kendeng atau perusakan alam atas nama apapun.
50 tahun yang lalu, pada 22 April 1970 jutaan masyarakat Amerika Serikat memobilisasi dirinya untuk melakukan aksi turun kejalan, guna memprotes segala bentuk pengabaian terhadap lingkungan, serta menuntut dilakukannya upaya-upaya dalam menyelamatkan bumi dari segala bentuk perusakan. Sejak saat itu hingga hari ini, 22 April selalu di peringati sebagai hari bumi di seluruh dunia. Dan tepat hari ini, 22 April 2020 di tengah krisi pandemik covid-19 kita dan seluruh masyarakat dunia sedang memperingati hari itu.
50 tahun bukan waktu yang singkat, apa kabar alam Indonesia ? bencana-bencana ekologi yang kita hadapi, seolah seperti sebuah menu sarapan di pagi hari. Tiap hari, bahkan tiap jam kita selalu mendengar kabar itu, masih hangat dan bahkan masih menjadi trending pembicaraan dimana 21 April 2020 telah terjadi tindakan intimidasi terhadap kartini kendeng, yang pada hari itu mereka sedang memperingati hari kartini dan hari bumi di area pertambangan. Masyarkat yang awalnya hanya ingin bertemu dengan penambang dan pemilik tambang, untuk memperingatkan bahwa tindakan yang telah mereka lakukan merupakan salah satu bentuk perbuatan yang menyakiti dan merusak alam, justru mendapat sambutan yang sangat jauh dari rasa kemanusiaan.
Contoh lainnya terhadap perusakan alam Indonesia adalah, perampasan lahan pertanian produktif oleh para penguasa. Perampasan-perampasan itu selau di landasi atasa nama pembangunan, atas nama kemajuan, atas nama kepentingan rakyat. Pertanyaan yang mendasar adalah pembangunan seperti apa yang di inginkan, kemajuan seperti apa yang ingin di tuju, dan rakyat mana yang di maksudkan, jika dampak pembangunan tersebut justru meninggalakn luka terhadap alam, menyisakan amarah pada rakyat, dan justru pembangunan itu semakin memperlebar angka ketimpangan sosial.
Dari kesemua itu, merupakan suatu konsekuensi dari cara pandang yang berorientasi ekonomi kapitalistik terhadap alam. Jika berangkat dari pandangan ini, maka bukan suatu yang mustahil dimana hutan-hutan di sulap menjadi pabrik-pabrik, gunung-gunung di babat menjadi tambang-tambang. Pembangunan yang bercorak ekonomi kapitalistik terhadap alam ataupun pengembangan pertumbuhan ekonomi malaui industri ekstraktif telah melahirkan bencana-bencana ekologi seperti tanah longsor, asap, pencemaran udara, krisis air, banjir, kehilangan keanekaragaman hayati, serta kekeringan. Tanpa di sadari, bencana itu telah masuk kedalam tahap mengkhawatirkan, artinya telah mengancam kelangsungan hidup manusia, serta selalu memakan korban nyawa disetiap bencananya. Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin kita akan mengahadapi bencana yang lebih besar di masa yang akan datang.
Propaganda yang dilakukan pemerintah maupaun masyarat yang peduli terhadap lingkungan, untuk tidak membuang sampah sembarangan demi mencegah datangnya bencana alam, jelas merupakan salah satu upaya penyelamatan terhadap bumi. Tetapi di sisi lain, kita tidak boleh lupa bahwa penebangan hutan secara liar, serta pembangunan-pembangunan yang tidak mengindahkan dampak lingkungan merupakan penyebab terbesar dari datangnya bencana alam, maka tidak akan efektif upaya untuk tidak membuang sampah sembarangan, ketika penebangan liar serta pembangunan yang tidak respect terhadap alam terus digencarkan dan dilakukan.
Tembang yang diciptakan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng di atas, selain sebagai doa, juga seolah merupakan jeritan protes sekaligus peringatan kepada kita semua terutama pemerintah, tentang bagaimana hari ini kita memperlakukan alam semesta.
Ibu bumi wis maringi, merupakan fakta yang tidak bisa kita tolak kebenarannya, sudah berapa banyak bumi memberikan manfaat kepada manusia, sudah berapa banyak bumi menjadi jantung pertahanan kehidupan manusia. Ibu bumi dilarani, potongan tembang ini merupakan realita yang hari ini tengah terjadi terhadap perlakuan manusia kepada bumi, corak pembangunan ekonomi kapitalistik, serta pengembangan pertumbuhan ekonomi melalui industri ekstraktif jelas telah menyakiti dan merusak bumi, pegunungan kendeng adalah korban dari corak pembangunan tersebut. Ibu bumi kang ngadili, dan pada potongan terakhir tembang tersebut merupakan suatu peringatan, ketika bumi sudah kehilangan keseimbangnnya atas perbuatan-perbuatan manusia, ia akan murka serta akan membalas segala perlakuan manusia terhadap dirinya, pada titik inilah kita tidak akan lagi bisa berbuat apa-apa.
Maka sebelum terlambat, sebelum kita tidak bisa berbuat apa-apa, di peringatan Hari Bumi kali ini Indonesia perlu meningkatkan kembali kesadaran terhadap keseimbangan alam semesta. Sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kekayaan alam tersebut perlu kita rawat demi menjaga kelestarian lingkungan serta mencegah bencana ekologi yang semakin besar. Dalam upaya itu, perlu di tinjau kembali apa dan bagaimana kebijakan-kebijakan komprehensif pemerintah dalam wilayah lingkungan yang ingin ditawarkan terhadap rakyat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *