Berdakwah dengan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo

Mengulas sejarah yang sampai saat ini tercatat. Prof. Dr. Kuntowijoyo lahir di Bantul 18 September 1943. Anak kedua dari sembilan bersaudara ini adalah seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia.

Beliau merupakan guru besar Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Beliau juga dikenal sebagai pengarang novel, cerpen ataupun puisi dan buku buku tentang Islam. Minat belajarnya yang sudah terlihat kala beliau masih kecil, di bangku kuliah Kunto akrab dengan teater dan seni, selain itu Kunto juga dikenal sebagai sosok kiai, pernah membangun dan ikut membina pondok pesantren Budi Mulia di tahun 1980 dan juga mendirikan Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan di Yogyakarta.

            Dalam berkarya Kunto selalu menjadikan Islam sebagai landasan fundamental bagi setiap konsep-konsep yang ia buat. Kunto hampir tidak pernah terlepas dari Al-Qur’an dan Sunnah, beliau memandang peristiwa sejarah ataupun kehidupan sosial selalu berlandaskan Islam, ini mungkin beliau lakuan untuk mengkonter pikiran-pikiran barat yang ia dapat selama pendidikan lanjutan yang ia tempuh.

             Kunto juga tidak semata mata melepaskan sepenuhnya keercayaannya terhadap pandangan barat, buktinya ia berusaha menafsirkan Al-Qur-an dengan pandangan-pandangan barat. Contohnya ia menafsirkan Qur’an surah Al-Imran ayat 110 dengan konsep konsep barat, yaitu istilah amar ma’ruf di simbolkan dengan liberasi, nahi munkar di simbolkan dengan transendensi.

            Dari kerangka inilah Kunto melahirkan gagasannya berupa ilmu sosial profetik, gagasan ini ditujukan sebagai dehumanisasi dari dampak moderenitas yang dilakukan barat. Gagasan yang tidak hanya memiliki ekpresi penulis namun mempunyai semangat transformatif.

            Kata ilmu sosial profetik muncul pada saat munculnya perdebatan pemikiran Muslim Abdurrahman mengenai istilah teologi tranformatif. Maksud teologi ialah agama diberi pemahaman baru terhadap realitas, lalu di turunkan keranah teori sosial. Gagasan ilmu sosial profetik sebenarnya juga diilhami oleh pemikiran Muhammad Iqbal, khusunya ketika Ia berbicara tentang isra mi’raj, seandainya Muhammad SAW adalah seorang yang mistikus, Beliau pasti tidak akan turun lagi ke bumi karena sudah merasa bersatu dengan Tuhan.

            Kunto menganggap bahwa setidaknya ada tiga masa keilmuan Islam yang berkembang di Indonesia. Pertama, tradisi normatif ketika seseorang beribadah atas dasar ilmu bukan hanya sedekar ikut ikutan. Kedua, tradisi ideologis ketika islam dijadikan landasan berpolitik. Terakhir ialah tradisi ilmiah. Komitmen Kunto ialah dengan paradigma sosial profetik kita dapat mengubah keadaan keadaan sosial bukan hanya dapat memahami gejala sosial.

            Pertama, masa-masa mempercayai mitos atau ikut-ikutan saat itu ummat islam belum mampu menguasai dirinya, mereka membebek dan membuat kelompok dibelakang orang orang yang memiliki karisma yang agung menurutnya seperti kiyai, pada masa itu umat muslim menganggap dirinya orang kecil dibawah sistem hirarki, umat Islam tersebar  menjadi kelompo-kelompok kecil tanpa sadar mereka terbentuk dari kesatuan yag sangat luah dan kuat. Masa selanjutnya, masa itu umat muslim telah membangun pemikiran kelas menengah, yaitu pedagang, buruh dan petani. Pada masa iitu umat islam lebih menggap dirinya wong cilik, berbeda dengan masa yang pertama, masa ini lebih kepada dataran horizontal, buktinya ialah terbentuknya Syarekat Islam dan mengatakan dirinya ialah pedagang. Pada masa ini pemikiran mistik berubah menjadi pencarian ideologi.

            Masa ketiga ketika umat Islam dipimpin orang-orang yang rasionalis seperti HOS Cokro, Agus Salam, dll. aksi-aksi yang dilakukan pada saat itupun terorganisir dengan baik, pada masa yang ketiga ini umat Islam telah mendefinisikan dirinya menjadi “umat”. Paling penting dalam masa ini ialah banyak sekali organisasi-organisasi islam yang muncul, selain SI (Syarekat Islam) mucul juga Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, dan organisasi-organisasi lain diseluruh Indonesia. 

            Bagi Kunto tradisi tersebut sudah kuno dan tidak memiliki terobosan yang baru, dengan ketiga radisi tersebut orang orang mungkin dapat memahami Islam namun  tidak untuk memandang kehidupan besosial. Maka dari itu perlu adanya paradigma baru yang dikembangkan guna mengubah komitmen keilmmuan Islam. “Kita malu untuk mengakui keterkaitan ilmu sosial dengan nilai-nilai sosial dan budaya, kita takut dituduh tidak ilmiah, tidak objektif. Di Barat pun orang sudah lama ragu-ragu akan ilmu sosial yang ‘bebas-nilai’,” tulis Kuntowijoyo dalam “Paradigma Baru Ilmu-ilmu Islam: Ilmu Sosial Profetik sebagai Gerakan Intelektual” yang menjadi bagian bunga rampai Muslim Tanpa Masjid (2001: 102).

            Menurut Comte pencetus kata sosiologi mengatakan bahwa, sosiologi merupakan puncak ilmu dari positivisme. Secara epistemoligi pemikiran Kuntowijoyo berpegang pada tiga sumber primer yaitu wahyu, rasio dan pengalaman, ini sangat jauh berbeda dengan pemahaman baratnya comte yang berfikiran positifistik  yang hanya mengakui indrawi sebagai satu- satunya sumber ilmu pengetahuan, dan memanggap bahwa wahyu ialah haya omong kosong, hanya bagian dari kata-kata yang kita buat maksudnya.

            Secara metodologi  pemikiran Kunto berada dan berbanding terbalik dengan pemikiran kaum positivitik. Ilmu sosial profetik atau biasa disebut ISP menolak pengetahuan positivme yang mengatakan bahwa semuanya hanyalah kata-kata dan fakta-fakta teindrawi. ISP juga tidak hanya diperuntukkan untuk membaca keadaan sosial, namun diperuntukkann untuk masuk dan mengembangkan keinginan masyarakat. Maka dari itu ISP merumuskan tiga gagasan utama yang diharapkan bisa terjun langsung di msyarakat, yaitu liberasi, humanisasi, dan Kunto menambahkan pokok yang paling penting yaitu transendensi, hubungan vertikal makhluk kepada Tuhannya.

            Dalam ilmu sosial profetik , liberasi di artikan sebagai pembebas kaum-kaum yang terpenjara dengan kemiskinan, dominasi struktural pemerintahan yang kejam, dan pencucian pencuin otak masyarakat terhadap kejadian dan kesadran palsu. Berbeda dengan Marx yang justru menjauh dari sifat sifat keTuhanan dan menganggap agama itu konservatis, ISP justru mendasarinya kekuatan keagamaan yang telah terwujudkan dengan ilmu objektif faktual.

            Nilai-nilai humanisasi di artikan menghilangkan sifat  kebencian, kekerasan, dll dari manusia itu sendiri. Bukan hanya humanisme yang kunto bangun, namun ia menggeser pandangan dari humanisme antroposentris menuju humanisme teosentris dan dengan ini mengangkat kembali fitrah manusia yang mempunya sang pencipta. Dengan kata lain manusia harus berlandaskan Tuhan, bukan untuk menjadi Tuhan namun, untuk kembali ketengah masyarakat dengan membawa nilai nilai keagamaan. Humanisme diperlukan karena pada saat itu telah terjadi dehumanisasi, agresivitas, dan loneliness.

            Sedangkan transendensi merupakan pondasi bergerak, ibarat bangunan, transendensi menjadi pondasi yang sangat kokoh. Transendensi metempatkan agama menjadi sentral  dalam ilmu sosial profetik. Namun jangan salah faham bahwa ilmu sosial proftik ini bisa dipisah-pisah, maksudnya ialah jangn berjalan dengan humanisasi saja, atau liberasi saja, namun harus beriringan satu sama lain.

                        Maka dari itu perlu adanya langkah langkah untuk menemui tujuan yaitu turun dan mengubah tatanan masyarakat, langkah pertama  ialah dengan mengenal asumsi dasar basis pengetahuan yang bisa didapatkan dari sumber lmu pengetahuan yakni, indra, alam, hati di tambah dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Selanjutnya yang kedua ialah asumsi dasar tentang objek materil yaitu berbicara tentang sebab dan  hakikat. Ketiga adalah asumsi dasar gejala yang akan diteliti di masyarakat.

            Asumsi dasar tentang basis ilmu pengetahuan merupakan bagaimana cara manusia mendapatkan ilmu pengetuhan, indra melihat kejadian-kejadian di alam dan akal membuat konsep-konsep tersebut lalu di olah dengan rasio manusia menentukan apakah yang di konsepkan betul-betul terjadi di alam ataukah tidak. Selepas itu kita amati apakah bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah. Ketika sudah final konsep tentang ISP barulah terwujud. Selanjutnya asumsi dasar tentang objek materil, maksudnya ialah  menyakralkan  kembali objek mental pada diri manusia, caranya bagaimana? Dengan menempatkan  kembali ilmu sosial profetik dengan  unsur-unsur wahyu dan sunnah, dengan demikian terbentuklah kembali kesakralan pada objek  mental, tidak seperti positivisme yang memandang semua yang materil tidak ada kaitannya dengan  unsur immateril yang tanpa nilai. Selanjutnya asumsi tentang gejala yang akan diteliti, hampir sama dengan apa yang dibahas di asumsi dasar tetang objek materil, jika objek mental ilmu sosial profetik adalah manusia, maka asumsi dasar tentang gejala yang akan diteli dapat dipandang juga demikian. Sebab kita perlu mencari terlebih dahulu gejala tentang apa yang kita teliti.

            Lebih lanjut lagi mari kita lihat ilmu sosial profetik ini pada pembagian ilmu pengetahuan yang ada di barat. Ada dua pandangan, yaitu pemiasahan antar ilmu alam dengan ilmu sosial yang berasumsi bahwa objek yang diteliti ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengeahuan sosial itu berbeda. Kedua ialah pandangan yang mengatakan bahwa jika objek yang diteliti berbeda maka tidak perlu adanya pembagian ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan ya ilmu pengetahuan. Ilmu sosial profetik menarik, tidak hanya sosial dan alam gejala-gejala yang dipelajari ilmu sosial profetik, namun ada perspektif “objek formal” yaitu wahyu. Bagian wahyu inilah yang membedakan ilmu-ilmu sosial dan alam barat dengan ilmu sosial profetik.

            Lalu, bagaimana kita bisa memasukkan unsur wahyu menjadi ilmu pengetahuan? Menurut Kunto perlu adanya Objektifikasi pada islam, maksudnya ialah perlunya nilai-nilai Islam masuk menjadi ranah universal dan diterima bukan hanya untuk kalangan muslim saja. Mengenakan baju islam di pengetahuan-pengetahuan agar lahir ilmu-ilmu profetik yang baru, dan dapat diterima diakalangan masyakat.  Maksdunya Islam akan diterima disemua kalangan ketika nilai-nilai kebaikannya diterapkan, bukan karena nilai-nilai itu “islam”.

            Objektifikasi adalah memandang sesuatu secara objek. Obejektifikasi dalam dataran aksi menjadi jalan tengah bagi agama-agama, dan aliran kelompok lainnya.  Kunto menjelaskan bahwa artikulasi bangsa harus dirubah contohnya dalam konteks berpolitik melalui partai berlabel Islam, atau berlabel kristen, dalam konteks ini islam mengatakan “, negara sejahtera yang penuh dengan ampunan Tuhan”, bisa diganti dengan “negara sejahtera”. Demikian misalnya dengan orang orang sekuler yang katanya menolak islam, misalnya bisa dengan kata “negara berfikir”. Prularisme demografis dan budaya adalah kondisi Indonesia. mengesampingkan egosentrisme menjadi objektifikasi kelompok yang sangat dibutuhkan, saling mengingatkan muslim dan non-muslim. Menghilangkan fikiran kita melawan meraka, namun dapat diganti dengan misalnya kita melawan permasalahan yang ada besama-sama, berupa kemiskinan, penindasan, dll. “Bahwa Pancasila adalah objektifikasi Islam, dan untuk konsumsi ke luar Masyarakat Islam cukup disebut dengan Masyarakat Madani saja.” “Paradigma Baru Ilmu-ilmu Islam: Ilmu Sosial Profetik sebagai Gerakan Intelektual” yang menjadi bagian bunga rampai Muslim Tanpa Masjid (2001: 139-140).

            Kunto ingin menyampaikan kepada kita bahwa ada cara untuk berdakwh dan membaca keadaan masyarkat lalu mengubah pandangan-pandangan mitos ke ilmu pengetahuan yang baru. Terlebih lagi bagaimana kita menerapkan kebaikan-kebaikan yang ada di Islam kedalam ilmu pengetahuan yang ada. Selanjutnya kita harus faham bukan hanya memanusiakan manusia atau membebaskan kaum tertindas, namun perlu adanya sandaran atau pondasi yang kokoh yaitu Wahyu. Ilmu pengetahuan berkembang dengan islam sebagai dasar pijakan yang kokoh.

            Selanjutnya mari terapkan ini diladang dakwah sehari-hari. Amal ma’ruf yang setiap harinya bisa kita lakukan dan dapat berarti apa saja, dari hal-hal yang sifatnya personal seperti shalat dan dzikir sampai kepada urusan seperti menyantuni anak yatim, ditarik kepada urusan yang bersifat kolektif seperti membangun pemerintahan yang bersih dan mungkin mengusahakan berkembangnya BPJS. Maka dari itu mari kita mengangkat kembali kata humanisasi, menghilangkan sifat kebendaan pada diri manusia.

            Nahi munkar, diharapkan untuk diterapkan dimana saja, seperti membela nasib kaum buruh, mengangkat kembali semangat pembebasan terhadap rakyat rakyat yang tertindas. Untuk itu mari kita mengartikan kata liberasi dengan semuanya berkonotasi terhadap signifikansi sosial.

            Tu’minuna billah mempunyai makna khusus dalam Qur’an, kita coba menggunakan terminologi yang umum, yaitu transendensi. Maksudnya adalah perjalanan ke atas atau hubungan spiritual. Kita bisa gunakan dalam kehidupan sehari hari, sebagai contoh sastra yang mencoba mencari realitas spiritual dibalik gejala-gejala alam. Mennyadarkan semua gerakan transendensi dan humanisai kepada hubungan spiritual.

            Kesimpulannya ialah ilmu sosial profetik merupakan salah satu cara pandang baru terhadap realitas sosial, dengan tiga dasar utamanya yaitu Humanisasi, Liberasi dan Transendensi. Ilmu sosial profetik mencoba untuk menggabungkan ketiganya dan tidak bisa terlepas dari salah satunya. Dengan itu ISP diarahkan kepada masyarakat yang dapat menuju cita-cita sosio-etiknya di masa yang akan datang. Kedatangan ISP seharusnya menjadi tamparan bagi kita karena ternyata peradaban didominasi oleh fikiran sains barat, karena tujuan akhir kita ialah merealisasikan cita-cita outentik bahwa nantinya islam merupakan alternatif peradaban.

oleh: Abid Abdillah – Kader IMM FAI UMY (Alumni MMPM 2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *