Paradigma Islam pada Era Modern

Fara Amrina Revada

A. Latar Belakang

Bagi kaum muslim, Islam adalah sistem nilai paripurna yang memberinya fondasi, rangka dan orientasi dalam berbagai dimensi kehidupan mereka secara holistik dan integratif. Bahkan dalam tata nilai imani kaum muslim, Islam adalah agama masa depan, yang akan menegakkan peradaban masa mendatang sebagai sebaik-baik peradaban umat manusia (Suharyadi, 2001). Islam dan peradaban merupakan satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan. Sejak kehadirannya, Islam telah membawa konsep dan misi peradaban yang inheren dalam dirinya. Islam diakui sebagai agama sekaligus peradaban karena Islam bukan hanya sebuah agama, melainkan creator dan spirit yang hidup bagi sebuah peradaban besar dunia yang sejarahnya terbentang luas lebih dari 14 abad. (Dzulhadi, 2015).

Globalisasi telah mengubah dan mengarahkan kebudayaan manusia, melalui sarana ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga modernitas telah menjadi budaya dunia. Ada beragam sikap agama-agama besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta globalisasi. Dalam kaitannya dengan Islam dan pemikiran Islam, peradaban modern menjadi sebuah tantangan dan sekaligus ancaman terhadap umat Islam. Dalam banyak hal umat Islam merasa terikat dengan tradisi yang dikembangkan atas dasar ajaran universal dari agama yang dianutnya. Akan tetapi, dalam kenyataan praktis, peradaban modern terasa begitu kuat mendesakkan nilai-nilai baru bagi perubahan sikap dan perilaku umat (Basukiyatno, 2006). 

      B. Pembahasan

  • Pengertian Paradigma Islam

Paradigma adalah suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dalam dunia nyata (Mulyana, 2001:9). Paradigma adalah sistem keyakinan dasar yang berlandaskan asumsi ontologi, epistomologi, dan metodologi. Dengan kata lain, paradigma adalah sistem keyakinan dasar sebagai landasan untuk mencari jawaban atas pertanyaan apa itu hakikat antara peneliti dan realitas. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa paradigma merupakan sistem suatu keyakinan dasar atau suatu cara pandang untuk memahami kompleksitas dalam dunia nyata, fakta kehidupan sosial, dan perlakuan terhadap ilmu dan teori.

Islam adalah agamayang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat jibril untuk mengatur urusan hamba dengan khalik, hamba dengan dirinya, dan hamba dengan sesamanya. Jadi, yang dimaksud dengan paradigma islam adalah sistem keyakinan atau suatu cara pandang untuk memahami realita yang ada dan dihukumi dengan sudut pandang islam.

  • Pengertian Peradaban Modern

Istilah peradaban secara etimologi, M. Abdul Karim dalam bukunya sejarah pemikiran dan peradaban islam (2009:33-34) mengemukakan bahwa akar kata peradaban adalah adab. Berasal dari bahasa jawa kawi (kuno) yang berarti kesopanan, hormat menghormati, budi bahasa, etika, dan lain-lain. Peradaban dapat berarti perbaikan pemikiran, tata krama atau rasa. Peradaban dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau singkat pencapaian manusia dan penyebarannya. Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Maka dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yaitu sistem pemerintahan (politik), sistem ekonomi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

  • Sejarah Singkat Peradaban Umat

Abad pertengahan menjadi masa keemasan bagi umat islam. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Perluasan wilayahnya mencapai wilayah Eropa. Salah satunya adalah Andalusia. Kejayaan islam berlangsung cukup lama hingga paa masa kehancurannya. Kehancuran kejayaan islam ini bersamaan dengan Renaisanse di Eropa. Disaat barat diliputi oleh kegelapan, islam ditimur tengah telah bersinar terang dengan peradaban-peradaban kemanusiaan. Bahkan islampun telah menerangi Eropa yang gelap dengan bijaksana. Eropa berkembang dengan pesat juga mendapatkan sumbangsih dari orang-orang islam. Diantaranya adalah transmisi keilmuan Islam ke Eropa. Transmisi ini berupa kontak langsung ataupun para sarjana Eropa belajar pada orang islam yang saat itu mengalami masa kejayaan.

Zaman Renainsanse (abad XIV-XVI) merupakan fase transisi yang menjembatani zaman kegelapan dengan zaman pemerahan. Lahirnya Resainanse menyebabkan seberkas kemilai cahaya peradaban umay mulai bersinar. Tanpa Renaisanse, Eropa mingkin tidak akan menapaki abad-abad modern dengan begitu cepat. Renaisanse berarti “kelahiran kembali”.

  • Perkembangan Islam pada Masa Modern

Pembaharuan dalam islam atau gerakan modern islam merupakan jawaban yang ditunjukkan terhadap krisis yang dihadapi umat islam pada masanya. Kemunduran prograsif Kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khalifah islam setelah abad ke-19 telah melahirkan kebangkitan dikalangan warga Arab. Yang terpenting diantaranya adalah gerakan Wahabi, sebuah gerakan reformis, puritanis (salafiyah). Gerakan ini merupakan sarana yang menyiapkan jembatan kearah pembaharuan islam keabad ke-20 yang bersifat intelektual.

Gerakan itu memberikan pengaruh besar pada gerakan kebangkitan di Indonesia. Bermula dari pembaharuan pemikiran dan pendidikan islam di Minangkabau yang disusul oleh pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Arab di Indonesia, kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk organisasi sosial keagamaan.

  • Perkembangan Revolusi Industri

Revolusi Industri dimulai abad-18 ketika masyarakat pertanian menjadi lebih maju dan urban. Kereta api lintas benua, mesin uap, listrik, dan penemuan-penemuan lainnya mengubah masyarakat secara permanen. Makna dari revolusi industri sendiri yakni perubahan besar cara manusia memproduksi barang atau jasa. Revolusi industri adalah keadaan dimana banyak aspek kehidupan yang terpengaruh oleh perubahan global tersebut. Proses produksi yang mulanya sulit memakan waktu lama dan memakan biaya mahal menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah dalam prosesnya. Bila menghubungkan dengan konsep ekonomi yang membicarakan upaya manusia dalam menghadapi kelangkaan, konsep revolusi industri adalah salah satu cara mengatasinya. Bahwa dengan adanya konsep revolusi industri, resiko kelangkaan tersebut diturunkan atau bahkan dihilangkan. Sehingga tenaga, waktu, dan biaya yang dibutuhkan sebelumnya cukup besar dapat menjadi tidak ada dan dialihkan ke hal lain.

Sebelum revolusi industri 1.0 terjadi, manusia mengandalkan tenaga otot, air dan angin. Dan akhirnya pada tahun 1776, James Watt menemukan mesin uap. Tidak ada lagi permasalahan waktu dan tempat spesifik yang diperlukan untuk memproduksi sesuatu. Revolusi industri 2.0 terjadi diawal abad ke-20. Pabrik pada umumnya telah menggunakan mesin uap ataupun listrik. Dan wujud dari revolusi industri 3.0 adalah penemuan mesin bergerak. Tidak hanya revolusi dibidang industri namun juga dibidang informasi. Dilihat dari sisi positifnya, kemajuan teknologi digital ini mempermudah pekerjaan manusia, sehingga potensi terbesar manusia yang sesungguhnya dapat lebih dioptimalkan, seperti berpikir, memimpin, dan menciptakan karya. Setelah perang dunia kedua, perkembangan komputer juga semakin cepat. Komputer yang dulunya sebesar ruangan, semakin mengecil dengan fungsi yang semakin luar biasa. Saat ini fungsi dari komputer tersebut hanyalah sebagai salah satu perangkat dan kita mulai memasuki era Revolusi Industri baru yaitu Revolusi Industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Dimana hal tersebut merupakan hal vital yang dibutuhkan oleh para pelaku industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah smart factory. Tidak hanya itu, saat ini pengambilan ataupun pertukaran data juga dapat dilakukan ontime saat dibutuhkan melalui jaringan internet sehingga proses produksi dan pembukuan yang berjalan dipabrik dapat termotorisasi oleh pihak yang berkepentingan kapann saja dan dimana saja selama terhubung dengan internet. Hal itu membuat terbukanya juga informasi-informasi yang bisa kita dapatkan dari dunia luar yang membuat batas-batas negara maupun benua sudah semakin tak terlihat.                      

Dengan adanya globalisasi, problematika yang dihadapi manusia menjadi sangat kompleks. Menurut para ahli peneyebab Globalisasi adalah perkembangan teknologi, sains, ekonomi, dan kecanggihan sarana informasi. Tidak diragukan lagi bahwa Globalisasi dengan media-media tersebut telah mempengaruhi kehidupan masyarakat global secara signifikan. Menurut (Yapono, 2015), dalam pengalaman sejarah, era industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap di Inggris awal abad 19 Masehi, menjadikan masyarakat sebuah negara mendambakan rasionalitas, efesiensi, teknikalitas, cenderung individualitas, mekanistis, dan materialistis. Hal-hal yang berbau doktrin agama yang tidak logis, tidak mendapat tempat di masyarakat Barat. Akibatnya, nilanilai agama dan budaya pun tergerus.

Mahatir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, menganalisa dan mengingatkan masyarakat Timur akan pengaruh negatif Globalisasi. Menurutnya, dampak negatif Globalisasi yang dibawa oleh negara-negara Barat bertujuan agar semua masyarakat mengikuti cara hidup orang-orang Barat. Efek-efek negatif tersebut dapat diuraikan secara ringkas sebagai berikut: Pemiskinan nilai spiritual, jatuhnya manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material, peran agama hanya sebatas urusan akhirat, sedang urusan dunia menjadi wewenang sains, Tuhan hanya hadir dalam pikiran dan lisan,tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan, gabungan ikatan primordial dengan sistem politik melahirkan nepotisme birokratisme dan otoriterisme, munculnya individualisme yang mengancam kehidupan sosial keagamaan dan gotong royong seperti lazimnya di dunia Timur, terjadinya frustrasi eksistensial, seperti hasrat yang berlebihan untuk berkuasa dan merasa hidup tidak bermakna, terjadinya ketegangan-ketegangan informasi di kota dan di desa dan menjadikan masyarakat hidup konsumtif.

Gaya hidup konsumtif di atas tercermin dalam pada 3F, yaitu Food (makanan), Fashion (mode) dan Fun (hiburan). Manusia yang hanyut dalam Globalisasi itu akan terus cenderung bersifat materiaslistik, hedonistik, ektravaganza, foya-foya, dan melupakan masa depan. Lebih lanjut, dampak negatifnya adalah perilaku seks bebas yang dianut oleh masyarakat Barat menjadi panutan. Degradasi moral telah terjadi dari waktu ke waktu.

Yang paling krusial tentang efek negatif di atas adalah distorsi perananan agama dalam kehidupan masyarakat, terutama masyarakat Muslim, yakni agama hanya bersifat keimanan dan ketaatan, namun belum merasuk ke dalam jiwa dan hati sebagaimana yang dikehendaki oleh konsep ihsan. Ini menyebabkan manusiamanusia beragama hilang keseimbangan spiritualitasnya. Siapa yang mengadopsi agama hanya pada keimanan dan ketaatan tanpa adanya ihsan (akhlak/tasawuf), maka agamanya belum sempurna karena ia telah menghilangkan salah satu rukun agama yang vital. Hal ini dapat dibuktikan oleh perilaku manusia Muslim modern yang kelihatan alim namun sebenarnya hampa spiritualitas bahkan cenderung bejat. Ini karena ihsan telah didistorsi dari sistem keislamannya (Yapono, 2015).

  • Posisi Islam dala Globalisasi

Islam sebagai ajaran global yang memiliki ajaran universal merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari globalisasi. Menyikapi problema globalisasi, maka prinsip-prinsip ajaran Islam yang universal bisa dijadikan dasar berpijak bagi umat muslim. Islam pada prinsipnya satu secara akidah, tetapi pada bidang-bidang yang lainnya, boleh jadi berbeda, atau malah bertentangan. Namun demikian, semua itu secara keseluruhan tetap berada dalam naungan Islam. Dalam menyikapi globalisasi ekonomi yang merupakan bagian dari realita saat ini, Islam sebagai sebuah ajaran moralitas memberikan batasan-batasan agar tidak terjadi eksploitasi antara manusia yang satu dengan yang lain. Islam menghendaki persamaan (musawwah) atas prinsip harta tidak hanya beredar di kelompok-kelompok tertentu saja. Perilaku ekonomi Islam bertujuan untuk menyejahteraan semua pihak.

Pada aspek budaya, Islam memiliki kebudayaan sendiri yang kosmopolit, tetapi Islam juga mengakui eksistensi kebudayaan lokal. Pada aspek pendidikan, tawaran yang hendak disampaikan oleh Islam adalah pendidikan yang integralistik. Berbeda dengan pendidikan umum dewasa ini, Islam tidak menghendaki dualisme pendidikan. Pendidikan selain diperuntukkan untuk mencapai ‘kebahagiaan’ dunia, juga seyogyanya diwarnai dengan nilai-nilai transendensi kepada Sang Maha Pendidik, yaitu Allah Swt.

Pada aspek teknologi, Islam menghendaki teknologi yang tepat guna, dalam arti, tidak hanya memberikan kemudahan dan kenyamanan, tetapi juga tetap menempatkan manusia sebagai subjek penentu. Teknologi juga tidak boleh mengeksploitasi alam secara membabi buta sehingga merusak ekosistem yang ada. Globalisasi yang berangkat dari penggunaan teknologi yang merusak ekologi inilah yang dilarang dalam Islam. Pada aspek seni, terutama seni musik yang relatif paling cepat perkembangannya dibanding dengan seni yang lain, suasana globalnya sangatlah nampak, suatu bentuk musik yang menjadi top di suatu wilayah bisa dengan cepat diadopsi wilayah lain, sebagaimana yang terjadi dalam dunia mode dan pakaian. Oleh sebab itu, penyebaran dari aspek yang disebutkan di atas, kita harus memfilternya agar pengaruh globalisasi tidak membawa dampak yang negatif secara signifikan.

  • Kesimpulan dan Saran

Universalitas Islam dapat berperan dalam menyikapi problem globalisasi dan menjadi pijakan bagi umat Islam, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan Ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaum Muslimin harus dapat memberikan suatu alternatif kepada masyarakat yang lebih spiritual, khususnya dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan, politik dan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *