Sexual Harassement

Sexual Harassement

Oleh :

Raihasih Imtinaniyah Defanera

 

Speak up, Kamu tidak salah!

Kebanyakan orang menganggap korban dengan sexual harassment itu hanya perihal psikologis yang terganggu, kemudian apakah hanya dampak psikologis saja yang terjadi pada perempuan dengan korban sexual harassment? Jelas ada banyak dampak yang terjadi pada perempuan dengan sexsual harassment yaitu ada dampak kesehatan yang terganggu. Jadi, bagaimana sebenarnya sexual harassment yang berdampak bagi kesehatan perempuan?

Sexual harassment ialah pelecehan sexual,arti  pelecehan sexual sendiri adalah perilaku tentang seks yang tidak diinginkan bisa saja dengan bentuk lisan, sentuhan, ataupun tindakan dengan paksaan ect. bagaimana pelecehan sexual itu terjadi?

Banyak contoh tindakan tersebut dengan dari mulai bercandaan, ejekan,  pertanyaan, komentar, pernyataan seksual yang tidak diinginkan –dan bersiul kepada orang lain hingga terjadi sesuatu yang merugikan atau menyakiti korbannya atau tindak pemerkosaan.

Respon society terhadap korban selalu buruk dan respon kepada pelaku justru malah dibela. Korban yang di adili atau mendapatkan sebuah victim blaming, menyalahkan korban.Kebanyakan korban sexual harassment selalu diam tidak berani bercerita karena adanya ancaman dari pihak pelaku. Malu? Tidak berani? Dianggap aib? Whatever, justru harus selalu speak up. Sexual Harassment selalu dikaitkan dengan penampilan seorang perempuan even dengan penampilan terbuka padahal terbuka atau tertutup bisa saja terjadi.

Contoh kasusnya saja di salah satu universitas negeri di kota pelajar yang membumikan masalah sexual harassment menganggap tidak terjadi apa – apa justru sebenarnya di posisi lain korban meminta keadilan atas perkaranya untuk segera di selesaikan dan pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal bukan hanya tertahannya waktu pelulusan yudisium dan korban justru mendapatkan nilai dibawah standar hanya karena korban dianggap penikmat dari sexual harassment yang dilakukan pelaku.

Society berargumen bahwa mengapa korban diam saja ketika hal tersebut menimpa, “harusnya kan teriak, harusnyakan lari, mengamankan diri” kemudian “harusnya kan segera lapor, harusnya jangan diam saja setelah beberapa lama baru mau lapor, itu sudah basi sudah berlalu” . mengapa korban seperti ini, tentunya korban memiliki alasan dan alasan tersebut sangatlah bisa dipertanggung jawabkan apalagi dalam teori kesehatan dan psikologis. Dalam psikologis mengapa korban diam saja tidak langsung bercerita? Karena korban merasa jika bercerita mungkin saja teman atau keluarga merasa tidak percaya dan korban berfikir apakah mereka akan menerimanya atau malah memberikan victim blaming tersebut. Dalam ilmu kesehatan  korban sexual harassment atau kasus terjadinya pemerkosaan korban tidak bisa melawan karena adanya respon tubuh sehingga tidak bisa melawan jangan dianggap menikmati menurut Dr. Jiemi Ardian Ketika seseorang mengalami ketakutan secara ekstrim, maka tubuh memiliki mekanisme pertahanan diri, tinic immobility Apa itu? Yaitu berupa ketidakmampuan tubuh bergerak sampai ancaman bahaya berlalu. Dan ini adalah reaksi biologis tubuh, kita tidak bisa memilih untuk tidak demikian. Kemudian ada juga yang menyebutnya dengan perumpamaan “kucing dan ikan” tentunya semua sudah paham apa maksud dari perumpaan tersebut, disini yang menjadi perumpaan ikan ialah perempuan, perempuan dianggap sebagai korban yang menikmati tindakan yang sangat tidak terhormat padahal dalam teori kesehatan merupakan suatu hal yang biologis bukan karena suka atau menikmati. Reaksi biologis ditandai dengan adanya orgasme karena orgasme itu reaksi fisiologis tubuh yang bisa terjadi pada saat pemerkosaan, walaupun korban tidak menikmati. Dan orgasme bukan hanya reaksi psikologis.

Dari dampak – dampak yang sedikit dipaparkan terdapat dampak penyakit atau akibat dari sexual harassment dengan contoh kasus diatas yaitu terserangnya penyakit menular sexual, peradangan pada vagina, nyeri pada saat berhubungan karena adanya suatu paksaan, ada juga resiko kehamilan yang tidak diinginkan kemudian menjadi titik terberat seorang korban dan bisa saja memicu tindakan bunuh diri karena depresi yang dialaminya.

Sexual harassment yaitu suatu kekerasan terhadap perempuan kebanyakan, sexual harassment yaitu tindak kriminal terhadap korbanya jangan mati rasa karena perumpamaan “kucing dan ikan” harus bisa memahami mana yang salah mana yang benar mana yang harus dibela mana yang harus diadili.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *