Gerakan Mahasiswa 4.0: Sebuah Refleksi Menuju Adaptasi

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (4 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Gerakan Mahasiswa 4.0: Sebuah Refleksi Menuju Adaptasi

Oleh : Muhammad Saiful Aziz

Ketua Bidang Hikmah PC IMM AR Fakhruddin Yogyakarta

 

Dalam sejarah gerakan mahasiswa, sejarah mencatat pada era orde lama tepatnya pada 1966 terjadi sebuah peristiwa dimana gerakan-gerakan mahasiswa terkonsolidasi dan kemudian menjalankan demonstrasi. Berlandaskan pada realitas yang terjadi, mahasiswa beramai-ramai turun ke jalan dengan satu bendera yang bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), melahirkan tuntutan yang bernama Tritura. Gemuruh aksi yang diciptakan pun berlanjut pada era 1974. Pada tahun tersebut sejarah mencatat mahasiswa kembali terkonsolidasi di bawah komando Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Hariman Siregar, mahasiswa kembali melancarkan demonstrasi pada momentum berkunjungnya Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka, menentang derasnya investasi Jepang di Indonesia yang kala itu mereka sebut sebagai neo-kolonialisme Jepang terhadap Indonesia. Sejarah mencatat demonstrasi tersebut melahirkan malapetaka dengan memunculkan kerugian sebanyak 807 mobil dan motor buatan Jepang yang hangus dibakar massa, 11 orang meninggal dunia, 300 orang luka-luka, 144 buah bangunan rusak berat, 160 kg emas hilang dari toko-toko perhiasan sehingga malapetaka tersebut diberi nama Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari). Tak berhenti di situ, pekikan suara mahasiswa di jalan berlanjut pada era 1998 dimana terjadi konsolidasi dan demonstrasi dalam skala besar yang didendangkan oleh mahasiswa yang dengan gagah berani mampu memukul mundur aparat dan berhasil menduduki Senayan dan secara heroik mampu menekan mundur rezim yang berkuasa selama 3 dekade lebih di bumi Nusantara. Melalui tangannya, mahasiswa menabuh genderang transisi orde baru ke reformasi.

Berikut adalah romantisme-romantisme yang menyelimuti gerakan mahasiswa hingga kini. Dengan kepalan tangan dan pekikan “Sumpah Mahasiswa Indonesia”, romantisme tersebut selalu saja hadir dan menyeruak dalam memori gerakan mahasiswa. Heroisme memuncak dalam setiap demonstrasi dan sumpah yang dipekikan. Namun ada kalanya kita berpikir bahwa romantisme tersebut justru malah meninabobokan kita. Kini di antara kita, ada yang selalu berpikir untuk menjadikan demonstrasi sebagai satu-satunya cara untuk merespon fenomena sosial dan politik yang terjadi. Padahal kita lupa bahwa sejatinya demonstrasi hanyalah salah satu opsi dalam melakukan respon. Kita bahkan terkadang juga lupa melakukan edukasi kepada massa aksi atas realitas yang terjadi sehingga lahirlah massa mekanis yang tidak mampu mengartikulasikan tuntutan yang dibawa. Padahal sejatinya mahasiswa merupakan massa intelektual, yang mampu mengartikulasikan realitas pada masyarakat yang terjadi melalui pekikan orasi-orasi yang disampaikan ataupun dalam lagu-lagu yang dilanggamkan. Pada akhirnya kita lupa akan substansi.

Di sisi lain, kita lupa bahwa hari ini kita memasuki era baru yang kita sebut dengan Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri ke-4 yang dimulai pada tahun 2000an, membawa otomatisasi lebih jauh dan berputar sekitar sistem produksi maya-fisik (cyber-physical production systems). Secara luas hal ini meliputi berbagai kemajuan teknologi yang dikenal sebagai smart factories, Industrial Internet of Things, Smart Industry, atau Advanced Manufacturing (Kinzel, 2016). Selain itu munculnya Artificial Inteligence juga menjadi sebuah fenomena yang mengubah berbagai relitas yang ada pada masyarakat.

Sayangnya banyak dari gerakan mahasiswa yang gagap dalam merespon era Revolusi Industri 4.0 tersebut. Banyak dari kita yang masih memiliki persepsi bahwa satu-satunya cara untuk merespon sebuah isu sosial politik hanyalah dengan cara demonstrasi. Padahal kita lupa bahwa munculnya realitas Internet of Things tersebut dapat memperkaya gerakan yang dapat diadaptasi oleh gerakan mahasiswa. Contohnya munculnya petisi online dapat memudahkan gerakan mahasiswa untuk melakukan pressure. Change.org sebagai salah satu contoh platform petisi online telah berhasil membawa keberhasilan terhadap pembuat petisi, yang terbaru terdapat contoh yakni petisi online yang diinisiasi oleh Emerson Yuntho dengan turut ditandatangani oleh 135.829 penandatangan, mampu membuat Edy Rahmayadi mundur dari jabatannya. Hal tersebut hanya satu keberhasilan dari sekian keberhasilan yang ada. Selain itu terdapat stigma juga dalam gerakan mahasiswa bahwa satu-satunya cara untuk melakukan gerakan penyadaran adalah dengan cara berorasi di tengah jalan. Padahal terdapat cara yang bernama online campaign yang dapat dipadupadankan dengan offline campaign. Dua hal tersebut hanyalah dua dari sekian banyak inovasi yang muncul dari lahirnya Revolusi Industri 4.0.

Selain itu hari ini muncul kelompok yang bernama Gerakan Sosial Baru yang secara populisme cenderung memiliki tren yang naik. Pergeseran dari masyarakat modernis ke post-modenist-post-society, dicerminkan oleh pergeseran serupa dalam bentuk gerakan-gerakan sosial yang berubah dari bentuk ‘lama’ gerakan klasik dan neoklasik ke gerakan sosial ‘baru’. Tidak seperti gerakan klasik, medan Gerakan Sosial Baru umumnya transnasional. Wilayah aksi, strategi dan cara mobilisasi mereka adalah global. Perhatian sosial dan isu-isu yang bergulir menyeberangi batas-batas bangsa dan masyarakat (Singh, 2010). Munculnya gerakan-gerakan seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Greenpeace menjadi contoh gerakan yang cukup populer sebagai bukti dari lahirnya Gerakan Sosial Baru. Populisme Gerakan Sosial Baru dapat menjadi ancaman bagi gerakan mahasiswa apabila tidak mampu melakukan adaptasi, juga akan dapat melemahkan eksistensi dari gerakan mahasiswa itu sendiri.

Maka gerakan mahasiswa kini harus dapat move on dari romantisme sejarah dan bangkit membuat gebrakan sejarah baru. Konteks gerakan yang cenderung ‘begitu-begitu saja’ cenderung tidak mampu menarik simpati masyarakat terhadap gerakan mahasiswa. Justru kini cenderung simpati masyarakat terhadap gerakan mahasiswa menurun dan masyarakat kini lebih simpati pada model-model Gerakan Sosial Baru yang bermunculan. Selain itu gerakan mahasiswa yang cenderung kurang adaptif terhadap perkembangan zaman maupun teknologi apabila tidak dapat diredam akan menciptakan lubang kubur bagi eksistensinya sendiri. Maka kini gerakan mahasiswa harus mampu bertransformasi menjadi ‘Gerakan Mahasiswa 4.0’ sebagai langkah adaptasi diri. Menjadi ‘Gerakan Mahasiswa 4.0’ artinya menjadi gerakan mahasiswa yang mampu memanfaatkan fenomena internet of things dalam membangun gerakan. Menjadi ‘Gerakan Mahasiswa 4.0’ berarti menjadi gerakan yang humanis dan simpatik terhadap masyarakat.

Maka gerakan mahasiswa, bangunlah dari romantisme sejarahmu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *