Post-Truth itu Candu

Post-Truth itu Candu

Oleh : Abie Dhimas Al Qoni Fatarrudin

(Ketua Bidang SPM PC IMM AR Fakhruddin Yk)

Kata Post-Truth ditetapkan sebagai “Word of The Year” tahun 2016 oleh kamus Oxford. Ditandai dengan adanya dua momentum besar, yaitu keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa atau biasa dikenal dengan referendum Brexit dan terpilihnya Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Penggunaan kata post-truth meningkat sampai 2000% semenjak adanya dua peristiwa tersebut. Post-Truth menurut kamus Oxford adalah kondisi dimana fakta tidak berpengaruh lagi dalam menentukan opini publik dibanding emosi atau perasaan personal. Fenomena post-truth tidak hanya terjadi di Inggris ataupun Amerika, namun juga sudah merambat ke Indonesia. Peristiwa yang memancing lahirnya post-truth di Indonesia antara lain, isu SARA Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2014, isu anti komunisme, dan lain-lain.

Saat ini fenomena post-truth dengan mudah tersebar ke seluruh penjuru tanah air. Hal itu dipermudah dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang semakin hari semakin cepat. Perkembangan teknologi memicu setiap individu dapat mengakses informasi dengan mudah dan cepat tanpa ada batas ruang waktu. Akses informasi didapatkan melalui media sosial. Media sosial menyediakan fitur yang bisa dimanfaatkan individu untuk saling berdikusi secara interpersonal. Tidak semua informasi atau berita yang disebar lewat media sosial adalah benar. Terkadang berita dimedia sosial mengandung kebohongan atau fake news dan ada juga yang direkayasa atau hoax. Berita-berita seperti itu mengakibatkan lahirnya post-truth. Penyebaran fake news dan hoax di Indonesia kebanyakan dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan isu yang digunakan adalah SARA. Isu SARA sangatlah menjual untuk menipu dan mempengaruhi masyarakat Indonesia.

Komunikasi interpersonal antar individu dimedia sosial memunculkan komunitas visual. Komunitas ini hanya diikuti oleh individu-individu yang memiliki ideologi, keyakinan, tujuan sama dan pada akhirnya melahirkan ikatan emosional satu anggota dengan lainnya. Karena ikatan emosional inilah fake news dan hoax dapat mempengaruhi individu dengan mudah. Selain itu penyebaran fake news dan hoax yang dilakukan secara terus-menerus dan berulang akan membuat berita tersebut menjadi berita benar. Individu yang sudah terjangkiti penyakit post-truth akan merasa dirinya paling benar dan menganggap semua informasi salah jika tidak sesuai keyakinan kelompoknya. Hal itu akan berbahaya karena dapat mengakibatkan pembenaran atas semua tindakan yang ia lakukan. Konflik horisontal dimasyarakat dapat terjadi disebabkan oleh tersebarnya informasi sesat dan pembenaran atas nama kelompok tanpa mau saling berdamai. Pembunuhan dan pengrusakan tempat ibadah atas nama agama banyak terjadi karena suatu kelompok merasa benar.

Post-Truth dapat menjadikan individu candu atas pembenaran segala tindakan yang dilakukannya. Maka dari itu, seorang individu harus melakukan pengecekan atau tabayyun terhadap berita atau informasi yang ia peroleh, terutama informasi yang berasal dari media sosial. Selain itu, banyak membaca buku juga perlu untuk menambah pengetahuan dan bisa menganalisis berita atau informasi yang didapat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *