PEREMPUAN SEBAGAI KOMODITAS MEDIA DULU-SEKARANG

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (1 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

PEREMPUAN SEBAGAI KOMODITAS MEDIA  DULU-SEKARANG

Oleh : Sofia Hasna

(Ketua Bidang Medkom PC IMM AR Fakhruddin YK)

Perlu diketahui bahwasanya gender merupakan bagian dari konstruksi sosial dan budaya dimana sifat tersebut melekat pada perempuan dan laki-laki. Namun, masih saja konstruksi sosial terhadap perempuan selalu tersubordinasikan oleh  faktor-faktor yang dikonstruksikan secara sosial. Banyak mitos dan kepercayaan yang menjadikan kedudukan perempuan berada lebih rendah daripada laki-laki. Hal itu semata-mata karena perempuan dipandang dari segi seks, bukan dari segi kemampuan, kesempatan dan aspek-aspek manusiawi secara universal, yaitu sebagai manusia yang berakal, bernalar dan berperasaan.

Perempuan selalu saja dijadikan komodifikasi oleh media massa. Baik dari segi perfilman dan juga dari segi periklanan. Contoh saja pada saat Globalisasi semu (1970-1985) zaman kepemimpinan Soeharto saat itu banyak sekali munculnya film-film dewasa yang ditayangkan dalam bioskop. Karya-karya film dewasa tersebut seperti, Wadjah seorang laki-laki (1971), Cinta Pertama (1973), dan juga dengan poster yang menghebohkan dengan gaya erotisnya oleh pemain populer pada saat itu Suzanna yaitu film Bernafas Dalam Lumpur (1970). Yang perlu diketahui disini adalah tahun 1970 sensor lebih terbuka pada adegan seks, sehingga banyak karya berbau seks laku di pasar. Walaupun pada tahun 1970-1985 segala sesuatu hal yang berkaitan dengan media secara langsung dikontrol oleh Soeharto dan juga pada saat itu benar-benar sangat jarang adanya pemberitaan kritis terkait pemerintahan Soeharto. Hal ini menunjukkan adanya paradoks dalam kepemimpinan Soeharto bahwasanya pada zaman ini lebih mengedepankan film berbasis seksual dibandingkan dengan adanya pemunculan pemberitaan kritik sosial. Bisa dilihat dari pernyataan diatas bahwasanya lagi-lagi perempuan dijadikan komoditas media  yang dapat membuat persepsi baru bahwasanya perempuan itu apa yang digambarkan dalam film dewasa tersebut. Sehingga kasus perempuan tersubordinasikan sangat besar yang menimbulkan ketimpangan kesetaraan. Bukti bahwa perempuan tersubordinasikan adalah tubuh perempuan menjadi bahan eksplorasi media sehingga derajat perempuan menjadi rendah. Hal ini menjadikan konstruksi sosial dan budaya semakin kuat bahwasanya perempuan itu lemah, lembut, dan dapat mengekplorasikan tubuh di media pada saat itu. Sangat ironis sekali tidak ada kesetaraan sosial yang menggambarkan perempuan dapat melakukan apa yang laki-laki lakukan. Lagi-lagi kembali lagi kepada komodifikasi media yang membentuk konstruksi sosial masyarakat.

Selanjutnya pada era zaman Globalisasi saat ini semakin banyaknya komodifikasi media salah satunya dengan identitas sebagai perempuan. Pada era saat ini banyak sekali kontes kontes kecantikan salah satunya yang diadakan oleh Sari Ayu yaitu Putri Indonesia. dapat dilihat dari segi tayangan tersebut bahwasanya yang disorot dalam media adalah perempuan itu cantik dengan kulit putih, lemah-lembut. Seperti hal nya dalam sebuah periklanan. Romantisme,keglamoran, kosmetik, fashion yang terjadi pada iklan wardah yang dibintangi oleh Dewi Sandra. Yaitu perempuan dijadikan komoditas media dalam mencapai tujuan marketing. Sorotan media saat ini yang membuat persepsi bahwasanya perempuan itu masih tidak memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Walaupun untuk akhir-akhir ini sudah mulai muncul sorotan media terkait perempuan yang terlihat mandiri yang mengedepankan aspek gender.

Jarang sekali media menyorot terkait kemandirian perempuan. Walaupun sudah beberapa media khususnya film-film terkait emansipasi perempuan, seperti film ‘Kartini’, dan yang baru-baru ini film ‘Nyai Ahmad Dahlan’. Yang menceritakan perjuangan perempuan. Film ini yang seharusnya yang harus dikembangkan ditengah krisis isu gender yang beredar. Yang sering adanya komoditas media terhadap eksplorasi media.

Gender merupakan peran-peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat, serta tanggung jawab dan kesempatan laki-laki dan perempuan yang diharapkan masyarakat agar-agar peran sosial tersebut dapat dilakukan keduanya (perempuan dan laki-laki). Namun, mirisnya adalah budaya Indonesia peran gender adalah sebuah produk budaya daripada produk biologi. Individu mempelajari masing-masing peran laki-laki maupun perempuan. Pembagian kerja yang berdasarkan jenis kelamin didukung dan dibenarkan oleh sistem kepercayaan dan nilai yang menyatakan bahwa peran gender adalah normal, alami, benar dan layak.

Karena budaya Indonesia secara kental dipengaruhi oleh etika agama Islam akibat penduduknya didominasi oleh penganut agama Islam, dengan demikian kedudukan dan peran perempuan juga turut terbentuk dengan mengacu pada nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam.

Media juga adalah stakeholderspaling penting bagi masyarakat. Jaman era modern ini hal bisa didapatkan melalui media. Baik konvensional maupun digital. Hal ini jugamenjadi sorotan dan menjadi contoh masyarakat sehingga dapat membuat persepsi baru melalui konstruksi sosial.

Oleh karen itu, seharusnya perempuan jangan dijadikan sebuah komoditas media yang hanya sebagi eksplorasi yang membuat persepsi terkait perempuan yang tersubordinasikan. Media menjadi elemen penting bagi mayarakat dalam konstruksi sosial sehingga membentuk persepsi hingga menjadi budaya baru. Yaitu lebih menonjolkan terkait kesetaraan gender yang lebih pada emansipasi perempuan. Sehingga tidak ada ekplorasi perempuan terhadap media dengan membentuk persepsi subordiansi perempuan.

Sebagai kader IMM seharusnya melakukan hal terkecil untuk menuju hal yang besar misalnya adalah membuat channel media dan optimalisasi media baik media sosial maupun secara konvensional terkait meningkatkan sorotan peranan perempuan dan kesetaraan gender. Sehingga media baru dapat menyalurkan kepada masyarakat dan terjadinya perubahan persepsi dan pola perilaku terhadap kedudukan perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *