Mewujudkan Masyarakat Madani dengan Al Quran

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (4 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Mewujudkan Masyarakat Madani dengan Al Quran

Oleh : Raka Imby A.

(PK IMM FPB UMY)

Seperti yang kita ketahui, Al Quran diturunkan kepada Muhammad ﷺ selama 23 tahun masa kerasulan beliau. Al Quran di turunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah ﷺ dengan perantaraan malaikat Jibril. Hal ini disebutkan dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 97. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad), Barang siapa menjadi musuh Jibril maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.”

Jika kita benar-benar ingin mewujudkan kembali masyarakat madani, maka kita harus memulai dari masing-masing individu terlebih dahulu. Langkah awalnya yaitu berusaha untuk memahami Al Quran. Mungkin ada sebagian dari kita yang berkata, “Mengapa kita perlu memahami Al Qur’an? Tidakkah cukup dengan membaca Mushaf dan membaca terjemahannya saja ?”. Ternyata hal itu tidaklah cukup.

Karena Al Quran diciptakan sebagai pedoman hidup manusia. Akan ada suatu “rasa” yang diberikan Allah kepada hati kita jika kita berusaha memahami Al Quran. Rasa ini didapat karena kita membaca firman-firman Allah Ta’ala, lalu kita mengambil makna dari friman-firman tersebut. Membaca dan memahami ayat-ayat suci itulah yang menjadi “makanan” untuk hati kita.

Dan sesuai dengan ayat di surah Al Baqarah tadi, Al Quran itu diturunkan “dihati” Nabi Muhammad ﷺ, bukan “diakal” pikiran beliau. Artinya Al Quran itu adalah konsumsi/makanan hati kita, bukan hanya sekedar pikiran saja. Rasa itulah yang menjadikan kita nikmat mengenal Allah, memahami kehendak-Nya dan ringan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Bila kita mentadaburi Al Quran, maka Allah akan mengajarkan kepada kita sebuah pengetahuan melalui hati kita dengan perantaraan “ilham”. Seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wata’ala dalam surah Asy Syams ayat 8-10 yang artinya : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Lantas bagaimana ilham tersebut bekerja? ilham itu sebagai furqan atau pembeda mana amal yang haq atau benar dan mana yang bathil atau salah. Sebagai contoh, ketika kita masuk ke tempat maksiat maka hati kita akan merasa tidak enak atau tidak nyaman. Itulah peringatan dari hati kita yang bersih. Furqan inilah yang dibutuhkan di dalam kehidupan ketika berperang melawan bisikan – bisikan syaitan yang membujuk – bujuk kita untuk berbuat maksiat dengan iming – iming duniawi yang menggiurkan. Karena itu sangatlah kita memerlukan furqan yang menjadikan diri kita ini mantap mengetahui yang haq dan yang bathil.

Seperti disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam surah Al Anfaal ayat 29 yang artinya : “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

Memang solusi pemahaman Al Quran ini tidak akan dapat berhasil bila sistem pendidikan agama di Indonesia contohnya tidak berjalan intensif sejak dini. Sebagai permisalan, pelajaran bahasa Inggris diajarkan sejak SD. Maka kita lihat ketika lulus SMA, mereka sudah bisa belajar dari diktat berbahasa Inggris yang sudah mereka pelajari selama 12 tahun itu. Bila sistem ini diterpakan juga untuk bahasa Arab yaitu sebagai media inti pemahaman Al Quran, maka ketika lulus SMA bisa jadi seorang muslim pasti sudah mulai bisa memahami Al Quran dengan mandiri.

Memahami Al Quran memang bukan fardhu kifayah yang hanya dibebankan kepada ulama, kiai ataupun ustadz saja. Tapi seperti yg dicontohkan oleh para sahabat, membaca, memahami, dan melaksanakan Al Quran dilakukan sebagai kewajiban individual setiap kaum muslimin. Bila secara individual seorang muslim meningkat kualitasnya, maka keluarga yang dibinanya juga akan berkulaitas sehingga akhirnya sebuah masyarakat madani yang dirindukan selama ini juga dapat terwujud.

Semoga dengan tulisan yang saya buat ini, pembaca dapat mengambil inti dari narasi yang sudah saya susun tersebut. Saya selaku penulis juga bukan ahli dalam hal agama, namun dengan tulisan ini saya berusaha mengajak diri saya pribadi maupun pembaca untuk selalu memahami dan mentadaburi Al Quran. Selebihnya saya mohon maaf apabila ada salah kata dalam tulisan tersebut, jika terdapat kesalahan itu datangnya dari diri saya pribadi, adapun jika benar maka itu datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala. Billahi fii sabililhaq fastabiqul khairat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *