IMMawan dan IMMawati, Tak Sekadar Merah

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (3 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

IMMawan dan IMMawati, Tak Sekadar Merah

 

Oleh : Bayujati Prakoso – PC IMM Jaksel

“IMM mendeklarasikan diri dan dibaiat sebagai organisasi yang meletakkan nalar ilmu sebagai jantung gerakan organisasi. Tanpa detakan jantung yang normal dan sehat, maka sulit badan bergerak apalagi melakukan gerakan mewujudkan perubahan, justru yang terjadi menunggu detik-detik perceraian antara badan dan roh (kematian).

Amirullah – IMM Untuk Kemanusiaan (2016)

IMMawan dan IMMawati

Kerap kali berbicara tentang organisasi, kitaakan berbicara tentang individu yang menjalankan organisasi IMM (baca: Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Maka, sudah pasti menjadi sebuah konsekuensi logis kader IMM dalam menjalankan gerakan organisasi, dengan kaderisasi dan dakwah nya yang khas. IMM ini sudah berdiri kokoh, dan lagi-lagi ditengah arus modernisasi bahkan hingga kini di era perkembangan teknologi, revolusi industri 4.0 yang salah satunya kita berada pada era disrupsi inovasi (Disruption Innovation Era) menjadi sebuah tuntutan kader IMM terus mampu mengembangkan dan memassifkan ekspansi dakwahnya dengan pemikiran kreatif – inovatif – solutif, serta aware terhadap situasi zaman, dalam berbagai lini kehidupan, beragama, berbangsa dan bernegara.

Selain itu, pembentukkan jati diri dan pengembangan nya harus diketahui betul oleh kader IMM. Kendati demikian, sehingga pesan founding fathers dapat terwujud dengan mewarisi IMM kepada kita sebagai penerus, dan mewujudkan cita-cita Muhammadiyah. Maka, inimenjadi sebuah konsekuensi dan sebagai landasan perjuangan bagi kader IMM itu sendiri, dengan mampu memaknai dan mengaktualisasi kan sebuah panggilan kehormatan di IMM, yaitu IMMawan dan IMMawati.

IMMawan dan IMMawati. Panggilan yang memiliki marwah di dalam setiap langkah perjuangannya. Sebenarnya ini yang menjadi sebuah kegelisahan, kerisauan penulis terhadap kader IMM dalam menjalankan ikatan. Esensi gelarini yang perlu dimaknai, dihayati bahkan dijadikan sebagai marwah dalam meneruskan khittah perjuangan ikatan. Demikian, berangkat dari gagasan, yang beranjak kepada pengalaman. Yang kemudian menjadi pengamalan di ikatan.IMMawan Shareza, kader IMM UMSU dalam tulisan nya yang berjudul “Sakralnya Gelar Diriku dan Dirimu “IMMawan/IMMawati”(Qorib et al, 2016: 33-36),yang memberikan sebuah gagasan reflektif-kontemplatif pada diri kader, yang menyebut dirinya IMMawan/IMMawati, dan sebagai upaya mendorong kader IMM agar tidak lupa bahwa ia mengemban amanah yang begitu besar dalam dirinya.

Takheran jika kader IMM seolah lepas landas. Hal ini memungkinkan terjadinya kecenderungan-kecenderungan negatif. Diantaranya,“sebagian (mungkin) seperti, masih adanya merasa dimiliki oleh satu orang alias berpacaran, mencari eksistensi, kegiatan yang bersifat jangka pendek, minim refleksi, minim akan penting nya adab sebagai seorang akademisi, hingga sampai pada berada diwilayah politik praktis”. Hal itu bukan ciri kader IMM.

Pasalnya, inilah yang dapat merusak organisasi, dan merusak moral bangsa. Kemajuan bangsa salahsatu nya diukur darimana keseriusan warga negaranya untuk memajukan bangsanya, kemampuan menangkap realitas, menganalisis, dan membuat kemajuan dari berbagai sektor, baik dalam pendidikan, maupun gerakan kemanusiaan yang digaungkan oleh IMM. Jika begini, “IMM sebagai organisasi intelektualisme dan gerakan akhlak menjadi terkikis, dan terjerumus pada dalamnya lika-liku tersebut.”

Dalam arti lain, IMM menjadi tidak maju, tidak dapat menangkap realitas, dan tidak dapat memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara. Terlebih kader IMM akan semakin tertinggal jika problematika tersebut akan terus bergulir dan beregenerasi terus-menerus. Dengan kata lain, kader IMM akan tertinggal, dan hal-hal negatif menjadi tradisi yang selalu diproduksi secara massal, dan tidak ada perubahan ke arah lebih baik.

Selanjutnya, sebagai aktivis IMM, yang bahkan tidak sedikit (mungkin) kader IMM terhindar, terlena dengan problematika diatas. Yang kemudian, terjerumus pada problematika atau dengan kata lain,“terperosok dalam indahnya lautan yang luas tiadatepi. Sehingga lupa ada makna yang mendalam, luhur, dan murni dibalik itu yang perlu dihayati dan diaktualisasi, yaitu nilai-nilai ideologis IMM, dan perilaku akhlak mulia.

Tak Sekadar “Jas Merah

“IMMawan dan IMMawati dan intelektual Islam di manapun berada, kita semua tidak boleh berhenti dan memang seharusnya terus belajar untuk menjadi manusia learning to be Human. Dengan demikian, fanatisme buta dalam hal apa saja dan dari mana saja yang menjadi sumber masalah serius umat manusia saat ini dan ke depannya bisa dicairkan setetes demi setetes, selangkah demi selangkah. Tidaklah berlebihan, jika kita harus mengatakan konsistensi kita sebagai kader IMM bahwa pada akhirnya kita harus menjadi pasukan terdepan dalam menjaga hak-hak dan martabat kemanusiaan, membelanya, memperjuangkannya dari segala bentuk penodaan dan penyelewengan. Lalu cita-cita kita membangun masyarakat dan peradaban yang sebenar-benarnya optimis untuk segera dicapai dan diwujudkan.”

Amirullah – IMM Untuk Kemanusiaan (2016)

Kalimat yang dilontarkan Amirullah diatas menjadi spirit untuk selalu belajar dan belajar untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Paradoks kemanusiaan kini semakin kompleks, ditambah dengan berbagai ideologi besar muncul beserta efeknya yang masuk dan mengganggu sistem keadaban ummat. Maka, tugas sebagai kader IMM, haruslah berjuang dengan ikhlas lillahi ta’alamelawan segala bentuk penyewelengan, dan membangun peradaban yang maju dan damai. Jika dirasa berat, esensi kader IMM menjadi hilang, hangus ditelan bumi.

Hal diatas adalah berbagai persoalan yang mesti direspons oleh kader. IMM adalah organisasi yang mengusahakn terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mewujudkan tujuan Muhammadiyah. Tegas, IMM adalah gerakan ilmu amaliah, amal ilmiah (baca: 6 Penegasan IMM). Dalam artian, IMM memiliki cita-cita yang harus digelorakan ditubuh ikatan. Senada dengan itu, Amirullah pernah mengatakan,

“Begitu juga dalam konteks IMM sebagai sebuah organisasi mahasiswa Islam yang ditakdirkan atau mentakdirkan dirinya sebagai organisasi yang bertujuan melahirkan mahasiswa-mahasiswa Islam yang memiliki nalar ilmu (akademisi) dan berakhlak mulia dalam gerakannya. Yang berarti menempatkan ilmu di maqam tertinggi identitas gerakan ikatan. Makanya, ada semboyan yang mengatakan “ilmu amaliyah amal ilmiah” berilmu sebelum beramal dan beramalberdasarkan ilmu (melakukan kajian akademis-teoritis sebelum melakukan gerakan dan melakukan gerakan berdasarkan kajian akademis-teoritis) merupakan kesadaran batiniyah para pendiri IMM.” (Amirullah, 2016: 157-158)

            Maka dari itu, kader IMM yang penulis sebut sebagai “intelektualisme progresif” harus tetap teguh dan sangat siap dalam mewujudkan transformasi sosial. Sehingga prinsip tadi, “ilmu amaliah, amal ilmiah” dilandasi dengan sikap tulus, ikhlas, dan penuh dengan ikhtiar dalam mewujudkannya.

Dalam konteks akademis, kader IMM “berjas merah” mesti menjadi kader intelektual yang memiliki kompetensi religus yang baik, berparadigma dan bersikap santun, ramah, berfikir maju/orientasi kedepan. Maka, dengan gelar “IMMawan dan IMMawati”, serta mempunyai motto “Fastabiqul Khairat” kader IMM yang tidak dapat menyeimbangan dan melaraskan kegiatan akademik dengan organisasinya adalah hal yang salah, “nanti aja lulusnya, empat tahun tidak cukup untuk berproses di organisasi. Jadi, nikmatilah”. Hal tersebut alhasil semacam menyumbang kesalahan secara meluas untuk kemudian dikonsumsi oleh publik.Ibarat ada penyumbang/penawaran kekeliruan, dan kemudian timbul semacam permintaan oleh publik (baca: kader IMM) dari penawaran tersebut.

Sejalan dengan itu, dengan di buktikannya sebuah prestasi akademiknya yaitu pada Indeks Prestasi (IP) yang baik, iman dan akhlak yang terpuji, bertanggungjawab dalam menjalankan amanah IMM dengan baik dan maksimal, memiliki kerpribadian yang kreatif-inovatif-solutif, prestatif, serta implementasi dalam realitas sosial kemasyarakatan, yang itu semua menjadi sebuah tanggungjawab kader IMM seutuhnya.

Shareza dalam buku Dalam Suatu Masa: Kumpulan Tulisan Kader IMM UMSU (2016) mengatakan bahwa “….langkah awal yang harus kita terapkan ialah penekanan akan penerapan rasa “MALU” akan gelar IMMawan/IMMawati dengan Moto yang bergaung hingga kepelosok Nusantara, tridimensi kader dan trilogi kader ikatan sangat realistis namun tidak mampu membuktikannya sebagai seseorang spesial dengan gelar IMMawan/IMMawati yang religius, intelektual, dan humanis.”

Pernyataan tegas yang dilontarkan IMMawan Shareza diatas menjadi sebuah kritik sekaligus konstruktif dikalangan kader ikatan. Dengan begitu kader ikatan tidak berfantasi ria sebagian (mungkin) dalam dinamikanya, sikap hedonis, apatis, bahkan terjebak dalam kegiatan yang sifatnya seremonial, minim refleksi, jangka pendek. Sebuah catatan besar yang menggugat kader IMM, IMMawan dan IMMawati dimanapun berada untuk learning to be progressive intellectualism.

Dalam maksud lain, kader IMM itu adalah kader intelektual yang mampu mengejawantahkan nilai-nilai murni IMM (Nilai-nilai IMM), dalam rangka mewujudkan kepribadian intelektual yang santun, berakhlak mulia, dan maju disegala lini kehidupan (sosial, politik, hukum, budaya, pendidikan, kemanusiaan), transformasi sosial, serta disisi lain berupaya membangun masyarakat ilmu. Wallahu a’lam bishawab.

 

Billahi fi sabililhaq, fastabiqul khairat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *