Islam untuk Kemanusiaan

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (2 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Islam untuk Kemanusiaan

Oleh :

Galih Arozak

(KORKOM IMM UMY)

Islam adalah agama Rahmatan lil ‘alamin, artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta. Khususnya di Indonesia, hadirnya Islam sebagai agama mayoritas tentu diharapkan mampu membantu mewujudkan kesejahteraan dengan menjawab berbagai persoalan yang ada. Dewasa ini persoalan yang muncul sangatlah kompleks, dari persoalan sosial, politik, ekonomi, hingga agama tak terelakkan. Sudah sepatutnya Islam turut andil menjawab dan memberi jalan keluar atas kompleksitas permasalahan yang ada, dengan mentransformasikan nilai-nilai Islam. Sementara, seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif, maka perlu dikembangkan supaya kemudian bisa diaktualisasikan.

Islam merupakan agama humanisme teosentrik, suatu agama yang memusatkan dirinya pada keimanan terhadap Tuhan, tetapi mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan manusia. Dengan demikian Islam bukanlah agama yang semata-mata berisi ritual penyembahan terhadap Tuhan. Oleh karenanya, jika saat ini Islam – umat Islam – kurang berperan dalam menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan kemanusiaan, perlu adanya penafsiran ulang terkait Islam sebagai agama humanisme.

Berbagai persoalan yang muncul mengakibatkan dampak memprihatinkan dan tidak bisa dibiarkan. Melambungnya harga kebutuhan pokok, hingga melemahnya nilai tukar rupiah sudah menjadi lagu lama yang memang demikian adanya. Tenaga buruh terus dieksploitasi hanya demi ditukar dengan upah yang cukup untuk mengisi perut. Padahal sejatinya bekerja bukan sekadar mencari upah, melainkan ada tujuan lain yang lebih tinggi yakni bersifat transenden. Belum lagi, memasuki tahun politik, masyarakat dihadapkan pada persaingan – mereka yang berebut kekuasaan – dengan cara yang terkadang tak menyehatkan. Demikianlah persoalan-persoalan yang menunggu jalan keluar daripada transformasi nilai-nilai Islam.

Spirit Pembebasan

Seiring perkembangan zaman yang begitu dinamis, umat Islam sudah seharusnya meninggalkan pemikiran serba teologis yang pada akhirnya pemikiran tersebut hanya menjadi pendukung adanya status quo. Pemahaman tentang ber-Islam hanyalah urusan dirinya dengan Tuhan – sholat, puasa, dan haji – harus dibenahi. Terlebih orientasi ibadah yang ditujukan demi mendapat tiket menuju surga dan supaya tidak masuk neraka. Surga dan neraka adalah ciptaan Tuhan, dan semua ciptaan Tuhan adalah makhluk. Maka, jika beribadah demi surga dan neraka berarti beribadah demi makhluk Tuhan, bukan demi Tuhan itu sendiri. Bukan lagi saatnya umat Islam terkurung pada pemikiran-pemikiran demikian, sebab diskursus kita saat ini ialah bagaimana kemudian agama mampu mendorong adanya perubahan.

Dalam Islam sudah jelas bahwa segala bentuk kemungkaran termasuk ketidakadilan dan segala bentuk penindasan adalah hal yang tidak hanya perlu dihindari tapi juga harus diperangi. Maka persoalan-persoalan kemanusiaan yang seringkali muncul dipermukaan merupakan lahan perjuangan bagi umat Islam. Ekspresi perjuangan setiap individu sangat mungkin berbeda-beda, yang pasti orientasi daripada perjuangan harus ditujukan untuk kepentingan bersama dan dalam rangka pembebasan.

Sejauh ini majelis taklim maupun khotbah diberbagai tempat hanya berisikan tata cara beribadah secara benar, tentang kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan, bahkan terkadang sebuah penderitaan diartikan sebagai takdir yang telah digariskan oleh Tuhan. Hal sederhana yang perlu dilakukan umat Islam adalah menjadikan majelis taklim dan khotbah sebagai wadah yang berisikan spirit pembebasan – pengkajian persoalan dan upaya penyelesaian. Agar umat tergugah hati dan pikirannya untuk kemudian mengekspresikan keimanannya dalam bentuk-bentuk transformatif. Sehinggaagama – khususnya Islam – tidak menjadi dogma yang melanggengkan kemapanan strukturaldan memaksa pemeluknya menikmati penderitaan atas nama Tuhan.

Agaknya spirit pembebasan akan menjadi sebuah keniscayaan, terlebih ketika melihat beberapa gejala yang muncul dimasyarakat. Pertama, tingkat kepercayaan umat terhadap elite agama masih cukup tinggi, bahkan dibeberapa daerah elite agama memiliki basis massa (jamaah) dalam jumlah besar dan selalu mempercayai setiap patah katanya. Meski demikian, ada kecenderungan umat mejadi taklid pada elite agama tertentu yang dipercayainya – khususnya umat Islam arus bawah. Kedua, dewasa ini kajian tentang hijrah maupun kampanye Indonesia Tanpa Pacaran telah mampu mengambil simpati kaula muda. Banyak yang kemudian memilih menikah muda (baca:hijrah) guna menghindari perbuatan zina. Maka, jika spirit pembebasan disuarakan oleh banyak elite agama dan terus digencarkan, upaya ini akan membuahkan kesadaran kolektif dikalangan umat Islam.

Umat Islam dilahirkan untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Pembebasan atas belenggu penderitaan yang diciptakan oleh penguasa maupun pemilik kepentingan adalah suatu hal yang ma’ruf, sekaligus bentuk upaya memerangi kemungkaran. Pada akhirnya spirit pembebasan akan menghasilkan berbagai gerakan perubahan untuk merespon persoalan-persoalan kemanusiaan.

Gerakan Sosial Islam

Gerakan sosial adalah suatu upaya kolektif untuk mengejar kepentingan bersama, atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif diluar lingkup lembaga-lembaga yang mapan, demikian yang diutarakan Giddens. Sedangkan Locher beranggapan bahwa, ketika sekelompok orang mengorganisir diri dalam upaya mendorong atau menolak beberapa perubahan sosial, maka mereka sedang menciptakan sebuah gerakan sosial. Terlepas dari berbagai definisi tentang gerakan sosial, perlu dipahami adalah suatu gerakan sosial lahir atas kesadaran kolektif termasuk respon atas perihal yang dirasa merugikan.

Menurut Zuly Qodir, gerakan sosial Islam merupakan jalan alternatif menghadirkan Islam pada realitas untuk menjawab problem-problem sosial yang terjadi. Sebagai gerakan, Islam harus berbasiskan pada iman seseorang menjadi iman sosial sebab inilah bagian terpenting dari keimanan seseorang yang akan diminta pertanggungjawabannya dihadapan Tuhan. Hal ini sejalan dengan Islam Transformatif yang digagas Moeslim Abdurrahman, bahwa sudah saatnya Islam mampu hadir mengambil peran dengan menjawab berbagai persoalan yang ada.

Gerakan sosial Islam harus bersifat liberasi, transformasi, dan humanisasi. Gerakan sosial Islam juga menjamah sektor penting lainnya yang sekiranya dapat memberikan perubahan guna meningkatkan derajat kesejahteraan manusia. Pendidikan, sosial, ekonomi, maupun politik adalah sektor yang sudah seharusnya terjamah. Lahan perjuangan untuk umat Islam membuktikan bahwa kehadirannya ditengah-tengah masyarakat merupakan representasi daripada misi besar sebagai wakil Tuhan di muka bumi.

Ketimpangan sosial dan kemiskinan agaknya bukan lagi suatu diskursus baru, beberapa kalangan beranggapan kondisi yang demikian memang sengaja diciptakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan memiliki kekuasaan. Kaum dhu’afa (orang kecil) dan mustad’afin (tertindas) merupakan orang-orang yang perlu dibebaskan dari kondisi yang mengekangnya. Teologi Al Ma’un sebagai salah satu landasan untuk melakukan gerakan sosial, perlu ditafsirkan secara ideologis dan mengakar. Supaya aktualisasinya benar-benar dapat menumbuhkan asa mereka untuk menjalani kehidupan dengan layak.

Umat Islam – organisasi maupun komunitas – terus mengupayakan peningkatan kesejahteraan manusia dengan berbagai langkah konkret, salah satunya melalui gerakan filantropi. Hingga saat ini terdapat banyak lembaga filantropi seperti LazisMu, LazisNu, Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, dan banyak lainnya yang terus melebarkan sayapnya untuk bisa lebih memberikan kebermanfaatan. Pastinya gerakan tersebut dilandasi atas nilai-nilai kemanusiaan yang kemudian diwujudkan melalui suatu gerakan nyata.

Kemandirian ekonomi merupakan targetan awal untuk mencapai derajat kesejahteraan. Taraf hidup masyarakat akan meningkat secara perlahan dan dalam jangka panjang dapat memperkecil ketimpangan dan angka kemiskinan. Perihal demikian tidak akan terwujud bila gerakan sosial hanya sebatas santunan – pemberian secara materil – sebab kemandirian tidak muncul begitu saja bersamaan dengan uang yang diberikan. Maka perlu adanya suatu konsep pemberdayaan dan pendampingan berkelanjutan terhadap mereka yang kurang berdaya, hingga kemudian benar-benar berdaya dan menjadi masyarakat mandiri.

Pendidikan Moral dan Intelektual

Pendidikan merupakan sektor penting yang menentukan bagaimana masa depan para penerus bangsa. Disektor ini Islam perlu hadir memberikan suatu formulasi baru. Agaknya pendidikan telah bergeser orientasinya, tidak lagi berupaya melahirkan individu-individu yang bermoral dan intelektual, melainkan mencetak robot-robot untuk memenuhi kebutuhan pasar. Termasuk sekolah dan perguruan tinggi swasta Islam juga larut dalam kondisi yang demikian. Maka perlu adanya rekonstruksi daripada konsep pendidikan, supaya institusi pendidikan – khususnya Islam –  bisa dijadikan acuan yang baik, bukan larut dalam disorientasi dan komersialisasi pendidikan yang terus berlangsung.

Institusi pendidikan memang melahirkan orang-orang yang hebat dan berbakat, tapi banyak juga yang kemudian menjadi penjahat. Penanaman moral haruslah dikedepankan guna menghindari kemungkinan yang demikian Supaya kelak intelektualitas yang dimiliki tidak dijadikan senjata yang disalahgunakan untuk menerjang prinsip-prinsip kebenaran. Sebab dewasa ini semakin tinggi intelektualitas seseorang, semakin rendah moralitasnya.

Pelajar dan mahasiswa dipisahkan dari persoalan masyarakat yang sebenarnya, mereka hanya belajar, belajar, dan belajar, padahal ketidakadilan terus berlangsung. Mereka mengejar ijazah sementara rakyat megap-megap cari sesuap nasi. Pintu dan tembok memisahkan realitas dengan apa yang dipelajari di dalam kelas. Mereka disibukkan oleh banyaknya tugas yang diberikan guru dan dosen, hingga lupa akan tugasnya sebagai manusia yang harus memanusiakan sesamanya. Agaknya pendidikan tidaklah menjadikan seseorang membumi, tetapi merasa melangit bersama teori dan rumus-rumus yang menjejali pikirannya.

Islam tidak demikian dalam memandang pendidikan, bahwa dengan ilmu tidak menjadikan manusia merasa hebat dan merendahkan yang lainnya. Melainkan bagaimana kemudian ilmu yang dimiliki bisa diamalkan, agar memberikan kebermanfaatan bagi banyak orang. Maka institusi pendidikan Islam perlu menghadirkan formulasi baru mengenai sistem pendidikan yang sesuai konteks zaman. Yang mengedepankan moral dan intelektual secara proporsional supaya tidak melahirkan pemikiran-pemikiran pragmatis dan sekular. Sehingga banyaknya institusi pendidikan Islam yang tersebar di berbagai daerah bisa maksimal, tidak larut dalam pusaran kepentingan pasar. Benar-benar menjadi lembaga yang melahirkan individu-individu cakap bukan gagap.

Politik Identitas dan Pemimpin Ideal

Dewasa ini, media gencar dalam memberitakan sesuatu yang bersifat politis. Hal ini dikarenakan tak lama lagi kita akan menyambut pesta demokrasi – dari siapa, oleh siapa, dan untuk siapa. Agaknya media tak pernah kehabisan bahan untuk dipublikasan, termasuk Islam yang belakangan kerap disorot karena perbedaan pandangan sebagian ormas Islam maupun indikasi adanya politik identitas. Bukan hal baru bahwa dalam politik, kepentingan lebih dikedepankan daripada kebenaran – tidak ada benar salah, yang ada menang kalah. Bukan tidak mungkin juga, kedepan agama akan dijual hanya demi sebuah suara untuk mencapai tujuan pribadi maupun golongannya.

Dalam konsepsi Al Qur’an, posisi manusia sangatlah penting. Begitu pentingnya posisi itu dapat dilihat dari predikat yang diberikan Tuhan sebagai khalifah Allah, sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Predikat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa seolah Tuhan mempercayakan kekuasaan-Nya kepada manusia untuk mengatur dunia ini.Berangkat dari pemahaman demikianlah, kemungkinan politik identitas itu muncul. Bahwa umat Islam seharusnya menjadi pemimpin – melalui kontestasi politik – yang sekaligus membawa misi besar yaitu sebagai wakil Tuhan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur.

Terkait politik identitas yang tentunya melibatkan elite agama dalam kontestasi tersebut, ada hal yang perlu diperhatikan. Berpolitik adalah hak setiap warga negara termasuk elite agama. Namun, elite agama harus melepaskan hubungan patron-klien dengan massa. Sebab jika tidak, sebuah tujuan jangka panjang dan besar yaitu pembentukan sistem politik nasional yang rasional, akan dikorbankan untuk kepentingan jangka pendek dan kecil.

Umat Islam Indonesia dibingungkan oleh banyaknya partai politik Islam yang ada. Terlebih ketika antara partai-partai tersebut terjadi selisih paham, atau bahkan permasalahan internal partai seperti dualisme kepemimpinan yang kemudian itu muncul dipermukaan. Sehingga membingungkan umat Islam, untuk mempercayakan misi besar – sebagai wakil Tuhan di muka bumi – melalui partai yang mana? Perlu diperhatikan juga umat Islam arus bawah, yang kerap taklid terhadap atasannya – guru atau kiyai – dalam berbagai hal termasuk hal politik. Jika tidak diantisipasi, ini menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.

Persoalan selanjutnya ialah gagalnya menghadirkan sosok pemimpin ideal dari kalangan umat Islam. Sehingga calon-calon pemimpin yang ditawarkan kepada masyarakat bukan dari kalangan umat Islam. Sekalipun beragama Islam (baca:Islam KTP), belum tentu ia berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran. Sehingga partai-partai Islam hanya menjadi suksesi daripada calon-calon pemimpin yang tidak membawa misi Islam kedepannya.

Sudah saatnya Islam menyudahi kemandulan dalam menghadirkan sosok pemimpin yang ideal. Tugas bersama yang kemudian menjadi suatu keharusan adalah Islam – melalui partai politik – harus mampu melahirkan kader-kader yang siap menjadi pemimpin, dan kelak mampu menciptakan suatu tatanan masyarakat dalam perspektif Islam – Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Sehingga Islam mampu memberi sumbangsih dalam kontestasi politik, bukan sekadar menjadi penonton dan penggembira.

***

Melihat realitas kehidupan masyarakat dewasa ini, tidak dapat dipungkiri bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja. Berbagai wacana intelekual kritis telah muncul sebagai respon atas kondisi yang kian memprihatinkan. Meski demikian, banyak juga bermunculan orang-orang yang mengaku intelektual dan sok peduli terhadap masyarakat. Mereka kerap berbicara tentang kebenaran dan konsep keadilan, namun hanya sedikit keseriusan dan penuh kepalsuan sehingga wacana yang dibangun terbentur dan mandek pada meja kopi. Saya menganggap hal tersebut sebagai kesembronoan seorang intelektual untuk mengurangi kegabutan yang dialaminya.

Tidak perlu mengatasnamakan sebagai agen perubahan maupun aktivis pergerakan untuk kemudian menciptakan sebuah gerakan sosial. Yang diperlukan hanyalah kesadaran bahwa kita adalah manusia, sehingga selalu berusaha untuk memanusiakan sesamanya. Hal yang kemudian muncul setelah adanya kesadaran tersebut adalah upaya pembebasan guna terwujudnya suatu perubahan yang akan meningkatkan derajat kesejahteraan manusia.

Islam transformatif merupakan sebuah kritik terhadap teologi Islam tradisional. Supaya Islam bisa memandu masyarakat agar sukses menjalani hidupnya dan bisa mengambil peran untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Dengan demikian, Islam – sebagai agama mayoritas di negara kita – dapat memperindah kemanusiaan manusia. Sebab jika tidak, benar sebagaimana dikatakan Marx bahwa agama adalah candu, yang tidak membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat dan hanya digunakan untuk melanggengkan kemapanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *