Guru Yang Sebenarnya

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (2 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Guru Yang Sebenarnya

Oleh :

Immawan Yaqin Al-Barry

PK IMM Fakultas Pertanian

Sudah tak heran lagi dikehidupan yang serba modern ini, pendidikan harus dikedepankan dan semua orang wajib berpendidikan. Pendidikan itu tak pandang bulu, tak pandang ras, tak pandang jabatan, dan tak pandang apa yang menjadi siswa itu terpandang, beda dengan zaman yang sudah tenggelam dilautan merah sana. Pendidikan sering kita kenal dengan transformasi ilmu, namun dalam kamus besar bahasa indonesia pendidikan itu dikenal sebagai proses pengubahan baik sikap, psikomotorik (tindakan), afektif (rasa), kognitif (pola pikir) dan lain semacamnya yang berkenaan dengan seseorang atau sekelompok orang. Bermacam kosa kata pendidikan yang dikenal saat ini meliputi pendidikan akademis, eklektik, formal, informal dan banyak lagi di luar sana yang perlu kita telusuri. Pendidikan termasuk hal pokok yang memicu manusia dalam memenuhi kebutuhannya, karena pendidikan ini yang akan membentuk pola, pemikiran seseorang menjadi lebih luas.

Berbicara masalah pendidikan maka tak lepas dengan kata-kata murid dan juga guru. Mengutip dari Buku Tugas Inelektual Muslim karangan Ari Susanto yang menyatakan semua orang adalah guru, guru adalah orang yang membrikan pengetahuan kepada orang lain. Murid adalah orang yang menerima pengetahuan. Kedua komponen tersebut saling berhubungan satu sama lain. Seorang guru dikatakan guru apabila ada murid begitupun dengan murid. Guru ataupun murid tak pandang usia, siapapun orang yang menyampaikan ia sudah menjadi guru bagi orang yang menerima pengetahuannya.

Pendidikan itu sangat penting bagi kita, dari saking pentingnya pendidikan sudah Allah perlihatkan sejak munculnya agama Islam. Melalui Malaikat Jibril Allah menurunkan wahyunya kepada Nabi Muhammad pertama kali di gua hiro yang berbunyi Iqra’. Sebuah pesan yang mengandung banyak arti dan mengandung perintah dalam pemberdayaan fikiran. Ketika turun ayat tersebut dan berkaca pada pendidikan yang ada pada saat islam dulu memang diakui belum adanya pendidikan formal dan sistematis karena perlu diketahui pada saat itu hanya fokus pada penyebaran dakwah islam berupa penanaman tauhid dan ritual keagamaan. Ketika mengingat dan berkaca kepada zaman dahulu betapa pentingnya sejarah maka pendidikan zaman dahulu khususnya yang baik seharusnya menjadi cerminan untuk pendidikan dimasa sekarang dan meninggalkan sisi buruk dari masa lalu.

Proses pendidikan dan pengajaran penting dalam menyadarkan anak didiknya terhadap kemandirian, namun bukan individualis. Generasi yang berkualitas dapat terbentuk tentu bukan hanya peran sekolah saja namun juga ada beberapa komponen lain yang mendukungnya seperti keluarga dan masyarakat. Dalam permendikbud pasal 5 (lima) disebutkan, bahwa sesungguhnya hari sekolah digunakan untuk meningkatkan kemempuan peserta didik dengan tiga aktivitas yaitu intrakulikuler, kokulikuler dan ekstrakulikuler.

Ketiga aktivitas tersebut memerlukan peran berbagai komponen seperti lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Tiga komponen tersebut yang paling penting adalah komponen lingkungan keluarga, karena didalam keluarga ada seorang yang menjadi patokan seorang anak akan melangkah dan berbicara, dia adalah seorang ibu. Ada sebuah Syair Arab yang berbunyi: “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq, ibu adalah sekolah utama bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik”.

Kalimat ini sering kita dengar atau kita gunakan. Namun seringkali kita lupa akanesensi nya, atau terlewatkan begitu saja. Arti kiasan ‘Seorang Ibua dalah madrasah pertama bagi anak anaknya’ mempunyai makna bahwa pengetahuan awal anak anak berasal dari ibunya. Ibu adalah guru pertama, sebelum si anak menimba ilmu di sekolah atau belajar dari lingkungan sekitarnya. Anak akan mencontoh apa yang dilakukan ibunya, dan bahkan mengikutinya. Ada salah satu contoh cerita yang tertulis dalam sejarah dan memiliki makna yang perlu kita pelajari adalah kisah sang Nabi.

Kita kenal seorang nabi yang dijuluki Najiyullah yaitu Nabi Nuh As. Nabi Nuh beratus-ratus tahun berdakwah, namun anaknya tidak sholeh, sementara Nabi Ibrahim semasa hidupnya, hanya beberapa kali bertemu dengan putranya yang bernama Nabi Ismail, namun Nabi Ismail begitu sholeh, semua tersebut dikarenakan mempunyai Ibu yang sholehah, yang mendidik nya dengan penuh ketegaran, kesabaran dan kasih sayang dan mencontohkan kepatuhan terhadap Allah SWT.

Kisah tersebut menjadi contoh dan perlu kita garis bawahi, bahwa Ibu berperan besar dalam mendidik anaknya ingin seperti apa?, ingin menjadi apa?. Karena anak adalah tabungan terbesar keluarga yang jika kita mendidik dengan baik, tidak hanya akan memberi kebahagiaan di dunia, namun bisa membantu menambah amal kita di akhirat kelak.

Hal ini dapat dituangkan dalam kiasan “Dari pohon apel jangan diminta buah jambu. Tetapi jadikan setiap pohon menghasilkan buah yang manis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *