Menemukan Nilai IMM di Negeri Ilha Formosa

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (10 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Menemukan Nilai IMM di Negeri Ilha Formosa

Oleh : IMMawan Tubagus Muhammad Risyad

(Komisariat IMM FH UMY)

Hari itu daun berguguran, bertanda musim gugur telah tiba. Setelah bersepeda menikmati keelokan 榕園/Banyan Garden* di hari yang sejuk ini adalah rencana ku sebelum mengikuti kuliah perdana-ku di National Cheng Kung University.

Gugur dan berhamburan

Terombang-ambing bersama angan

     Pasrah akan takdirnya

     Manis dengan tenangnya

Tersinar oleh sang mentari

Suam menyusup dalam jari

     Elok tak tertahan

     Entah apa yang ada dipikiran

Seperti ikan yang mengikuti arus

Tak berliku, lurus

     Menikmati melodi semilir angin

     Setulus pohon beringin

Alirannya terlukis semu

Sosoknya begitu memukau

     Jika cantik mengapa Tuhan membiarkan

     ia berjatuhan?

Kenyang melahap santapan pemandangan ciptaan Tuhan yang muncul sekali dalam satu tahun. Terdengar gong menggema.

“Deng… Dong… Dong…”

Tanda kuliah akan dimulai, saat itu pukul 09.00. Bergegas untuk menggoyes sepeda ku menuju gedung fakultas Hsiu-Chi/Liberal Arts, tak terlampau jauh dikarenakan lokasinya berada di Kuang-Fu Campus tempat dimana berada Banyan Garden.

Singkat cerita, mata kuliah pada hari itu adalah Introduction to Western Literature/pengantar literatur barat, mencari ruangan kuliah seperti mencari jalan keluar dalam labirin, tak ada yang menjawab bila dirimu bertanya dalam English, mereka akan tersenyum dan mengatakan my english is not good/bahasa inggris ku tak lancar, kemudian meninggalkan mu yang penuh dengan kebingungan. Beruntung nya ku menemukan seseorang yang membawa buku The Norton Anthology of Western Literature saat berada di dalam lift, mengikuti nya seperti zombie melihat daging segar, tak tahu menahu yang penting dapat.

“kreeeeit..” suara pintu kayu terbuka.

Melihat sesuatu yang asing, atmosfer yang berbeda. Ruangan kelas berkapasitas 80 orang, dan tak ada satupun yang memiliki kulit yang sama dengan ku, sawo matang. Hanya anak bermata sipit, berkulit terang dan berbahasa cina, di rundung ke gugupan mencoba untuk melihat peluang mencari tempat duduk, alhasilmenempati tempat duduk yang paling depan, ini adalah permulaan yang baik untuk memenuhi niat menimba ilmu di negeri orang.

“你好/Nǐ hǎo/apa kabar” terdengar suara disamping ku dan dilanjutkan.

你是哪国人/Ni shi na guo ren/darimana asal mu?

Sungguh ramah dengan nada yang bersahabat, senang rasanya, namanya Ping Hao.Remaja berumur 18 tahun, berkulit cerah, bermuka ceria, berrambut emo dan memaikai kaus oblong berwarna putih. lalu kami bercerita panjang dengan bahasa inggris, dengan modal bahasa inggris level menengah ku beranikan diri untuk menajak nya mengobrol singkat, kebetulan dia cukup paham atas guyonan dan cerita ku, salah satu kutipan darinya yang membuat ku tertegun adalah knowledge should be share to the others and should be practice by the students, so it’s not merely dusty decoration.

Ini mengingatkan ku saat diriku menjadi peserta DAD FH 2016, satu nilai dasar ikatan yang membuatku berkeinginan menjadi pembelajar, Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah. Ilmu amaliah berarti ilmu apapun yang sudah kita pelajari hendaknya kita amalkan, jadi tidak hanya diam dalam berilmu, tapi juga dipraktekan. Apalah arti sebuah ilmu jika tidak diamalkan? Lalu amal ilmiah berarti segala amal yang kita kerjakan harus didasari dengan ilmu.

Pengalaman yang hampir sama juga ku alami setelah diriku tergabung dalam NCKU Toastmaster Club, berorientasi dalampublic speaking. Mereka memiliki slogan yang menarik perhatian being a good listener is to be a good speaker, alhasil mendoktrin kebanyakan dari mereka menjadi pembelajar yang baik, lebih suka mendengarkan yang baik, berbicara dengan baik, berpikiran terbuka dan bila mendapat kesempatan untuk berbicara mereka manfaatkan dengan maksimal. Ketika ada yang gagal dan gugup disertai diam dalam menyampaikan pidato kawan nya memberi semangat dan tepuk tangan, inilah yang menjadikan ku betah dan rela mengurangi jadwal leha ku pada malam senin untuk bertemu dengan mereka. Perilaku suportif dan pikiran yang positif meresap dalam alam bawah sadar mereka menjadikan mereka terasa lebih mengamalkan IMM ketimbang diriku sendiri, terasa tercambuk, sakit namun tak berdarah.

Diri ku kini dirundung dilema. Ia menjelma sebagai hantu yang menghantui ku setiap saat. Bukan seperti Genderuwo yang akhir-akhir ini cukup populer, namun kuntilanak yang mampu mencuri konsentrasi ku dikala tuntutan untuk mendapat hasil yang bagus di penghujung semester. Tibalah masa kontemplasi, seperti ulat berevolusi menjadi kupu-kupu, mula-mula sabar dan ikhlas menjadi kepompong. Bertanya dan mencari kepingan memori demi satu langkah yang pasti.

“Benarkah diriku sudah mengamalkan syahadah-ku?”

“Untuk apa berjanji dengan nama Tuhan namun ingkar”

“Adakah waktu untuk kembali?”

“Mengembalikan kepingan yang hilang tuk menjadi ikatan yang sempurna”

 

________________

* Dari bahasa Portugis, artinya pulau yang indah. Pada tahun 1542 para pelaut Portugis melihat sebuah pulau yang belum dipetakan dan mencatatnya di peta mereka sebagai Ilha Formosa. Lihat “The Republic of China Yearbook 2011”. Government Information Office, Republic of China (Taiwan). 2011. hal. 46.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *