Kelahiran IMM sebagai Keharusan Sejarah

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (12 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Oleh: IMMawan Bayujati Prakoso (Korps Instruktur Cabang PC IMM Jaksel)

“Bahwa kelahiran IMM merupakan kebutuhan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-citanya yang menuntut waktu dan zamannya, kelahiran IMM bagi Muhammadiyah sudah saatnya menjadi keharusan sejarah.”

Farid Fathoni AF (dalam Genealogi Kaum Merah, 2014: 71)

  1. Keharusan Sejarah

Melihat pandangan IMMawan Farid Fathoni dalam kutipan diatas, menjadi recharge semangat dalam ber-IMM. Menjadi perhatian untuk semua kader IMM. Penegasan dari Farid Fathoni menyoal mengapa IMM lahir adalah agar Muhammadiyah punya kader dalam ikut serta melakukan dakwah-dakwah Islam di ranah kemahasiswaan, yang kemudian menegaskan bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa Islam yang sah, dan ikut serta untuk membantu dalam mengatasi persoalan kebangsaan pada kurun waktu 1965an, yang pada saat itu sedang gencar ideologi Komunisme yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Benar bahwa IMM hadir dalam upaya membantu meminimalisir bahaya komunisme yang salahsatu nya terdapat intervensi paham komunisme yang masuk dalam organisasi ekstra, seperti HMI, dan sebagainya. Untuk itu, IMM lahir sebagai keharusan sejarah, dan sebagai penerus perjuangan Muhammadiyah.

Demikian pula IMM dengan pemikiran Sholeh dalam bukunya yang berjudul IMM Autentik: Melacak Autentisitas dan Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (2017) menegaskan, IMM perlu kembali kepada Autentisitas (kemurnian) nilai-nilai ikatan. Dikarenakan derasnya arus zaman yang kian materialis-pragmatis. Agar nanti IMM tidak tergerus oleh zaman. Menurut penulis, Kader IMM perlu dalam praktik nya harus selalu menghadirkan nilai-nilai ikatan, dalam arti lain, nilai-nilai ikatan yang tersemat dalam diri kader dalam setiap langkah, dan gerak nya harus dapat menjadi identitas, agar nilai-nilai IMM mampu terjaga dan terwujud.

Sebagaimana Ahmad Sholeh dalam bukunya yang berjudul IMM Autentik; Melacak Autentisitas & Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (2017) mengatakan, membumikan IMM autentik adalah upaya pemurnian (purifikasi) nilai-nilai perjuangan IMM dari tawaran zaman yang semakin pragmatis dan meterialistis. Dan juga upaya pembaruan (tajdid) terhadap pola-pola pendekatan dakwah, gerakan sosial, dan perkaderan yang setidaknya mampu menjawab dinamika kekinian dan mewujudkan tatanan kehidupan lebih bernilai. Hal itu kemudian bisa dilakukan dengan pengkajian dan penggalian secara mendalam terhadap cita-cita IMM secara universal, tujuan IMM, dan jejak langkah perjuangan IMM yang termaktub dalam deklarasi dan nilai-nilai perjuangan IMM

2. Membaca Zaman

Saat ini IMM berusia 54 tahun. Berdiri tegak menyongsong kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita besar IMM. Kader bukan sebatas kader, tapi kader yang dengan harap menjadi kader ummat, kader persyarikatan, dan kader bangsa. Organisasi yang sudah berkiprah dengan segala rasa; pahit, manis, bahagia, hingga pengorbanan perjuangan kental dalam nadi dan nafas gerak nya. Disetiap sisinya, IMM yang saat ini perlu pengkajian secara serius dan kontinyu dalam tajdid (purifikasi nilai-nilai, dan dinamisasi gerakan) dikarenakan efek perubahan zaman, modernisasi, menjadikan IMM perlu merespons hal-hal substantif, yakni kembali pada nilai-nilai yang autentik (baca; rumusan nilai/ideologi IMM), dan membuat langkah strategis yang melahirkan konsep-gerakan yang sesuai rumusan IMM, holistik, terarah, agar pencapaiannya jelas dan akurat.

Pada dasarnya segala uraian, tawaran gagasan diatas tidak dapat dilakukan, alias nihil pelaksanaan jika hanya dimaknai sebatas nilai yang normatif, konsep baku atau lebih-lebih hanya sebatas simbolitas semata tanpa praktik nyata. Hal demikian tentu menjadi kekhawatiran kita jika IMM yang sudah berjalan 54 tahun ini, perubahan dan gerakan apa yang di tampilkan untuk masyarakat ? Sudah memberikan sumbangsih untuk persyarikatan, bangsa dan negara? Perlu disadari di era yang semakin maju, perkembangan teknologi yang kian pesat, termasuk pola/gaya hidup yang semakin modernis, terlebih Indonesia sudah masuk tahun politik, Pilpres 2019. Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana posisi IMM saat ini dalam merespons adanya tahun politik 2019? Apa yang harus dilakukan IMM dalam mensukseskan Pilpres 2019 agar sesuai dengan nilai-nilai Islam?. Selain itu, bagaimana kader IMM menangkal isu hoaxs di era Post-Truth ini? Bagaimana upaya branding IMM di mata masyarakat?

Ini patut kita cermati, mengapa? Semakin kuat pemahaman nilai-nilai IMM, semakin kita dapat memaknai dalam diri bahwa IMM bukan sekadar merah, bahwa IMM memiliki nilai filosofis yang harus dijaga keberadaannya agar tidak tergerus oleh zaman, agar kader IMM mampu menjadikan nilai-nilai IMM menjadi identitas diri-kolektif, dan dikembangkan dengan segudang konsep gagasan-pemikiran, yang kemudian diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itulah rumusan dan cita-cita besar yang luhur, sarat makna filosofis-substantif ini dirumuskan para pendahulu kita yang dengan harap dapat di jaga marwah nya dan di wujudkan oleh kita sebagai kader IMM selanjutnya.

Kalau kita lihat IMM tempo dulu dengan serius, dalam upaya merancang nilai-nilai IMM ini sebagai landasan perjuangan IMM, tentu sebagai wujud konsistensi, militansi kader ikatan. Maka, hemat penulis, perlu sebagai kader IMM mampu menjiwai nilai-nilai IMM ini, bukan sekadar menghafal atau mengetahui saja. Artinya, sebagai kader IMM mampu membawa nilai-nilai IMM dalam forum-forum; forum kelas akademik, seminar, diskusi, workshop, pelatihan-pelatihan, maupun perkaderan utama/khusus/pendukung IMM. Inilah wajah IMM, membawa IMM sebagai identitas diri. Sehingga manifestasi dari nilai IMM tidak berhenti pada tataran konsep baku, dan tidak berhenti pada wilayah yang reflektif saja.

Yang tentunya ini perlu ada penggalian dari pendasaran konsep-pemikiran, kesadaran individu-kolektif dan bagaimana pemahaman lebih lanjut, untuk kemudian di hayati, yang kemudian di jadikan landasan bergerak. Hemat penulis, hal tersebut haruslah dilandaskan pada kesadaran yang dipupuk dikalangan kader IMM. Sehingga upaya-upaya kolaboratif-partisipatif akan terlihat dan secara langsung seperti magnet yang menempel dan menarik besi, dimaksudkan kader-kader IMM akan ikut dalam melakukan gerakan-gerakan perubahan dalam tubuh ikatan. Yang penulis maknai sebagai, “Kesadaran individu, yang kemudian menjadi kesadaran kolektif mewujudkan IMM yang sesuai dengan cita-cita dan tujuan nya.” Wallahu a’lam bishawab.

Daftar Referensi

Buku:

Sholeh, A. 2017. IMM Autentik: Melacak Autentisitas dan Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Surabaya: PUSTAKA SAGA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *