Gerakan Mahasiswa : Sejarah Perjuangan Hanya Kenangan

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (1 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Oleh : Immawan Faiz Al Ghiffary (Tuanmuda) – Kader IMM FT UMY

Sejarah mahasiswa, tentu kita ketahui bersama adalah sejarah gerakan perjuangan. Bagaimana tragedi 66’ hingga 98’ itu terjadi telah menjadi bukti empiris mengenai sejarah perjuangan mahasiswa.

Namun, semua itu hanya akan menjadi kenangan yang bakal diceritakan dari generasi ke generasi, mengapa ? hal itu dibuktikan dengan melihat gerakan mahasiswa saat ini seperti halnya kapal yang kehilangan arah, terombang ambing kesana kemari tak jelas.

Tentu permasalahan ini menjadi refleksi bersama, tentang bagaimana mengembalikan ghairah gerakan mahasiswa dalam menghadapi permasalahan yang ada dinegri ini. Tak ada lagi alasan untuk mencari dalih pembenaran, tentang merosotnya gerakan mahasiswa. Karena permasalahan yang hari ini kita hadapi sudah sangat konkret, dari kenaikan UKT, kemiskinan, hingga persoalan-persoalan agraria yang semakin menggila. Sudah saatnya gerakan mahasiswa kembali menunjukkan taringnya.

Masih ingatkah kita dengan aksi bakar diri mahasiswa hukum Universitas Bung Karno, Sondang Hutagalung ? aksi yang dilakukan didepan Istana Negara tersebut bukan semata-mata karena faktor ketidakwarasan Sondang, seperti yang dikatakan oleh aparatur negara kala itu. Aksi tersebut merupakan salah satu bentuk protes atas ketidakseriusan penguasa dalam menangani permasalahan HAM yang ada dinegri ini.

Jika aksi tersebut dipandang secara kasat mata, tentu merupakan tamparan terhadap para penguasa kala itu. Namun, disisi lain hal itu juga merupakan pukulan bagi gerakan mahasiswa, aksi yang ada tidak mampu merubah keadaan, hingga membuat Sondang mengambil langkah ekstrem untuk menyuarakan pendapatnya.

Berkaca Pada Masa Lalu

Setelah mampu menumbangkan rezim Soekarno, gerakan mahasiswa pada tahun 90’an kembali muncul ke permukaan guna menentang rezim Orde Baru. Rezim yang dinilai diktaktor dimata masyarakat. Gerakan itu berpuncak pada Mei 98’ dimana mahasiswa mampu memaksa Soeharto mundur dari jabatannya sebagai kepala negara selama 32 Tahun memimpin Indonesia.

Namun penggulingan itu tidak serta merta membersihkan lingkaran kekuasaan secara menyeluruh, masih menyisakan segelintir golongan orang konservatif pada masa orba. Akibatnya, pengorganisiran massa yang begitu dahsyat dapat dibajak dengan mudah oleh segelinitir orang yang tersisa tadi. Pembajakan inilah  yang kemudian diarahkan pada muara pembungkaman gerakan mahasiswa guna melancarkan kepentingan-kepentingan penguasa.

Hal itu semakin terlihat jelas, manakalah pasca 98’ gerakan mahasiswa tidak mampu melahirkan tokoh-tokoh nasional yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat.

Semestinya, tragedi 98’ dapat menjadi pelajaran penting terhadap gerakan mahasiswa saat ini. Bagaimana mengkonsepkan sebuah gerakan secara matang dan jelas arah tujuannnya, sehingga cita-cita besar keadilan dapat ditegakkan secara tenang, tanpa pembajakan dari golongan manapun.

Gerakan Mahasiswa Masa Kini

Setelah sedikit flashback kemasa lalu, kini saatnya kita memikirkan gerakan seperti apakah yang cocok untuk kondisi saat ini dan yang akan mendatang. Sebelum menuju kesana tentu, kita memerlukan pisau analisis yang tajam mengenai kondisi mahasiswa, karena mahasiswalah yang menjadi ruh dalam setiap gerakannya.

Pasalnya mahasiswa saat ini terjebak kedalam budaya konsumerisme, hedonisme, dan pragmatisme. Hal itu merupakan salah satu produk kapitalisme, yang mana sistem tersebut mulai menjarah sistem pendidikan negara kita.

Kapitalismelah yang telah menyulap segala inovasi seakan akan menjadi sebuah kebutuhan manusia, khususnya mahasiswa. Kapitalisme jugalah yang telah menyulap kampus menjadi seperti pabrik sosis siap saji, memaksa setiap kampus untuk menyiapkan lulusan-lulusan siap saji guna memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. Kemudian hal ini yang dilakukan kampus untuk menarik minat mahasiswa baru, dengan iming-iming jaminan pekerjaan dan gaji tinggi. Seakan akan pendidikan yang ada di kampus telah melenceng dari tujuan utamanya untuk “mencerdaskan bangsa” yang kemudian beralih menjadi “pendidikan untuk menyiapkan ketenaga kerjaan pasar.”

Siapa yang telah membuat budaya intelektual berfikir secara terstruktur dan radikal menurun ? jawabannya adalah kapitalisme. Dengan sengaja mereka memaksa mahasiswa berfikir secara instan, dengan menciptakan bimbingan belajar, kapitalisme telah membentuk pola pikir mahasiswa menyelesaikan problematika secara cepat entah bagaimanapun caranya, tak perlu lagi kerja keras.

Dengan bukti-bukti empiris itulah telah jelas. Faktor kemunduran gerakan mahasiswa, paling besar adalah merasuknya kapitalisme dalam lingkup universitas.

Bagaimana kita dapat berkaca dari sejarah, tentang mengkonsepkan sebuah gerakan yang matang, pengorganisasian masa yang baik, jika budaya-budaya konsumerisme, hedonisme, pragmatisme telah mendarah daging dalam setiap tubuh mahasiswa. Semua itu adalah produk kapitalisme yang tak pernah selesai.

Maka dapat dikrucutkan bahwa, cara untuk keluar dari budaya produk kapitalisme tersebut adalah melawan kapitalisme itu sendiri, mulai dari kapitalisme tingkat kampus, misalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *