Pancasila sebagai Ideologi Negara

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (2 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Oleh : Faiz Al Ghiffary (Tuanmuda)

Anggota Bid. Keilmuan IMM Teknik UMY

Kehidupan kebangsaan kita saat ini, justru banyak diwarnai dengan berbagai sikap yang seolah bertolak belakang dengan sifat memanusiakan manusia pada diri warganya. Dari hari ke hari, semakin marak terjadi rentetan peristiwa yang memilukan, seperti kekerasan antar pemeluk agama, penutupan tempat ibadah, aksi kekerasan (terorisme) yang mengatasnamakan agama, kekerasaan antarumat karena perbedaan pendapat, hingga perilaku korupsi yang mewabah dari pusat hingga daerah.

Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi karena, pada setiap pemeluk agama merasa bahwa merekalah yang paling benar, yang lainnya salah. Tak dapat dipungkiri, rasa itu akan melahirkan paradigma negatif dalam diri mereka, dampaknya kembali lagi pada kehidupan mereka, saling serang, saling menyalahkan, dan bahkan saling membunuh satu sama lain. Padahal, jika dilihat dari koridor kemanusiaan, tidak ada manusia didunia ini yang paling benar satu-satunya kebenaran yang mutlak ada pada sang pencipta.

Dengan begitu, tidak terbantahkan, segala kebenaran hanya ada pada Allah saja. Manusia hanya kecipratan selarik cahaya kebenaran itu tanpa ada jaminan mutlak dia sepintas benar. Jika kita hanya kecipratan gelombang cahaya kebenaran, lalu apakah kita punya cukup alasan untuk mengadili seseorang sebagai benar dan salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ?

Di dunia Barat, agama dan negara itu dipisahkan satu sama lain. Agama sebatas berperan memberi layanan spiritual bagi warga negara yang berminat, tetapi semua itu merupakan hak dan pilihan pribadi. Secara teologis, sikap ini memperoleh pembenaran dari Bibel yang membuat pemisahan tegas antara agama dan politik. Urusan beragama diserahkan kepada pendeta, sedangkan urusan politik diserahkan kepada raja.

Teori seperti ini jelas sangat sulit diterapkan di Indonesia yang mayoritas warganya beragama islam. Karena umat Islam sendiri memiliki ajaran dan pengalaman kolektif yang berbeda juga. Nabi Muhammad yang dijadikan sebagai model kepemimpinan agama, politik, dan juga sosial oleh umat Islam, ketika wafat justru mewariskan kekuasaan politik yang dibangun di atas fondasi ajaran agama. Bahkan warisan tradisi seperti  ini dijaga dan dikembangkan lagi oleh kepemimpinan berikutnya.

Jadi, dalam pandangan kolektif umat Islam terdapat ingatan yang sangat kuat bahwa, agama dan negara itu tidak terpisahkan dan hubungan sinergis antara keduanya pernah melahirkan peradaban besar. Namun sekarang malah muncul persoalan baru yang mesti dipikirkan dan dipecahkan bersama, bagaimana memposisikan agama, ketika muncul negara modern berdasarkan paham nasionalisme seperti Indonesia ?

Dalam hal ini, nampaknya para pendiri bangsa sangat genius dalam menjembatani keduanya melalui ‘ideologi Pancasila’. Secara formal Indonesia memang negara sekuler, dalam pengertian bukan negara teokrasi, akan tetapi negara juga memberikan proteksi dan fasilitas bagi perkembangan agama yang ada. Nilai-nilai dan norma agama boleh masuk dalam ruang publik, tetapi harus melalui proses legalisasi terbuka, sehingga menjadi bagian dari hukum positif.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ideologi pancasila tersebut, selanjutnya perlu dipahami, dihayati, dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berpedoman nilai-nilai tersebut, maka tidak akan terjadi fenomena-fenomena seperti diatas. Karena itu, kita perlu memahami makna yang terkandung dalam pancasila tersebut secara menyeluruh.

Seperti halnya dalam sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Mempunyai makna bahwa setiap warga negara berhak menganut dan menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing. Oleh sebab itulah, perlu dibangun toleransi antarumat beragama. Sikap toleran seperti ini tentu saja dapat menghindari konflik antarumat beragama dan munculnya dominasi dari agama tertentu.

Begitu juga sila-sila berikutnya, yang tak kalah pentingnya dalam menjembatani kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Namun dalam kenyataannya, nilai-nilai tersebut belum diaplikasikan dengan benar. Padahal, Pancasila sudah menjadi dasar negara, ideologi nasional, dan way of life bangsa Indonesia.

Peradaban negara Indonesia yang dibangun di atas landasan ideologi Pancasila harus selalu disegarkan dalam setiap kehidupan, supaya kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mudah terjebak ke dalam lingkaran kekerasan dan pertentangan dalam masyarakat. Maka di sinilah makna pentingnya kita kembali kepada ideologi Pancasila. Bukan semata-mata untuk bernostalgia, melainkan untuk menyempurnakan cara bernegara supaya menemukan adabnya sekaligus memberikan jaminan kepada mereka yang memiliki perbedaan dengan kita.

Kita membutuhkan Pancasila karena komitmen bersama untuk menjaga bangsa ini. Bahwa bangsa ini bukanlah milik satu kelompok, tetapi milik bersama sebagai warisan para pendiri bangsa yang telah memperjuangkannya dengan segala jiwa dan raga. Secara teologis pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan agama, bahkan merupakan ijtihad besar yang dilakukan para leluhur dalam menyelesaikan persoalan bangsa yang ada padanya. Oleh sebab itu jugalah kita membutuhkan pancasila tersebut.

Perlu diingat bahwa, pancasila merupakan pandangan hidup bangsa, bukan suatu agama ataupun kitab suci. Pancasila juga merupakan hasil dari kesepakatan bersama para pendiri bangsa ini dalam menentukan arah bangsa, dengan roh Islam di dalamnya. Maka, sudah seharusnya kita menyelaraskan sikap hidup beragama kita dengan sikap penuh rahmah, agar Indonesia dengan ideologi Pancasila bisa menjadi tempat tinggal semua umat manusia dengan latar belakang yang beragam, baik dalam agama, suku, ataupun warna kulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *