Dakwah Milenial dan Style Tempat Ngopi Klasik

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (2 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Oleh : A’an Ardianto

Dakwah sebagai sebuah realitas sosial memilki sifat yang selalu dinamis, membutuhkan pembaharuan untuk mempelancar geraknya. Sifat dinamis ini erat kaitannya dengan obyek yang di dakwahi. Menjadi sebuah kenyataan, metode dakwah sekarang banyak memakai instrument yang mendekatkan dakwa kepada para kelompok melenialis. Kenyataan tersebut menjadi sebuah hal yang membanggakan, karena berhasil merebut ‘pasar’ dakwah abad kekininan. Gaya dakwah ini juga berhasil menciptakan entitas sosial keagamaan baru pada kelompok milenial. Menyebabkan ghirah beragama mereka luar biasa, bahkan terkesan lebay.

Generasi meilenial atau generasi Y, merupakan manusia yang lahir diatas tahun 1980-an sampai pada tahun 1997. Menurut Karl Mannheim, mereka disebut generasi milenial karena telah melewati melenium kedua. Menurutnya, manusia di dunia akan saling memengaruhi dalam membentuk karakter generasi. Misalkan, manusia pada masa Perang Dunia II akan memiliki karakter berbeda dengan manusia pasca Perang Dunia II. Terbentuknya karakter manusia tiap generasi tidak bisa dilepaskan dari sosio-sejarah yang telah dan sedang terjadi. Inilah yang menyebabkan karakter generasi milenial meskipun memiliki sudut pandang terhadap dunia tidak sama dengan generasi yang pernah ada. Tetapi mereka tetap tidak bisa meningalkan romantisme pemakaian sudut pandang dunia dari generasi sebelumnya.

Kembali pada tantangan dakwah generasi milenial. Instrument dakwah yang dipakai sekarang ini semakin melenialistik. Pemakaian media baru (internet) sebagai alat penyampai dakwah sudah tidak bisa dielakkan lagi. Juru dakwah melakukan eksplorasi segala lini terhadap internet, hampir setiap jenis media yang memiliki kaitan dengan internet dieksplor habis-habisan sebagai sarana dakwah. Hal ini pada awalanya memang menjawab tantangan dakwah terhadap pergerakan zaman. Akan tetapi alih-alih menjadi sarana dakwah mutahir, media baru justru menjadi buah simlakama bagi semangat dakwah itu sendiri. Dakwah gaya baru yang awalnya menjawab persoalan generasi milenial, mendekatkan dakwah kepada mereka. Sekarang terkesan bahwa dakwah gaya ini telah masuk dalam kontaminasi karakter generasi milenial.

Hal ini dapat dilihat semakin pragmatsinya generasi milenial dalam beragama. Mereka seakan enggan membaca dan meperdalam ilmu-ilmu agama langsung kepada guru, ‘ulama, dan kitab yang memang menjadi landasan utama dalam keilmuan. Misalnya, ketika mereka mendapati persoalan dalam agama, yang mereka rujuk adalah chanel siaran media langananya. Padahal jika memahami karakter media baru (internet). Disana ditemukan bahwa salah satu karakter atau cirinya adalah memiliki karakter interaktif. Karakter interaktif dalam konteks media baru sebagai sumber informasi, pengguna bisa memainkan dua peran bahkan lebih. Pengguna bisa menjadi produser sekaligus consumer. Artinya dalam waktu bersamaan pengguna ketika mengkonsumsi sebuah berita, diwaktu yang sama pengguna juga bisa menjadi pembuat berita.

Karekter interaktif dalam media baru inilah yang memunculkan konten hoak. Karena pembuat konten tidak bisa dipastikan kredibiltasnya dan anonim. Dengan demikian, dakwah milenial perlu untuk dilakukan redefinisi dan reaktualisasi. Mengingat banyaknya potensi ketidakbaikan didalamnya. Perilaku konsumsi pesan dakwah melalui internet memiliki dampak panjang pada generasi selanjutnya. Karena merujuk pada sumber yang ada di internet, bisa jadi sumber ilmu yang di rujuk anonim. Sehingga sanad keilmuannya tidak jelas. Maka, sudah harus dirubah paradigma berfikir dan cara dakwah kepada kelompok milenial. Bahkan mungkin bila perlu merujuk pada metode dakwah kalsik.

Merujuk pada judul tulisan diatas. Dakwah Milenial dan Style Tempat Kopi Klasik. Merupakan refleksi penulis dari pola perilaku manusia sekarang yang mulai kembali ke romantsime style klasik. Bisa jadi disebebkan oleh kejenuhan manusia abad milenial dengan pola hidup yang serba modern dan instan. Contoh yang sangat kental adalah menjamurnya tempat ngopi gaya-gaya klasik. Memang persoalan dakwah tidak bisa disamakan dengan trend tempat ngopi. Tapi setidaknya, fakta tersebut menjadi tolak ukur sederhana. Memang harus ada pengkajian ulang terhadap metode dakwah kepada generasi milenial. Pengakajian ini perlu dilakukan, mengingat semakin tidak efektifnya metode dakwah ini dalam merubah gaya hidup generasi milenial. Bahkan terkesan sebagai metode dakawah formalitas saja, tanpa ada perubahan terhadap obyeknya.

Selain itu, pengkajian metode dakwah perlu dilakukan dengan alasan. Dimasa  yang akan datang zaman sudah bukan lagi milik generasi milenial. Akan tetapi menjadi milik generasi Z. Generasi Z merupakan manusia yang lahir dari tahun 1995 hinga 2014. Jika melihat dunia 20 tahun kedepan, generasi inilah yang mengisi pos-pos penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Mereka yang akan memimpin generasi milenial sekarang. Pengkajian juga dimaksudkan sebagai persiapan dalam menjawab tantangan zaman kedepan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *