KITA (Aku dan Kau) Berbicara Tentang Pendidikan

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (2 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Sebuah Refleksi oleh Sena Putri Safitri

Dewasa ini banyak sekali perbincangan di media sosial tentang suatu kondisi dimana dunia pendidikan semakin gendeng[1]. Seperti halnya kasus yang terjadi di pontianak tentang pemukulan seorang siswa SMK terhadap temannya didalam kelas pada bulan november tahun 2017, kemudian kasus seorang siswa SMA di Sampang Madura yang memukul gurunya sehingga mengakibatkan cedera pada batang otak dan akhirnya meninggal dunia pada bulan februari 2018, dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan masih adanya gap yang begitu besar antara das sein dan das sollen dalam dunia pendidikan. Terjadinya peristiwa semacam ini tentunya tidak lepas dari pola relasi sosial antara guru dan murid ataupun orang tua dan anaknya yang kurang sesuai. Untuk itu perlu suatu penekanan yang dilakukan oleh orang tua maupun guru dalam upaya internalisasi nilai-nilai kesadaran kolektif berupa aturan-aturan moral, serta aturan baik dan buruk terhadap para siswa. Disisi lain guru maupun orang tua harus mampu memposisikan diri mereka sebagai figur yang layak untuk diteladani dalam sikap dan perilakunya.

Ulasan diatas kembali menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu hal yang sangat fundamental, bahkan dalam skala makro, lingkungan, politik, pemerintahan, dan pranata lainnya  turut memberikan pengaruh dalam suatu proses pendidikan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan lingkungan sosial budaya juga memunculkan permasalahan yang harus dipecahkan, apalagi saat ini kita memasuki era disrupsi yang segala sesuatunya berubah dengan cepat. Ketua bidang SDM terbarukan dan pendidikan vokasi dalam forum rembuk nasional 2017 Rhenald Kasali mengatakan “di era teknologi dunia maya yang berkembang sangat pesat, tantangan pendidikan karakter pun juga begitu berat, salah satunya kurangnya etika dan ujaran kebencian yang bertebaran di media sosial memperberat tantangan pemerintah dalam membangun SDM berkualitas melalui pendidikan karakter” di kawasan Jie Expo Kemayoran Jakarta Pusat (23-10-2017).

Belum lagi berbicara masalah pendidikan tinggi yang secara kuantitatif pertumbuhannya cukup mengesankan, namun bila menyangkut mutu dan kualitas perkembangannya cukup merisaukan, salah satu faktornya mungkin karena pendidikan tinggi Indonesia pada dasarnya masih teergolong perguruan pengajaran, bukan universitas riset yang memprioritaskan penelitian. Dana penelitian yang disediakan oleh pemerintahpun sangat terbatas, Bank dunia mencatat bahwa dana riset Indonesia hanya 0,08 % dari produk domestik bruto (PDB) terendah diantara Negara-Negara ASEAN.[2] Pola fikir serta cara pandang sebagian mahasiswa dan masyarakat tentang pendidikan tinggipun terkadang juga masih pragmatis dan materialistis, dimana pendidikan hanya ditujukan untuk mendapatkan pekerjaan yang bisa meningkatkan kesejahteraan dan status sosial. Seringkali masyarakat saat ini hanya berkutat dan terjebak pada dua time zone; masa lalu, dan masa kini. Hal-hal semacam ini yang sebenarnya menjadi penghambat progresifitas ataupun kemajuan suatu bangsa karena tidak memiliki daya pikir visioner yang berorientasi pada pembangunan dimasa depan.

Selain itu kapitalisme juga telah membius kesadaran masyarakat, alih-alih mendongkrak mobilitas keluarga pekerja menjadi lebih baik, padahal yang terjadi hanyalah semacam modernisasi kemiskinan, tidak lagi produktif, bahkan destruktif bagi dirinya seperti pengekploitasian, paksaan, yang muaranya adalah ketimpangan dan  ketidakadilan. Masyarakat dibangun diatas kesadaran semu, lepas kontrol terhadap syahwat belanjanya sampai tiba waktunya menjelma menjadi sebuah budaya dan gaya hidup baru. Lantas, bagaimana dengan dunia pendidikan kita hari ini? nampaknya, dunia pendidikan juga terperangkap dalam jerat kapitalisme, dan telah menjalar sampai pada penghuni didalamnya. Komersialisasi pendidikan yang mulai merebak dimana-mana, dari tingkat yang paling dasar bahkan sampai tingkat pendidikan tinggi sekalipun. Kampus yang seolah-olah menjadi lahan bisnis yang berorientasi pada pasar tenaga kerja yang dibutuhkan, mencetak jutaan sarjana setiap tahunnya untuk mengisi lowongan-lowongan pekerjaan tanpa dibekali dengan daya cipta dan penyadaran atas realitas bangsa secara lebih holistik, tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan bangsa 5, 10, bahkan 20 tahun yang akan datang.

Maka tidak heran apabila seoarng musisi aktivis asal Kota Malang turut menyampaikan pesan melalui lagunya “jangan masuk kuliah” dan “karena Kuliah tak lagi Murah”. Cukup menggelitik dan patut diapresiasi!. Nah, demikian itu merupakan representasi keresahan dari beberapa kalangan yang memandang bahwa dunia pendidikan atau kampus seakan menjadi tembok besar penghalang antara mahasiswa, pelajar dengan realitas sebenarnya. Pendidikan yang seharusnya bersentuhan langsung dan mampu membawa keadaan masyarakat dan bangsa menjadi lebih baik dan menjadi counter terhadap segala hal yang berbau pembodohan, pengebirian, serta pengekploitasian justru terkesan acuh dan masa bodoh.

Pun uraian  yang telah disampaikan, disini penulis bermaksud mengajak kepada setiap pemuda dan maha-siswa agar mau dan terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi dan kesadaran diri, guna dapat mengembalikan esensi dan eksistensi sebagai seorang pemuda yang turut bertanggung jawab atas terciptanya moralitas bangsa secara luas. Seorang tokoh bernama Einstein berkata “Ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang, begitupun agama tanpa ilmu pengetahuan akan buta”, artinya dalam spirit membangun sebuah peradaban baru, agama menjelma menjadi moral etik yang selalu mengiringi perjalanan hidup manusia, disaat akal sudah menjadi Tuhan bagi tuannya, sehingga syahwat manusia bergerak secara membabi buta, maka agama bagaikan nurani yang selalu menyuarakan kebaikan.

Sekali lagi, esensi pendidikan tidak hanya untuk diselami kaum intelektualis (pengetahuan intelektual hanya digunakan untuk mencapai konsep-konsep intelektual yang melampaui batas) jua bukan untuk dinikmati kaum emosionalis (pengetahuan intelektual mencakup baik perasaan emosional hanya dimanfaatkan untuk keperluan dirinya sendiri) namun tentang hakikat! Pengetahuan ini lah yang membuat manusia dapat mencerap apa yang benar, apa yang baik, mengatasi batasan-batasan pikiran biasa dan pengalam empiris. Maka ayolah bersama-sama belajar mencapai kebenaran, menjadi pribadi yang tahu bagaimana menghubungkan dirinya dengan hakikat (dalam hal ini pendidikan) yang terletak dibalik kedua bentuk pengetahuan. Itulah aktivis akademisi sejati!.

Yogyakarta (Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqul Khairat), 16 Maret 2018

 

Referensi Buku:

Mayling Oey Gardiner dkk,  2017, Era Disrupsi Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Di Indonesia, Jakarta : Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

[1] Adalah semacam keadaan yang menggambarkan perilaku yang tidak normal atau gila

[2] Mayling Oey Gardiner dkk, Era Disrupsi Peluang dan Tantangan Pendidikan Tinggi Di Indonesia, Jakarta : Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2017, hlm 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *