Kartu Kuning dan Rasa Kemanusiaan Kita

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (9 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

 

Oleh : Immawan Ikhwan Maulana (Kader IMM Fisipol UMY)

Kartu kuning disertai tiupan peluit yang di lakukan oleh ketua BEM UI saat acara Dies Natalis UI kemarin merupakan aksi simbolik yang di lakukan oleh seorang mahasiswa. Aksi tersebut di tunjukan kepada Presiden Jokowi saat acara Dies Natalis sedang berlangsung. Aksi itu dilakukan melihat begitu banyak kebijakan pemerintah yang belum pro kepada rakyat. Menurut ketua BEM UI Zaadit Taqwa aksi itu di rancang oleh BEM UI untuk meyadarkan pemerintah bahwasanya masih banyak tugas pemerintah yang belum terlaksana dengan baik, akan tetapi setelah aksi tersebut di lakukan terdapat berbagai pro kontra yang tunjukan kepada BEM UI.  Beberapa pihak mengatakan sudah seharusnya pemerintah mengucapkan terima kasih karena sudah di ingatkan oleh mahasiswa dan bentuk aksinya pun menurut beberapa pihak masih wajar-wajar saja. Namun beberapa pihak menyatakan bahwa aksi tersebut tidak etis karena di lakukan saat acara Dies Natalis UI. Begitupun juga pihak UI sendiri menyayangkan aksi tersebut di lakukan pada saat acara itu berlangsung.

BEM UI sebelum Dies Natalis sebenarnya sudah di janjikan oleh pihak presiden untuk bertemu dengan presiden setelah acara itu berlangsung hal itu di benarkan oleh pihak BEM UI walaupun menurut BEM UI sendiri belum ada kepastian sampai aksi kartu kuning tersebut di lakukan apakah BEM UI bisa benar-benar bertemu dengan presiden atau tidak. Kalau melihat etis atau tidak etis aksi itu dilakukan saat acara Dies Natalis ini juga masih perlu di perdebatkan karena nilai etis atau tidak etis mengacu pada moralitas. Setiap orang memiliki berbagai sudut pandang untuk melihat menggunakan kacamata yang berbeda tergantung nilai-nilai individu yang di anutnya. Bisa jadi beberapa orang karena pro terhadap pemerintah yang seharunya menganggap aksi itu biasa-biasa saja karena dia pro pemerintah kemudian dia menganggap itu sebagai tidak etis, juga sebaliknya jika ada orang yang oposisi pemerintah kemudian menganggap hal itu tidak etis karena dia oposisi pemerintah maka dia menganggap aksi itu sah-sah saja di lakukan.

Begitu juga tuntutan aksi oleh BEM UI untuk kasus asmat beberapa orang menganggap legitimasi moralnya yang dilakukan oleh BEM UI sendiri belum kuat karena BEM UI belum terjun langsung ke asmat. Hal ini juga masih perlu di perdebatkan karena apakah kemudian kritik atau penyadaran terhadap pemerintah tidak boleh di lakukan oleh mahasiswa ketika belum kesana. Pernyataan yang menganggap mahasiswa harus terjun langsung dulu untuk bisa melihat apa-apa yang terjadi di sana baru kemudian mengkritik bisa kita analogikan misalnya ketika mengkritik pemerintah karena mengekspor beras kemudian banyak daerah yang penduduknya  petani dan di rugikan oleh kebijakan ekspor beras ini. Melihat ini akankah mahasiswa harus terjun ke semua daerah yang banyak menghasilkan hasil pertanian dulu baru kemudian mahasiswa mengkritik pemerintah soal ini, kemudian petani menjerit karena seharusnya sudah bisa di selesaikan oleh pemerintah ketika mahasiswa langsung mengkritik akan tetapi karena mahasiswa terlalu lama terjun ke masyarakat megamati masyarakat sampai-sampai pemerintah abai terhadap nasib para petani ini.

Mahasiswa seharusnya terjun langsung karena merupakan bagian dari masyarakat merasakan apa yang dialami oleh masyarakat sampai mencium bau keringat masyarakat, memang ini tugas seorang mahasiswa hal ini juga terdapat dalam tri dharma perguruan tinggi. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat harus ikut terjun langsung di masyarakat tetapi apakah kemudian kita tidak boleh mengkritik pemerintah ketika kita bisa melihat begitu banyak dalam media foto-foto yang menampilkan warga suku asmat yang seperti itu. Kemudian hati nurani kita tergugah rasa kemanusiaan kita muncul di situ, apakah tidak boleh kita sebagai sesama manusia peduli terhadap mereka yang sesama warga negara seperti kita juga. Kebijakan-kebijakan yang seharusnya di lakukan oleh pemerintah akan tetapi belum di jalankan oleh pemerintah secara maksimal kemudian kita sebagai mahasiswa mengingatkan. Begitu picik kemudian kita sebagai warga negara tidak di ijinkan untuk mengkritik pemerintah ketika rasa kemanusian kita muncul karena peduli sebagai sesama warga negara. Apakah kemudian kita akan kembali ke zaman orba ketika melakukan kritik langsung di bungkam oleh pemerintah karena akan membahayakan kekuasaan. begitu banyak agenda reformasi yang masih perlu dilakukan oleh pemerintah.

Pak Jokowi sebagai presiden sudah seharusnya tidak usahlah takut terhadap kritikan-kritikan mahasiswa karena masih banyak mahasiswa yang tulus peduli kepada sesama warga negara. Begitu banyak mahasiswa yang peduli terhadap negara ini murni soal kemanusiaan yang tidak di tumpangi oleh partai politik melihat banyak isu yang menganggap mahasiswa yang mengkritik pemerintah berafiliasi dengan partai politik. Tidak usahlah takut walaupun tahun-tahun ini merupakan tahun menuju pemilihan presiden ketika bapak sebagai presiden menjalankan semua kebijakan bapak yang tertuang dalam nawacita rakyat pasti akan memilih bapak lagi ketika hal itu bapak lakukan. Masih banyak dari kita tetap  dalam posisi independen dalam berbagai kepentingan politik praktis dan akan tetap seperti itu. Tetapi kalau sudah menyangkut kepentingan rakyat maka kita sebagai mahasiswa merupakan penyambung antara masyarakat kepada pemerintah. Kita akan hadir di situ untuk menyuarakan apa-apa yang merupakan kehendak masyarakat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *