“Mengupas Pahlawan yang Dilupakan”

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (5 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Oleh : Faiz Al Ghiffary (Tuanmuda) – Anggota Bid. Keilmuan IMM Teknik UMY

“Ingatlah bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras dari pada dari atas bumi.” (Tan Malaka).

Seakan akan kata-kata itu kini terbukti, sekian tahun menjadi buronan intelejen Amerika, Inggris hingga Belanda dan akhirnya tewas ditangan bangsanya sendiri. Namun, suaranya sampai saat ini tetap menggelegar keseluruh pelosok negri. Pembahasan demi pembahasan mengenai Tan pun tidak pernah berhenti. Terlebih lagi dalam golongan mahasiswa yang sering meneriakkan keadilan, yang menjadikan Tan Malaka sebagai idola dan simbol perjuangan.

Tan Malaka adalah seorang aktivis kemerdekaan, yang keberadaanya merupakan suatu ancaman bagi pemerintahan. Ia lahir pada 2 juni 1897 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Nama asli Tan Malaka ialah Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka.

Tan mendapatkan gelar pahlawan nasional pada 28 maret 1963 atas Keppres No. 53 Tahun 1963, namun sang Bapak Republik Indonesia yang acap kali dalam golongan aktivis digadang2 kan, namanya tak pernah masuk dalam pelajaran sejarah kita. Padahal, dalam keseharian sering kali kita mendengar dan melontarkannya lagi kata-kata “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghromati jasa para pahlawannya” (Ir. Soekarno) lalu melihat realita seperti ini, tentu menimbulkan pertanyaan “pahlawan mana yang dihormati ?” apakah hanya segelintir saja yang perlu dihormati ?” sungguh miris bukan ?

Jika sang pemula kebangkitan nasional dikenal oleh sosok Tirto Adhie Soerjo dan Wahidin Soedirohoesodo, penentu kemerdekaan dikenal sosok Soekarno dan Hatta, maka tokoh pelopor kemerdekaan indonesia dikenal sosok Tan Malaka, terkenal melalui pemikirannya yang tertuang lewat karyanya, terutama dalam karya, Naar de Republiek Indonesia (1924), Massa Actie (1926), serta Madilog (1943) ia menulis karya-karya tersebut semasa menjadi buronan intelijen kekuasaan kolonial.

Semasa hidupnya, ia hanya menginginkan kemerdekaan itu seratus persen, tak ada kompromi dengan siapapun lebih-lebih dengan maling yang ingin menguasai rumahnya. Karena kompromi adalah suatu bentuk ketakutan dan kekalahan, oleh sebab itulah Tan tidak mau berkompromi dengan siapapun dan apapun. Hal itu ia tuturkan lewat pidatonya yang pertama, pada rapat pertama Persatuan Perjua­ngan, “Orang tak akan berunding dengan maling di rumahnya.”

Paradigma yang Salah

Tak bisa dipungkiri bahwa Tan Malaka tokoh legendaris, ia adalah seorang nasionalis tulen. Ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk kemerdekaan bangsanya. Bahkan, tak peduli dengan kehidupannya sendiri, rela berpindah pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk bersembunyi, dan setidaknya ada 23 nama samaran yang pernah ia gunakan. Maka bukan suatu yang tabu, jika nama besarnya sering menjadi panutan bagi para pejuang bangsa saat ini.

Namun, dewasa ini banyak perspektif yang lebih mengenal sosok tan sebagai seorang komunis. Tanpa mengetahui asal usul dan perjalanan hidupnya, yang mana sampai saat ini pemikiran-pemikiran Tan Malaka masih relevan untuk dipelajari dan dijadikan simbol perjuangan. Tak salah jika kita mengatakan Tan sebagai seorang komunis, dan bahkan pernah menjadi pemimpin partai komunis indonesia, karena memang begitulah kenyataanya. Namun yang perlu digaris bawahi adalah pada tahun 1926 ia sudah keluar dari lingkaran elite komunis, baik dalam indonesia sendiri ataupun lingkaran komunis internasional. Terlebih lagi bahkan Tan mendirikan partai baru yaitu Partai Republik Indoneisa, yang menjadikan ia makin dimusuhi oleh orang-orang PKI pada masa itu.

Sebagai keturunan minang yang religius, Tan memegang teguh prinsip-prinsip agama. Melalui tulisannya islam dalam tinjauan madilog (1948) ada kesamaan antara semangat islam dengan konsep pemikiran dalam madilog. Sebagaimana islam menjunjung tinggi rasionalitas dan hukum alam. Akan tetapi juga menjunjung tinggi dimensi pergerakan sosial ekonomi bahkan sampai ke politik.

Begitu juga Hamka seorang ulama besar, sastrawan, sejarawan dan juga politikus mengakuinya melalui pengantar buku tersebut, Al Ustadz Tan Malaka yang menyebutkan bahwa Islam sejalan dan secorak dengan pergerakan sosial modern. Namun yang perlu diketahui Tan memang tak mau mencampur adukkan antara agama dan perjuangan.

Jadi akan sangat salah jika kita menganggap Tan sebagai seorang komunis-ateis PKI tulen, mengingat kecintaannya terhadap bangsa ini dengan diwujdukan melalui pemikiran-pemikirannya yang ingin merdeka seratus persen tanpa kompromi sedikitpun.

Begitulah sosok Tan Malaka yang tidak pernah berhenti mengkritik siapa saja, tak peduli walau nyawa menjadi taruhannya hingga akhirnya ia tewas ditangan bangsanya. Pemikiran Tan pun sampai saat ini masih menjadi inspiratif bersama. Dan masih mampu menjadi kritikan bagi siapa saja yang berbuat dzolim terhadap bangsa ini. Seakan akan sosok tersebut muncul lagi kepermukaan melalui karyanya yang dipelajari oleh segrombolan orang yang ingin menerikkan kebenaran dan kemerdekaan seratus persen seperti halnya yang dilakukan Tan Malaka puluhan tahun lalu.

Semangat juangnya yang menggelora membara seperti api yang menyala nyala, menjadi contoh dan tauladan bagi setiap pergerakan saat ini. Namun apakah semangat perjuangan yang dilakukan oleh kaum muda saat ini mampu melebihi atau minimal menyamai semangat juang Tan Malaka ? dengan nyawa menjadi taruhan dan bahkan namanya dilupakan dari panggung sejarah ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *