“Menemukan identitas keilmuan IMM”

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (11 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Oleh : Immawan Akmal Akhsan Tahir (Kabid RPK IMM Fai UMY)

 

Sudah 53 tahun IMM malang melintang dalam dunia gerakan mahasiswa. Dalam kurun waktu 1964-2017 Ikatan ini tidak bisa mengelak pada konsep utama pendiriannya sebagai gerakan intelektual. Sekalipun demikian, IMM masih terlihat inferior jika dibandingkan dengan gerakan mahasiswa lainnya. Ada beberapa hal yang menjadi musabab ketidakberdayaan IMM dalam gerakan intelektual. Pertama, tidak adanya integrasi keilmuan antara pusat, daerah, cabang serta komisariat. Rancangan yang dibangun oleh pusat berupa GBHO (Garis Besar Haluan Organisasi) ternyata belum mampu diejawantahkan secara konkret dalam dataran kecil komisariat, perihal ini berimbas pada tidak jelasnya arah keilmuan IMM. Kedua, ketidakmampuan IMM dalam menerjemahkan tradisi intelektual Muhammadiyah. Sebagaimana yang kita pahami, Muhammadiyah memiliki tradisi intelektual yang sistematis, perihal ini ditandai dengan peran tokoh-tokoh Muhammdiyah sebagai “pencerah” dalam konteks masyarakat, persyarikatan maupun bangsa. Tradisi inilah yang kian tak terjamah dalam tubuh IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Ketiga, “penjara” akademik yang masih menyelimuti tubuh kader IMM. Maksudnya, kader ikatan masih banyak yang terjerembab pada keilmuan akademik kampus  tapi tidak mampu mengejawantahkan pada persoalan sosial kemasyarakatan.

 

Syafii Ma’arif pernah menyatakan :
“bila visi intelektual hendak dikembangkan, maka jalan yang terbuka adalah menerobos batas-batas disiplin yang digeluti. Khususnya menggeluti agama, filsafat, sejarah, sastra dan wacana intelektual lainnya. tanpa bantuan komponen humaniora ini, semua visi intelektual kita tetap dipasung oleh disiplin ilmu masing-masing” (Maarif, 1997)

Tentu ini bukan berarti legitimasi untuk mengesampingkan disiplin ilmu masing-masing (colek kader yang menunda kelulusan) 😀 , sudah saatnya kader keluar dari zona nyaman akademik menuju ilmu-ilmu lainnya sebagai penambah cakrawala berfikir kader.  Akhirnya ketiga hal diataslah yang menjadikan IMM kian kering dalam gerakan intelektual/keilmuan.

Menemukan Identitas

Pada dataran konseptual sesungguhnya IMM sudah memiliki arah keilmuan yang jelas, tentu kita tidak lupa dengan pondasi tri kompetensi dasar (intelektulitas, relegiutas , humanitas) serta arena bergerak berupa trilogy (keagamaan, kemahasiswaan, kemasyarakatan), keduanya merupakan kacamata dalam menatap identitas keilmuan IMM. Berangkat dari dua konsep diatas inilah, maka kita bisa menyatakan bahwa identitas keilmuan IMM sesungguhnya ialah :

  1. Keilmuan berbasis akademik. Seorang kader IMM harus menjaga dan mengembangkan kualitas ilmu akademiknya. Dalam era teknokrasi serta modern ke depan, Islam dan Indonesia membutuhkan kader agama serta bangsa yang memiliki basis keilmuan akademik untuk mengisi sector sector yang ada, baik sector kesehatan, pendidikan, pemerintahan maupun persyarikatan.

 

  1. Keilmuan Islam. Pendalaman ilmu keislaman tentu tidak bisa kita elakkan. Ilmu-ilmu dengan sendi Islam sangat diperlukan khususnya dalam melawan arus modernis dengan konsekuensi sekularismenya. Basis ilmu agama ini merupakan gen pemikiran dalam memandang ilmu-ilmu yang lainnya.

 

  1. Ilmu humaniora. Sebagai intelektual transformatif, kader mesti mengetahui ilmu tentang filsafat, hukum, sejarah, bahasa, sastra, seni dan sebagainya. Tujuanya agar ilmu ini menjadi pisau dalam menganalisis realitas sosial-masyarakat. Tentu kita maklum bersama, bahwa muara akhir segala aktivisme kita ialah peran kepada masyarakat sehingga ilmu yang berbasis humaniora sangat penting dalam upaya melihat realitas masyarakat secara objektif.

 

  1. Ilmu berbasis perkaderan dan persyarikatan. Dalam mengisi perjalanan Muhammadiyah kedepannya, kita membutuhkan kader yang paham tentang ilmu manajerial dan kepemimpinan. Dewasa ini, Muhammadiyah tidak banyak diisi oleh kader yang berasal dari IMM, bahkan seringkali diisi oleh kader yang bukan berasal dari gen ortom Muhammadiyah. Dengan demikian, IMM mesti segera meng-upgrade kompetensinya dalam rangka mengisi persyarikatan dihari hari yang akan datang.

Secara demikian, keempat basic keilmuan diataslah yang menjadi identitas keilmuan IMM sekaligus menjadi lahan garap keilmuan kader IMM. Gerakan yang dibangun ikatan tanpa pondasi pengetahuan tidak akan menjadi ikatan yang ideal dan futuristic. Jalannya proses perkaderan ideal akan sangat bergantung pada kapasitas pengetahuan kader. Sudah saatnya IMM keluar dari zona nyamannya, menempa diri dengan basis keilmuan, menciptakan kader yang memiliki kualitas keilmuan yang mumpuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *