Haedar Nashir : “Muhammadiyah Merekat Kebersamaan”

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (1 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Yogyakarta- Milad Muhammadiyah ke 105 mengusung tema “Muhammadiyah Merekat Kebersamaan”. Bertempat di Pagelaran Keraton Yogyakarta pada Jum’at (17/11/2017),  resepsi milad kali ini menngharuskan para pimpinan dan peserta Muhammadiyah dari Pusat dan Wilayah serta Amal Usaha menggunakan pakaian nasional dan daerah. Guna sebagai perwudjudan simbolik keragaman suku dan budaya yang dimiliki Indonesia.

Haedar Nahsir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan, keragaman dan kemajemukan tidak menghalangi hidup secara damai, toleran dan saling memajukan. “Kita menyadari dan memahami betul bahwa Indonesia lahir, tumbuh, dan berkembang sebagai bangsa yang mejemuk: Bhinneka Tunggal Ika. Kami ingin Indonesia tetap utuh sebagai bangsa majemuk yang menjunjung tinggi kebersamaan”, ungkap Haedar membuka pidato.

Keindonesiaan yang berjiwa kebersamaan merupakan sesuatu yang luhur dan bercita-cita. “Jika semua merasa memiliki Indonesia maka belajarlah hidup dalam kebersamaan yang otentik dan tidak egoistik. Perlu saling membangun keadaban luhur dalam berbangsa dan bernegara.” jelasnya.

Bagi umat Islam dan anggota Muhammadiyah merekat kebersamaan sebagai bentuk penguatan integrasi keislaman dan keindonesiaan di tengah kemajemukan bangsa. “Umat Islam harus menjadi kekuatan pemersatu yang mengayomi, memoderasi, dan menguatkan kebersamaan seluruh warga bangsa. Ketika ada retak sesama anak bangsa harus menjadi golongan yang mendamaikan dan memberi solusi”, tururnya.

Dipertengahan resepsi, Muhammadiyah memberikan penganugerahan atau disebut Muhammadiyah Award kepada 3 tokoh yang sangat berjasa dan berdedikasi besar untuk kemajuan Muhammadiyah. “Pertama Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai representasi peran Kraton Yogyakarta. Kedua, Proffesor Mitsuo Nakamura seorang antropolog yang sepanjang karir akademiknya dihabiskan untuk mengkaji Muhammadiyah. Ketiga, kepada Haji Roemani (almarhum) dengan ketulusannya mendirikan RSU Muhammadiyah Roemani di Semarang. Penghargaan itu merupakan bentuk rasa syukur dan terimakasih kami, yang boleh jadi tidak seberapa dibading kiprah dan penghidmatan ketiga tokoh tersebut dalam posisi dan perannya masing-masing” tutur Haedar.

Juga keberagaman budaya akan kekayaan yang dimiliki Indonesia terasa begitu kental pada Milad ke 105 kali ini. Dengan berbagai macam penampilan Tari Lintas Nusa, musik Orkhestra Dwiki Dharmawan hingga paduan suara yang disuguhkan di awal dan di akhir resepsi milad. (GJS/Foto:Medkom Ar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *