SOSIO RELIGI

 

Oleh Immawan Galih Arozak – komisariat Teknik UMY

 

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Oleh karena itu sudah sepantasnya Islam di Indonesia bisa memberi perubahan ataupun mengatasi berbagai masalah di negeri ini. Melihat keadaan yang sedang memanas akhir-akhir ini, tentunya terkait umat Islam yang sedang menjadi bahan perbincangan. Sebenarnya Islam bukanlah suatu ancaman seperti yang diboomingkan di media bahwa Islam itu radikal dan intoleran. Justru dengan adanya Islam sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia, negeri ini bisa bersatu dan merdeka. Coba saja lihat sejarah bagaimana Indonesia bisa merdeka. Tapi semua itu dilupakan, dibuatlah paradigma baru bahwa Islam itu radikal, intoleran, dan sebagainya.

Sudah 72 tahun Indonesia merdeka dan sudah belasan abad Islam masuk negeri ini, tapi nampaknya permasalahan masih banyak yang belum teratasi. Permasalahan di berbagai sektor masih sangat terasa dan perlu diatasi secepatnya. Dari sektor ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan sektor lainya masih terasa mengganjal. Seharusnya dengan umur negeri ini yang sudah puluhan tahun tidak ada lagi permasalahan di berbagai sektor seperti itu. Namun nampaknya kemerdekaan selama ini baru sekedar deklarasi dan konstitusi, sedangkan rakyatnya belum bisa dikatakan merdeka. Tak perlu saya jabarkan satu persatu permasalahan dari sektor-sektor tersebut, mungkin kebanyakan orang sudah tau bahkan merasakannya sendiri. Islam yang katanya sebagai solusi hidup juga belum berhasil sepenuhnya dalam mengatasi berbagai masalah tersebut. Perlu adanya kesadaran semua pihak untuk menjadikan negeri ini terbebas dari masalah-masalah yang ada. Karena jika saling menyalahkan dan hanya menunggu saja tidak akan mengurangi masalah, tapi justru menambah masalah. Kebijakan pemerintah dan dukungan rakyat harus saling berkesinambungan, dan maksimalisasi sektor-sektor yang sekiranya sudah berjalan sesuai fungsinya.

Islam sendiri sebenarnya telah menawarkan sebuah solusi dari berbagai masalah. Kitab suci Al Qur’an yang dipercaya umat muslim bukanlah solusi untuk umat muslim saja, melainkan untuk semua manusia. Islam Rahmatanlil’alamin, rahmat untuk seluruh alam tidak terkecuali walaupun itu non muslim. Jika sudah ada pegangan hidup yang bisa menjadi solusi. Mengapa masih banyak masalah belum teratasi ? Simpel saja, berarti solusi tersebut belum diterapkan, bahkan untuk dipelajari saja mungkin belum. Jika pedoman itu dipelajari betul dan diterapkan, bukan tidak mungkin berbagai masalah di negeri ini bisa teratasi secara perlahan. Islam itu luas tidak melulu soal agama yang terkesan sholat dan puasa saja, tapi juga hal-hal terkait sosial dibahas didalamnya. Bagaimana kita sebagai makhluk sosial, bahkan gerakan sosial dan penyelesaian permasalahan sosial juga dibahas Islam. Sekali lagi tergantung kita mempelajarinya. Sejauh mana kita belajar Islam, sejauh itu pula kita melangkah dalam kehidupan ini.

Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya “Islam Sebagai Ilmu” , ada 3 hal pengembangan Islam untuk menyikapi permasalahan sosial. Pertama pengilmuan Islam, sebagai proses keilmuan yang bergerak dari teks Al Qur’an menuju konteks sosial dan ekologis manusia. Kedua paradigma Islam, paradigma baru tentang ilmu-ilmu integralistik sebagai hasil penyatuan agama dan wahyu. Ketiga Islam sebagai ilmu, yang merupakan proses sekaligus hasil. Melalui 3 hal itu perlu adanya pengembangan ilmu-ilmu sosial profetik, yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana, untuk apa, dan oleh siapa suatu transformasi harus dilakukan. Sebenarnya yang menjadikan kebanyakan orang tak terkecuali orang Islam sendiri tidak bisa mengatasi masalah, tapi justru terjebak dalam suatu masalah adalah cara berfikir mereka yang sekuler. Mereka berfikiran bahwa urusan dunia ini tidak ada kaitannya dengan agama. Terus berusaha menyelesaikan masalah tapi melupakan agama yang sebenarnya merupakan solusi dari masalah tersebut. Sekeras apapun usahanya tidak akan berhasil karena tidak mau mengambil solusi yang jelas sudah ada di hadapanya. Ditambah lagi cara berfikir yang pragmatis, selalu ingin instan. Ukuran dari kebenaranya ialah apakah suatu kepercayaan dapat mengantarkan orang pada tujuanya. Pragmatis menolak pandangan tentang kebenaran kaum rasionalis dan idealis, karena pandangan mereka tidak berguna dalam kehidupan yang praktis. Dua cara berfikir itu yang membuat mereka jauh dari solusi yang telah ada. Sedangkan Islam tidak berfikiran seperti itu. Islam memandang kebenaran ialah apa saja yang datang dari tuhan, baik berguna atau tidak sekarang ini dalam kehidupan praktis.

Suatu langkah perlu diambil untuk mengatasi hal itu, mungkin beberapa solusi dari Kuntowijoyo bisa kita renungkan dan kita coba setidaknya untuk menyadarkan masyarakat Islam terlebih dahulu. Dalam Islam sudah ada Al Qur’an yang menjadi pedoman walaupun sering dilupakan. Banyak yang menganggap Al Qur’an itu subjektif hanya untuk orang Islam. Coba kita pelajari lebih dalam tentang apa yang ada didalamnya. Banyak solusi-solusi terkait permasalahan sosial, kita gunakan saja itu sebagai teori sosial. Jadikan agama sebagai ilmu, buat sifat subjektif agama menjadi sifat objektif. Kita punya pedoman hidup yang merupakan solusi, mengapa tidak digunakan ?
Kaitkan apa yang ada dalam Al Qur’an dengan kehidupan ini. Lihat segala sesuatu dari sudut pandang Islam, kebenaran ialah apa yang tertulis dalam Al Qur’an. Jika ada kebenaran tetapi berseberangan dengan Al Qur’an tinggalkan saja, sudah pasti itu kebenaran semu. Semua yang berseberangan dengan Al Qur’an maka tinggalkan, itu meminimalisir kita menambah permasalahan. Jika paradigma sudah terbentuk, maka agama sebagai solusi hidup itu bisa diterapkan. Selama umat muslim bisa menerapkan Islam sebagai ilmu dengan sungguh-sungguh maka segala sesuatu bisa teratasi, bahkan terobosan dan inovasi mucul sejalan dengan paradigma itu. Seiring berjalannya waktu “Islam sebagai ilmu” menjadi objektif dengan dibuktikannya penyelesaian masalah dan terobosan baru hasil dari pemikiran agama.

Berbicara gerakan sosial Islam, sedikit mengutip dari ( Zuly Qodir, 2008 ). “Gerakan sosial Islam merupakan jalan alternatif menghadirkan Islam pada realitas untuk menjawab problem-problem sosial yang terjadi.” Lebih luas tentang gerakan sosial Islam, menjawab problem-problem yang terjadi tidak hanya merespon hal yang telah terjadi, tapi juga menciptakan suatu hal baru untuk kepentingan sosial. Sebenarnya Islam telah banyak menyumbang buah pemikiran yang bisa dirasakan bersama saat ini. Beberapa abad lalu banyak cendekiawan, ilmuan, dan filsuf muslim yang berjasa pemikirannya tetapi hilang ditelan sejarah. Anak sekolah hanya tahu tokoh-tokoh modern yang ada di buku pelajaranya, padahal jauh sebelum itu banyak tokoh muslim yang pemikiranya lebih hebat. Jika beberapa abad belakangan Islam telah berjasa bagi peradaban manusia, bagaimana Islam saai ini ?
Tugas kita tak kalah beratnya dengan tokoh-tokoh muslim dahulu. Di zaman modern ini kita juga tak mudah bersaing dengan teknologi dan manusia yang notabene berfikiran pragmatis dan materialis.

Segala hal yang bertujuan untuk kepentingan umat bisa dikatakan sebagai gerakan sosial Islam. Dengan demikian banyak yang bisa kita lakukan sebagai umat muslim sesuai tuntunan Al Qur’an dan sunnah. Bagaimana sikap kita terhadap keadaan masyarakat yang notabene ekonomi menengah kebawah dan perlu bantuan. Maka dari itu Islam tidak sekedar dipandang dari sholat dan puasa saja, tapi implementasi dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Respon akan ketertindasan dan pembebasan merupakan suatu ibadah jika ikhlas dalam melakukannya. Jadi ibadah tidak se-sederhana sholat dan puasa saja, gerakan sosial pun menjadi ibadah jika niat kita bergerak untuk kemaslahatan umat. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan, jadikan gerakan sosialmu menjadi nilai ibadah di setiap momentum.

Tagged with:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *