Milad  IMM ke 53: Membumikan Nilai Kemanusiaan Dan Meminimalisir Kesenjangan Sosial di DIY

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (1 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Bantul, Yogyakata- Pimpinan Cabang Ar. Fakhruddin membuka Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke 53 dengan menggelar Tabligh Akbar yang dibuka oleh Imam Mahdi selaku DPP IMM DIY. “Gerakan Islam dalam Kemiskinan” menjadi tema kajian yang dipantik oleh Ustadz Anton Ismunanto, S.Pd.I yang bertempat di Lantai 1 Masjid KH. Ahmad Dahlan, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta pada Rabu 1 Maret 2017.

Sedikitnya kader IMM Ar. Fakhruddin yang turut hadir dalam pembukaan Milad IMM kali ini tentu sangat disayangkan namun, tidak menjadi alasan tersendatnya acara ini.

Imam Mahdi menyambut baik kegiatan perlombaan yang turut menyemarakkan Milad IMM ke 53 ini, “Bagus, karena kita tidak bisa menjadi intelektual secara individual, kadang-kadang kita butuh kompetisi untuk menunjukkan kapasitas kemampuan kita” tutur Imam.

Bertajuk Membumikan Nilai Kemanusiaan Sebagai Ruh Gerakan Melawan Kesenjangan Sosial di Yogyakarta pada Milad IMM ke 53 ini, Imam berpendapat pemilihan tema yang bagus guna dapat mengungkapkan sisi manusiawi  mahasiswa, masyarakat ataupun pemerintah yang kini terlihat sudah tidak memiliki sisi manusiawi. Ditambah mengenai kesenjangan sosial yang begitu nampak “Bahkan penelitian menunjukkan bahwa 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan pendapatan 100.000.000 orang Indonesia” ungkap Imam dari buku yag dia baca. Inilah alasan mengapa kemiskinan dan kesenjangan sosial menjadi domain yang tidak selesai.

Affan Qolbi selaku Ketua Umum Pimpinan Cabang Ar. Fakhruddin menambahkan bahwa tujuan mengangkat tema ini guna meminimalisir dan menyadarkan kesenjangan sosial di D.I Yogyakarta. Juga upaya menanamkan sikap memanusiakan manusia atas dampak kesejangan sosial ini.

“Milad ini bukan hanya sekedar seremonial, namun mesti ada upaya-upaya kedepannya , seperti Pimpinan Cabang Ar. Fakhruddin mencetuskan gerakan melalui komunitas yakni Sosial Care Community atau komunitas peduli sosial. Gerakannya melalui skala kecil terlebih dahulu seperti pendampingan kepada panti asuhan di sekitar Kota Yogya dengan mengembangkan skill seprti beternak, ataupun disesuaikan dengan situasi dan kondisi panti asuhan, guna melatih kemandiran ekonomi” jelas Qolbi diakhir wawancara.
Oleh : Tim Pers Komunitas Titik Nol (Gustin, Novi dan Abi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *