Dimana posisi Tuhan saat manusia berada di jalan hidup baik ataupun buruk ?

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (0 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Oleh : Mutahharah Rahman – komisariat fakultas agama islam  UMY

Fitrah manusia adalah salah satu wujud dari sifat Tuhan itu sendiri, yang segalanya mengarah pada hal-hal yang baik. Ketika manusia tetap pada  fitrahnya, niscaya ia adalah makhluk yang suci, cinta pedamaian, menghindari permusuhan dan senantiasa mengarah kepada hal yang baik yang membawanya dekat kepada Tuhannnya. Mengapa? Sebab sifat Tuhan yang begerak dalam dirinya. Sama halnya ketika manusia menjadi kotor, gemar menyulut permusuhan, terpukau pada kemilau dunia, maka dikatakan ia telah keluar dari fitrahnya. Sifat Tuhan tidak bergerak dalam jiwa raganya. Secara umum, orang-orang akan menjawab bahwa hal yang menyebabkan seseorang tetap pada fitrahnya atau yang menyebabkan ia keluar dari fitrahnya tergantung pada pilihannya. Sebab manusia telah dianugrahkan hak pilih oleh Allah SWT. Namun bukankah ada sebuah konsep wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir? Yang bermakna “Allah berkuasa atas segala sesuatu” ? Mungkinkah hak pilih itu hanya omong kosong belaka sebab toh dengan konsep wa huwaa ‘alaa kulli syai’in qadiir, Allah SWT juga punya kuasa untuk menyetir arah pilihan seorang manusia. Di sinikah posisi Allah SWT saat manusia akan menjadi baik atau buruk? Sopankah jika harus mengatakan bahwa Allah swt pilih kasih terhadap hamba-Nya? Hanya memilih hamba-hamba tertentu untuk berada di jalan yang lurus ? Oh tentu tidak. Allah ada zat Yang Maha Adil. Maka harusnya ada penjelasan siapa sajakah golongan tersebut. Atau jika hak pilih itu adalah anugrah Allah kepada manusia sebagai makhluk istimewa yang berakal, apakah hak pilih itu kemudian meniadakan kekuasaan Allah swt ? Meniadakan konsep bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu ?

Ada tiga konsep yang perlu dipahami. 1. Bahwa Allah swt menghendaki sekaligus meridhai perbuatan hamba-Nya, 2. Bahwa Allah swt hanya menghendaki tapi tidak meridhai, 3. Bahwa Allah swt meridhai semata, namun tidak menhendakinya.

Saat manusia berada pada posisi fitrahnya dengan cara yang ia inginkan, maka Allah swt berkehendak serta ridha terhadap apa yang dilakukannya. Sebutlah namanya Salman. Salman adalah anak yang cerdas dan dewasa. Salman bercita-cita ingin menjadi seorang insinyur seperti Habibi. Oleh karena saat masuk SMA, ia memilih sekolah di sebuah SMA unggulan di Bandung. Perencanaan terhadap impiannya sudah ia siapkan sebaik mungkin. Salah satunya dengan melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Bandung yakni Institut Tekhnologi Bandung (ITB). Dan semua berjalan sesuai rencana. Salman ingin menciptakan sebuah Mesin multifungsi dan dengan kebijaksanaannya ia bercita-cita ingin menciptakan sebuah mesin yang dapat dijangkau oleh semua kalangan. Ia kelak akan menamakan penemuannya itu dengan sebutan Mesin Sejuta Ummat. Inilah Salman, Allah swt menghendaki dan meridhai apa yang ia hendak ingin capai dan apa yang ia lakukan terhadap impiannya.

Ketika manusia tidak berada pada fitrahnya. Ia akan menjadi seorang manusia pembangkang, tidak melaksanakan perintah Allah juga tak mengindahkan larangan-larangan-Nya, maka dalam situasi ini Allah menghendaki apa yang diperbuatnya, namun jauh dari keridhaan-Nya. Sejatinya setiap manusia yang hendak berbelok dari fitrahnya, maka ia akan melewati sebuah pergolakan batin yang finalnya akan ditentukan dengan penggunaan hak pilihnya. Jiwanya akan berperang antara fitrah dan nafsu buruknya. Ketika ia berbelok, maka nafsu menang atas dirinya. Hak pilihnya jatuh pada nafsu buruk tersebut. Dengan tanggung jawab Allah atas penciptaan Hak Pilih itu, maka Allah hanya menghendaki apa yang telah ia putuskan itu, tapi tidak meridhainya..

Konsep terakhir adalah yang sangat lumrah terjadi. Ketika manusia tetap pada fitrahnya, namun dengan jalan yang tidak diinginkannya bahkan tidak disukainya atau bahkan tak pernah sama sekali terbayang dalam benaknya. Saat inilah di mana Tuhan tidak berkehendak terhadap cara yang diinginkannya namun meridhai apa yang hendak ia capai atau miliki. Fatih adalah seorang pemuda jebolah Madinah. Sebelumnya, ia adalah seorang santri di salah satu pondok pesantren terkemuka di Sulawesi Selatan. Selain itu, Fatih juga merupakan anak dari salah seorang pengusaha besar didaerahnya. Saat umurnya dirasa sudah cukup, ia berniat mempersunting seorang gadis dan gadis yang diidamkannya itu adalah seorang hafidzah seperti dirinya dan juga telah mendalami ilmu agama sebagaimana apa yang telah ia lalui selama masa pendidikannya dari pesantren hingga ke Madinah. Mengapa harus demikian? Sebab ia bercita-cita mendirikan sebuah pesantren yang besar bersama istrinya tercinta. Ia beranggapan jika kedua pihak dari pasangan memiliki background yang sama, maka impian itu tidak sulit untuk diwujudkan. Gadis yang dimaksud pun tidak jauh-jauh yang mana adalah kenalan ayahnya, anak seorang kiyai. Namun impian itu tinggalah sebuah kenangan, takdir berkata lain. Sebab tidak berselang lama, datang serombongan keluarga ke rumah Fatih dengan membawa gadis nan cantik jelita, cerdas, keturunannya baik, memiliki harta yang banyak dan juga seorang gadis yang dikenal baik oleh kalangannya. Hanya saja ia bukan seorang Hafidzah dan ilmu agamanya juga bukan seperti yang telah dirancang oleh Fatih. Kebingungan melanda. Akan tetapi Fatih bukanlah seorang yang fakir ilmu, sebab ia memahami tata cara memilih jodoh sesuai tuntunan islam ialah melihat dari agama, harta, tahta dan parasnya. Melihat gadis yang telah datang kerumahnya itu, maka tidak adalah alasan baginya untuk menolak. Mengingat gadis yang berniat ingin dipinangnya juga belum ada kejelasan atau sekedar memberi sinyal baik dari pihak si gadis ataupun keluarganya apakah akan menerima atau menolak. Bersandar pula bahwa kebaikan harus disegerakan maka dengan mengucap bismillahirrahmanirrahimm, Fatih pun menerima dan melamar gadis tersebut. Allah tidak berkehendak seorang Fatih bersanding dengan gadis yang dipilihnya, namun Allah meridhai Ia untuk membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahman serta mewujudkan impiannya mendirikan pessantren, namun dengan gadis yang dipilihkan Allah. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang paling baik untuk hamba-Nya. Akan tetapi ini bukan Allah dengan begitu saja menentukan titik perkaranya melainkan Fatih telah beristikharah dan saat itulah ia melewari sebuah perang batin antara fitrah dan nafsu. Dan keputusan akhir yang diambilnya adalah hasil dari penggunaan hak pilihnya.

Manusia adalah tokoh yang menentukan arah hak pilih tersebut. Tugas Allah adalah menghendaki segala keputusan yang dipilih hamba-Nya tersebut. Inilah konsep وهوعلى كل شئ قد ير , sebab jika Allah tidak berkehendak tidak bakal jadi juga. Siapa sajakah golongan yang dikehendaki Allah berada dijalan yang lurus? Adalah orang yang mendaratkan hak pilihnya pada fitrah kemanusiaannya. Apakah hak pilih itu meniadakan kekuasaan Allah swt ? Yang dengan sendirinya tidak memberlakukan konsep وهوعلى كل شئ قد ير.? Dalam setiap tindakan manusia, apakah itu ketika Allah swt menghendaki dan meridhainya, menghendaki semata atau hanya meridhai, manusia akan selalu melewati sebuah perang yang dinamakan pergolakan bathin. Ketika fitrah kalah dari nafsu, itu bukan kalah seperti makna kalah yang dipahami manusia dengan keterbatasan akalnya. Melainkan dalam perisitwa menangnya nafsu inilah bentuk tanggungjawab Allah swt yang telah menciptakan hak pilih itu kepada manusia. Itulah konsep wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir. Berkuasa mengendalikan segala ciptaan-Nya, bertanggungjawab baik itu dengan memberikan akomodasi kehidupan hingga mengakui keberadaannya. Jadi posisi Allah saat manusia menentukan pilihan adalah dalam wujud fitrah itu sendiri.

Tagged with:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *