Tantangan dan Peluang Mahasiswa Teknik dalam Organisasi Mahasiswa

Disclaimer : Tulisan ini di buat berdasarkan studi kasus dari tempat penulis berstudi.

Oleh: Muhammad Hanif

Kader IMM Komisariat  Fakultas Teknik 2013 UMY

Sebagai mahasiswa teknik, mungkin sudah biasa menjalani rutinitas perkuliahan yang tidak hanya menekankan pada nilai kognitif tapi juga nilai psikomotor dalam bentuk praktikum. Rutinitas itu berulang secara padat seolah tidak ada waktu selain menghadiri kuliah, praktikum dan menyelesaikan laporan praktikum. Saya membayangkan sistem perkuliahan ini tidak berbeda dari sistem pemrosesan komoditi dalam pabrik-pabrik. Misalnya, dalam pabrik pembuatan kopi, dimulai dengan pemilihan biji kopi, lalu masuk ke dalam tahap pemrosesan, tahap quality control , dan hanya yang lolos quality control yang siap untuk dikemas dan dikirim. Ya mungkin seperti itulah realitas dan iklim dunia perkuliahan saat ini.

Hal ini diperparah lagi dengan beberapa faktor yang menyebabkan semakin lemahnya semangat untuk berkreatifitas dan berorganisasi di kalangan mahasiswa teknik. Faktor pertama adalah perkuliahan yang lebih padat dari mahasiswa-mahasiswa fakultas lain karena selain ada mata kuliah yang bersifat kognitif atau mata kuliah dalam kelas, ada juga mata kuliah luar kelas berupa praktikum, dimana praktikum ini bersifat wajib dan ada penugasan pembuatan laporan hasil praktikum.

Faktor kedua adalah masih terkait dengan sistem pendidikan. Kalau faktor pertama adalah terkait hardware atau praksis dari sistem pendidikan,  faktor kedua ini adalah terkait software nya. Dalam dunia perkuliahan kita selalu diutamakan untuk memiliki kemampuan teknis. Seolah hanya itu yang penting. Kita dalam kelas selalu dididik bagaimana menjadi seorang insinyur yang professional. Bahkan lebih parahnya lagi selalu diartikan seorang pekerja professional adalah seseorang yang mampu menghasilkan uang banyak dari kemampuan teknis yang dimilikinya serta ditambah doktrin untuk bekerjalah di perusahaan-perusahaan multinasional. Entah perusahaan multinasional itu membawa untung atau rugi bagi negara, bagi masyarakat sekitarnya, yang penting gaji menggunakan kurs dollar amerika. Hal ini menyebabkan mahasiswa hanya mementingkan skill bukan ilmunya. Bahkan salah satu dosen saya pernah bilang “gak terlalu penting kamu paham teorinya yang penting bisa pake teorinya”. Inilah menyebabkan jarang sekali ada pembahasan yang mendalam terkait satu mata kuliah. Bahkan ada mata kuliah yang dalam empat belas kali pertemuan membahas empat belas bab dengan teori yang berbeda tiap pertemuan. Seolah tidak penting seorang mahasiswa mengerti ilmu yang mendasari ilmu terapan yang dipelajarinya. Mungkin dari perspektif kita sebagai komoditi yang nantinya akan dipos-poskan kedalam mesin-mesin produksi ini memang benar. Tidak penting bisa memahami ilmu, yang penting kelak ilmunya bermanfaat. Namun dari perspektif sistem pendidikan saya rasa ini tidak sehat. Karena bukankah tujuan pendidikan adalah memperoleh ilmu?

Saya sering membandingkan textbook kuliah Indonesia dengan textbook edisi luar negeri. Perbedaan yang mencolok adalah pada textbook  Indonesia seringkali hanya terfokus pada aplikatif dari rumus ataupun dari teori-teori yang ada. Misalnya tidak penting menjelaskan kenapa arah perjalanan elektron bisa berlawanan dari arah arus pada sebuah rangkaian dan penjelasan hanya berfokus pada aplikasi dari hukum kirchoff. Pendidikan seperti ini meminimalkan potensi kreatif mahasiswa. Karena dalam segala proses kreatif yang terpenting adalah memahami dasar dan sebab dari sebuah proses.

Dari faktor kedua tadi lahirlah faktor ketiga, pemisahan (dikotomi) antar ilmu.  Karena masih minimnya bahan referensi penulis (bacaan dan lain lainya) dan supaya tetap terfokus pada tema, maka faktor ini belum akan dibahas secara detail. Sekarang ini dikotomi sudah bukan lagi hanya sebatas eksakta sosial ataupun fakultatif namun sudah sampai level jurusanitatif atau “pokoknya ilmu tentang jurusan saya yang penting”. Mahasiswa elektro misalnya, terkesan aneh jika mempelajari tentang geologi atau tanah, apalagi tentang ilmu eksakta lain seperti pertanian, dan terlebih lagi ketika mempelajari ilmu-ilmu sosial.  Ini sebenarnya termasuk efek dari faktor kedua dan juga dari kurikulum yang ada (terutama di kampus penulis). Kurikulum dan proses perkuliahan inilah yang menjadi rancang bangun pembentukan mahasiswa atau layaknya algoritma yang disematkan dalam mesin-mesin pabrik yang menentukan urutan-urutan proses.

Dikotomi ini tidak hanya mempengaruhi proses seorang mahasiswa dalam perkuliahan saja. Tidak lantas hanya membagi antara mahasiswa yang mau aktif organisasi dan mahasiswa yang tidak. Namun lebih jauh, dikotomi ini mempengaruhi juga pola pikir mahasiswa teknik yang menjadi aktivis atau anggota sebuah organisasi mahasiswa. Seringkali seseorang yang aktif dalam organisasi mahasiswa memberi batasan-batasan tertentu yang akhirnya menganggap yang berseberangan paham denganya atau yang sekadar kuliah pulang adalah mahasiswa apatis. Anggapan seperti ini mungkin benar, mungkin tidak, namun yang paling penting adalah organisasi mahasiswa yang memiliki basis mahasiswa teknik melakukan otokritik. Karena sebenarnya sikap yang mereka lakukan juga merupakan sikap apatis, hanya objek keapatisanya yang berbeda. Seringkali organisasi mahasiswa memisahkan mana aktifitas akademik, mana aktifitas organisasi, dengan batas pemisah yang sangat tegas, seolah tidak ada titik temu antara akademik dengan organisasi. Dengan sikap seperti ini bisa dibilang organisasi mahasiswa pun bersifat apatis, atau tidak kenal dengan identitas dirinya. Organisasi Mahasiswa dengan basis massa mahasiswa teknik seharusnya mampu memadukan antara aktfifitas organisasi dengan ilmu akademiknya sehingga tidak kehilangan perannya sebagai social force dengan mengkaji mendalam problematika bangsa terkait keteknikan dan juga tidak kehilangan identitasnya sebagai seorang mahasiswa teknik.
Memang susah membayangkan seseorang memiliki kemampuan dalam keduanya sekaligus, memiliki kemampuan organisatoris serta memahami identitas organisasinya dan sekaligus memiliki pemahaman yang mendalam tentang bidang studinya. Yang memungkinkan untuk dilakukan adalah melakukan peran organisasi mahasiswa sebagai penggerak atau organisator massa selain juga melakukan klasifikasi kader atau anggota nya. Kita ibaratkan sebuah organisasi adalah sebuah atom yang juga memiliki karakteristik yang mirip sebuah atom.

Layaknya sebuah atom, bagian inti adalah bagian yang benar-benar unsur utama dan tidak akan berubah dari sebuah atom. Meskipun bersifat statis namun inti atom menghasilkan gaya tarik yang menyebabkan elektron- elektron tetap pada lintasanya. Begitupun seorang anggota inti atau dalam beberapa kasus sebut saja pimpinan organisasi, ia menjadi dan memahami karakteristik serta identitasnya sehingga mampu menjadi pengatur ritme organisasi. Di bagian tengah adalah elektron-elektron yang masih terikat kuat dengan inti namun menentukan dalam pergerakan-pergerakan yang ada. Bisa dibilang ini adalah seorang anggota, yang secara aktif bergerak melalui lintasan-lintasan yang dibentuk oleh inti. Terakhir adalah elektron valensi atau elektron pada lintasan terluar. Meski berada pada kulit terluar sebenarnya kulit ini adalah kulit terpenting karena disitulah pergerakan sebenarnya terjadi. Atom-atom bisa berikatan karena elektron-elektron valensi ini. Kulit terluar bisa melepas atau menerima elektron tergantung reaksi kimia yang diperlukan. Inilah faktor penting yang menurut pandangan saya sering dilupakan, utamanya oleh organisasi mahasiswa, terkhusus yang berbasis di teknik, yaitu massa dan simpatisan.

Kita seringkali sibuk menyalahkan massa dan melakukan labeling ditambah yang lebih parah adalah mendikotomikan diri. Seolah ketika seorang mahasiswa teknik sedang berorganisasi maka dia sedang melepaskan sejenak identitasnya dan terciptalah manusia organisatoris dan manusia apatis menurut pandangan si mahasiswa. Namun hal terpenting adalah bukan untuk mencetak seorang yang ahli dalam keduanya. Namun bisa memanfaatkan dan memosisikan anggota sesuai peran nya, anggota yang memang memiliki kemampuan di bidang akademis maka diberikan ruang untuk bergerak dengan kemampuanya, selain juga tidak melupakan massa.

Demikianlah kiranya tulisan yang masih kering dan kurang akan referensi ini, dan sekali lagi, semoga fenomena fenomena tentang perkuliahan ini cuma terjadi di kampus penulis.

Tagged with:

1 thought on “Tantangan dan Peluang Mahasiswa Teknik dalam Organisasi Mahasiswa”

  • Well, semua itu memang benar mari merubah kebiasaan buruk diatas dari diri sendiri, mari berorganisasi, walaupun organisasi bikin kuliah keteteran dan tugas kuliah menumpuk, tapi yakin kita pasti dapet softskillnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *