Pertunjukan dan Generasi yang Asyik

Sukai Tulisan


Sukai Tulisan (0 pengunjung menyukai tulisan ini. )


Loading...

Oleh: Immawan “Elamiobo”

Dunia adalah pentas kehidupan dimana berbagai macam pertunjukan dan pesta terus berkembang serta merajarela di kehidupan yang sangat postmodern ini, dunia ini penuh sesak terhadap keadaan yang super huru-hara. Atmosfer yang berisikan isu kesenangan semata. Pentas kehidupan, di mulai dari kesepian yang berhasrat mencari keramaian untuk mendapat kesenangan. Dunia yang seperti tak mengenal dimensi sosial dan struktur. Teknologi yang terus berkembang dan bertaburan, seakan manusia disuguhi dan dipaksakan untuk meladeninya. Tak terkira, rasa kepuasan di luar batas telah menjadi motto bersama. Kesenangan yang seolah menjadi tujuan hidup ternyata menjadi kejahatan yang baru. Karena telah merenggut rasionalitas kehidupan manusia, yang seharusnya dalam keadaan sadar.

Belajar dari seorang tokoh sosial kontemporer, Bung Jean Baudrillard, beliau pernah berujar, “keadaan manusia sekarang yang menjadi hasrat kebutuhan tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan, melainkan kebutuhan untuk dikonsumsi bukanlah menjadikan sesuatu kebutuhan, seolah konsumsi sekarang telah menjelma menjadi profesi baru. Kebutuhan manusia di dunia yang  postmodern ini sudah melampaui batas rasionalitasnya, dan seolah kebutuhan yang rasional telah menjadi irasional. Ada apa gerangan dengan semua ini?”. Sebuah pertanyaan yang harus dilontarkan keseluruh sudut ruangan .

Manusia tampaknya berubah menjadi robot yang tak terasa telah dikendalikan dengan remote realitas dengan kemegahan dan kesenangan. Keadaan sadar atau tidak, manusia telah dijadikan budak oleh dirinya sendiri. Tokoh sosial lain yaitu Hebber Marcuse bergelisah dengan pikirannya bahwa, “Pengekangan yang nyata pada saat ini adalah kebebasan itu sendiri”, karena seolah manusia merasa bebas hingga meraka lupa siapa dirinya. Penyuguhan pentas yang ada di dunia  menjadi pertunjukan yang akan selesai di akhir episode. Tak sadar seolah kita terhipnotis dengan hingar-bingar realitas di sekitar kita.

Keadan sosial yang begitu banyak  problemnya hanya dijadikan suatu pertunjukan atau pentas pembicaraan, seakan-akan menjadi ajang pencarian, siapa yang paling baik. Tanpa sadar, kita seperti terhindar oleh keadaan tersebut dan tak menyadarinya, sebuah keadaan sosial yang semakin kacau dan sulit. Kesadaran diri penting  agar kita dapat membaca kehidupan  global yang semakin tak nyata. Apakah kita pernah berpikir tentang keadaan dan realitas yang ada? kurasa sedikit. Oleh karena itu, entahlah apabila keadaaan budaya lokal akan terkikis oleh waktu dan zaman, keadaan budaya yang begitu luhur seperti telah terampas oleh generasinya, karena keadaan generasi hanya bisa menonton dan menyaksikan. Budaya lokal sudah dirampas oleh keaadan ini, tetapi tetap saja, generasi hari ini hanya bertindak sebagai penonton , lalu berkomentar seperti sedang asik menyaksikan acara di layar televisi.

Generasi yang sadar akan kultur budaya akan terus belajar dan mempelajari, bukan hanya sekedar menonton dan menyaksikan. Pentas yang berdasarkan panggung kehidupan ini telah merenggut kita dari alam kesadaran manusia sendiri. Segalanya seperti terbalik dan tak masuk akal juga berjalan sendiri-sendiri. Ingatlah bahwa situasi macam panggung sandiwara kehidupan ini, tentu ada sutradara dibalik tirai, maka kita perlu cerdas dalam bergerak . Generasi yang keok dengan teknologinya, terhimpit oleh pikiran nafsunya, haus akan eksistensinya, serta telah menggadaikan dirinya untuk menjadi penonton bayaran. Itulah  generasi kita, generasi bangsa yang terus disogok oleh kesenangan semata.

Tagged with:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *